Saturday

Anak dan Kemenakan

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Robert Anak Surapati, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Anak dan Kemenakan. Novel yang sengaja kami masukkan kedalam daftar kumpulan Novel ini, agar bisa menambah wawasan dan pengetahuan anda, juga menambah referensi anda dalam membacaSelamat membaca sahabat.

Pengarang    : Marah Rusli
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun           : 1956

Sinopsis Novel - Ringkasan Novel

     Pada mulanya, hubungan Yatim dengan Puti Bidasari, sepupunya layaknya sebagai hubungan kasih antara kakak adik, begitu juga sebaliknya. Keduanya dibesarkan dalam satu rumah oleh Sutan Alam Sah dan Siti Mariama, orang tua Yatim –yang bagi Puti bidasari sebagai paman dan bibinya-. “Sutan Alam Sah adalah seorang bangsawan yang menjabat Hopjaksa di kota padan.. yang dihormati karena budi pekertinya yang baik… (hlm. 15).

     Istrinya, Siti Mariama … seorang perempuan Padang yang telah mendapatkan pendidikan sekolah (hlm. 15). Memang, sejak kecil Puti Bidasari dipelihara oleh orang tua Yatim untuk menghindarkan bala yang mungkin menimpa Sutan Baheram dan Puti Renosari, orang tua Puti Bidasari, yang sudah dua kali dikaruniai anak dan keduanya meninggal. Akan tetapi, Yatim –yang baru menyelesaikan pendidikan di sekolah Hukum Tinggi di Belanda dan bergelar master itu- lama-kelamaan mencintai Puti Bidasari. Demikian juga sebaliknya. Percintaan yang ‘lain’ itu diketahui oleh Sutan Alam Sah dan istrinya. Kemudian, mereka sepakat untuk menikahkan kedua anak itu.
Baginda Mais, orang kaya di Padang, rupanya ingin juga bermenantukan Yatim. Untuk mewujudkan keinginannya, ia menemui Sutan Alam Sah. Namun sayang, keinginannya ditolak karena Sutan Alam Sah telah lebih dulu sepakat untuk menikahkan Yatim dengan Puti Bidasari. Baginda Mais kemudian menemui orang tua Puti Bidasari, yaitu Sutan Baheram dan Puti Renosari.

     Baginda Mais menceritakan pertemuannya dengan Sutan Alam Sah. Sutan Baheram dan istrinya terkejut mendengar penuturan itu karena Sutan Alam Sah tidak merundingkan terlebih dahulu dengan mereka yang jelas orang tua Puti Bidasari. Puti Renosari merasa dilangkahi adiknya. Selain itu, ia memang tidak setuju bila anaknya dinikahkan dengan Yatim. Oleh karena itu, ia menerima saran Sutan Baginda Mais untuk menikahkan anaknya dengan Sutan Malik, kemenakan Sutan Pamenan (hlm. 51), dan Yatim dengan Siti Nurmala, anak Baginda Mais. Semua biaya ditanggung Baginda Mais.

     Sutan Baheram dan Puti Renosari yang merasa disepelekan mendatangi adiknya dan menyuruhnya membatalkan rencana pernikahan itu. Dalam marahnya, ia mengungkapkan semua hal ihwal Yatim. Ternyata, Yatim bukan anak kandung Sutan Alam Sah, melainkan anak Malim Batuah, tukang pedati. Anaknya dinikahkan dengan yang bangsawan. “Aku tak suka anakku dikawinkan dengan Yatim,” kata Puti Renosari dengan pendek dan tegasnya. (hlm. 57). Yatim dan Puti Bidasari yang kebetulan mendengarkan percakapan itu, sangat terkejut. Mereka tidak menyangka dengan kenyataan yang baru mereka dengar. Oleh karena Yatim tidak ingin menyeret Puti Bidasari ke lumpur kehinaan akibat tingkat sosial yang berbeda dan Puti Bidasari harus mematuhi keinginan orang tuanya, mereka terpaksa berpisah dengan memendam perasaan masing-masing.

     Pernikahan antara Yatim dengan Siti Nurmala dan Sutan Malik dengan Puti Bidasari mendekati kenyataan. Namun, Yatim kian hari kian tak menentu. Di satu pihak, ia tak mau beristrikan Siti Nurmala yang sebenarnya kekasih Dr. Azis, sahabatnya. Di pihak lain, ia haru memenuhi keinginan ayahnya agar ia tetap menikah dengan Siti Nurmala, demi sekadar membela kehormatan ayahnya.

     Beruntunglah, pernikahan itu ternyata mengalami kegagalan, berkat usaha Dr. Azis yang menguraikan bukti-bukti kejahatan Sutan Malik terhadap Sutan Pamean, mamaknya sendiri. Ternyata, Sutan Malik telah membunuh anak mamaknya itu yang bernama Marah Udin, sesaat sebelum ijab qabul dilaksanakan. Pernikahan Siti Nurmala sendiri tetap dilangsungkan, tetapi tidak dapat menikahi Puti Bidasari karena Puti Renosari tidak mau bermenantukan orang yang bukan bangsawan.
     Pada suatu ketika, datanglah Sutan Ali Akbar beserta keluarganya dari Indrapura yang ingin mencari kakaknya yang telah sekian lama berpisah dengannya. Mereka menginap di rumah Sutan Alam Sah.

     Sewaktu mereka bercakap-cakap, Sutan Ali Akbar secara tak sengaja melihat cincin emas yang dipakai Yatim. Ternyata, cincin emas itu sama persis dengan yang dipakai Sutan Ali Akbar. “Sutan Alam Sah lalu menceritakan keadaan Mr. Yatim, bahwa dia bukanlah anak kandungnya, melainkan anak angkatnya yang dipungut dari seorang tukang pedati.” (hlm. 199). Dari situlah Sutan Ali Akbar mendapat titik terang akan jejak kakaknya yang hilang. Dicarinya asal-muasal Yatim beserta cincinnya.
     Diketahui bahwa sebenarnya Yatim adalah cucu Sutan Ali Rasyid, kakak Sutan Ali Akbar. Ibu Yatim sendiri, Puti Nuriah, meninggalkan istrinya tanpa alasan yang jelas. Setelah mengetahui asal-usul Yatim, akhirnya Yatim dapat menikah dengan Puti Bidasari. Mereka kemudian meninggalkan Padang dengan kekecewaan karena masyarakat dan negerinya masih memelihara adat using. Mereka menuju Jakarta.

     “Setelah keluarlah sekalian orang yang cerdik pandai dari Padang ini, tinggallah yang tua-tua yang masih kukuh memegang adat-istiadat kuno negerinya. Kepada merekalah terserah untung nasib bangsa dan negeri Padang ini. Apa yang dapat diperbuat mereka dan ke mana akhirnya akan dibawa mereka bangsa dan negaranya, Tuhan saja yang akan tahu. Hanya yang terang dan nyata keadaan disini terus begitu, kerusakan dan kebinasaan juga akan menjadi nasib negeri ini,” (hlm. 264). Itulah pesan sahabatnya, Dr. Azis, mengiringi kepergian Mr. Yatim dan Puti Bidasari, hanya karena keangkuhan golongan tua.

Resensi Novel - Tentang Novel

                                                                         ***

     Seperti juga Sitti Nurbaya, novel ketiga Marah Rusli Anak dan Kemenakan ini lebih banyak menyoroti soal perkawinan dalam hubungannya dengan adat. Dilihat dari konflik antara golongan tua dan muda, novel ini boleh dikatakan selangkah lebih maju. Jika dalam Sitti Nurbaya, golongan muda (Sitti Nurbaya dan Samsul bahri) akhirnya mati, dalam Anak dan Kemenakan ini, golongan muda (Yatim, Puti, Dr. Azis, dan Siti Nurmala), terpaksa mengalah pada golongan tua dengan pergi meninggalkan Padang. Bahkan, di akhir cerita itu pula tampak jelas kritiknya terhadap keangkuhan golongan tua.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top