Tuesday

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck



Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Novel Di Bawah Lindungan Kabah, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck . Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Hamka
Penerbit       : Bulan Bintang
Tahun           : 1939; Cetakan XVIII, 1986


      Hasrat Zainuddin untuk melihat kampung halamannya, desa Batipuh di Minangkabau, akhirnya sampai juga setelah Mak Base –orang tua angkatnya di Mengkasar- meluluskan permintaan pemuda yatim piatu itu. Dahulu, di desa Batipuh, dekat Padang Panjang itulah ayah Zainuddin –pendekar Sutan- terpaksa membunuh Datuk Mantari Labih. Datuk Mantari Labih adalah mamaknya yang berusaha mengangkangi harta warisan Pendekar Sutan. Akibatnya, Pendekar Sutan dibuang dari tanah leluhurnya hingga terdampar di Mengkasar dan kawin dengan Daeng Habibah, putri seorang penyebar agama islam keturunan Melayu. Dari perkawinan itu lahir Zainuddin. Setelah kedua orang tua Zainuddin meninggal, Mak Base-lah yang kemudian mengasuh dan menjadi ibu angkatnya sampai ia besar.

      Kini, Zainuddin merasakan betapa adat Minangkabau telah memvonis tidak adil terhadap dirinya. Ia dianggap sebagai orang asing karena lahir dari seorang ibu yang bukan keturunan ninik-mamaknya. Ketidakadilan itu pun makin terasa sebagai hukuman ketika hubungannya dengan Hayati harus putus, dan seperti hal yang dialami oleh ayahnya dahulu: ia diusir dari tanah leluhurnya! Pemuda itu terpaksa hijrah ke Padang Panjang. Sungguhpun demikian, hubungannya dengan Hayati masih tetap berlanjut. Surat cinta Batipuh-Padang Panjang menjadi bukti kesetiaan cinta mereka.

      Suatu saat, Hayati datang ke Padang Panjang bermaksud melihat Pasar Malam di sana. Ia menginap di rumah sahabatnya, Khadijah. Zainuddin tentu saja diberi tahu perihal maksud Hayati. Satu peluang untuk melepas rasa rindu, terbayang pula dihadapan mereka. Namun, semua itu tinggal harapan. Ada pihak ketiga yang membuat cerita menjadi lain. Aziz kakak Khadijah, ternyata tertarik pada Hayati, pada kecantikan gadis Batipuh. Terjadilah persaingan antara Zainuddin dan Aziz dalam memperebutkan Hayati.

      Zainuddin yang miskin, tentu saja tak dapat menyaingi Aziz yang kaya dan dianggap sebagai anak negeri. Namun, ia tak putus harapan; apalagi setelah ada kabar bahwa Mak Base meninggal dunia dengan meninggalkan harta warisan yang cukup besar untuknya. Segera pemuda yang pendiam itu, menulis surat lamaran kepada keluarga Hayati. Sayangnya, Zainuddin tak menyebutkan bahwa ia kini kaya-raya. Harta warisan yang diterimanya lebih dari cukup untuk menyelenggarakan pesta perkawinan yang mewah sekalipun. “Tak mau juga Zainuddin menerangkan dalam surat itu bahwa di telah kaya, telah sanggup menghadapi kehidupan dengan uang tertaruh, karena di zaman sekarang uang adalah sebagai garansi. Budi pekertinya yang tinggi tidak hendak mengusik kemuliaan Hayati yang telah begitu lama beristana dalam hati jantungnya, dengan menyebut beberapa banyak uangnya.”

       “Surat diterima orang Batipuh, adalah dua hari setelah utusan Aziz kembali ke Padang Panjang” (hlm. 109). Jadi, sebelum Zainuddin, Aziz telah melamar Hayati. Maka, dua lamaran itu menjadi bahan permusyawarahan ninik-mamak Hayati. Mengingat keadaan keluarga Aziz dan asal-usulnya jelas, diputuskan lamaran Aziz yang diterima. Dengan demikian, lamaran Zainuddin ditolak.

       Zainuddin, yang menerima penolakannya, tak mampu berbuat apa-apa, kecuali meratapi nasibnya. Terlebih lagi menurut Muluk, sahabatnya, lelaki yang akan mengawini Hayati tak lebih dari seorang manusia yang bermoral bejat.
Sesungguhnya, Hayati pun merasakan kegetiran yang amat dalam. Ia harus menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Namun, keputusan ninik-mamak ibarat tangan besi yang menentukan nasibnya. Pada akhirnya, Hayati hanya pasrah menerima derita yang menimpanya.

       Setelah Muluk mengabarkan perkawinan Hayati-Aziz, Zainuddin jatuh sakit. Makin lama makin parah, bahkan pemuda itu sudah tak punya semangat hidup lagi. Beruntung, ia masih mempunyai seorang sahabat sejati, yakni Muluk, yang mau menemani Zainuddin dengan setia. Kemudian, untuk melupakan masa lalunya yang pahit, Zainuddin bersama Muluk pergi ke Jakarta. Di kota inilah bakat menulisnya mulai tersalurkan. Lambat-laun, karyanya mulai dikenal oleh masyarakat. Dengan bekal itu, Zainuddin, dengan ditemani Muluk, hijrah ke Surabaya. Di kota Buaya itu Zainuddin dikenal sebagai pengarang terkemuka. Selain itu, ia dikenal sebagai hartawan yang dermawan.
    
      Perjalanan waktu ternyata telah membawa suami-istri Aziz dan Hayati ke Surabaya; suatu hal yang kebetulan karena pekerjaan Aziz pindah ke Surabaya. Namun, hubungan suami-istri itu sungguh memprihatinkan. “Sejak beberapa lama, perhubungan kedua suami-istri itu, hanya perhubungan akad nikah, bukan perhubungan akad hati lagi. Hati yang perempuan terbang membumbung ke langit hijau, mencari kepuasan di dalam hayal, dan hati yang laki-laki, hinggap di wajah dan pangkuan perempuan-perempuan cantik, yang Surabaya memang pasarnya” (hlm. 173).

      Akibat kebiasaan buruk yang tak bisa ditinggalkan Aziz, ia dipecat dari pekerjaannya, diburu karena utang-utangnya, dan kemudian diusir dari rumah kontrakannya. Mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin yang sebelumnya pernah dikunjungi suami-istri itu. Aziz yang kini hidup sebagai pengangguran, lama-kelamaan tak kuasa menanggung malu atas segala kebaikan hati Zainuddin. Ia kemudian meninggalkan istrinya dan pergi ke Banyuwangi.

      Selang beberapa hari, datang dua pucuk surat dari Aziz; yang pertama surat cerai untuk Hayati, dan surat yang kedua ditujukan untuk Zainuddin yang berisi permintaan maaf dan permintaan agar Zainuddin mau menerima Hayati kembali: “saya kembalikan Hayati ke tangan saudara, karena memang saudaralah yang lebih berhak atas dirinya” (hlm. 192). Rupanya itu pesan Aziz yang terakhir, sebab kemudian Aziz memutuskan hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri.

      Bagi Zainuddin, surat Aziz dan berita kematiannya ibarat membawa Hayati ke dalam genggamannya. Lebih jelas lagi dengan pernyataan Hayati sendiri yang meminta maaf dan bersedia mengabdi kepada Zainuddin. Namun, lelaki yang sudah sekian lama menanggung rindu dan derita cinta itu, justru menyuruh pujaan hatinya kembali ke kampung halamannya. Zainuddin menolak Hayati! Suatu keputusan yang lebih didorong oleh dendam kesumat yang sebelumnya justru tak terpikirkan olehnya. Esoknya, Hayati berangkat dengan menumpang kapal Van der Wijck.

      Kesadaran Zainuddin timbul justru setelah Hayati pergi. Lelaki itu tak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa sesungguhnya ia masih mencintai Hayati. Maka, segera ia bermaksud menyusul janda malang itu ke Jakarta. Sebelum itu, Zainuddin menemukan surat Hayati yang berbunyi “aku cinta engkau, dan kalau kumati, adalah kematianku di dalam mengenang engkau” (hlm. 208-209).

      Pada saat itu Zainuddin sedang mempersiapkan segala sesuatunya, sebuah berita yang amat mengejutkan tersiar dalam surat kabar yang terbit di Surabaya: “Kapal Van der Wijck Tenggelam”. Setelah membaca lengkap beritanya, Zainuddin seketikan itu pula berangkat ke Tuban bersama sahabatnya, Muluk.
Masih sempat Zainuddin bertemu dengan Hayati yang terbaring di rumah sakit Lamongan. Namun, rupanya pertemuan mereka yang terakhir; sebab setelah Hayati berpesan, perempuan malang itu mengembuskan napasnya yang terakhir. Hayati meninggal dalam dekapan Zainuddin.
  
      Sejak saat itu, kesehatan Zainuddin menurun. Tak berapa lama kemudian, ia mengembuskan napas terakhirnya. Muluk kemudian menguburkan Zainuddin bersebelahan dengan pusara Hayati. Sebuah akhir yang tragis.
   
                                                                                ***
      Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini pertama kali muncul dalam majalah Pedoman Masyarakat (1938) sebagai cerita bersambung. Sewaktu diterbitkan oleh penerbit Nusantara, novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck mulai menjadi bahan polemik. Mula-mula muncul tulisan Abdullah Sp. Dalam surat kabar Bintang Timur (7 dan 14 September 1962), yang menuduh Hamka telah melakukan plagiat karya terjemahan Al-Manfaluthi, berjudul Magdalena (Di Bawah Naungan Pohon Tillia) dari karya berbahasa Perancis berjudul Sous Les Tilleuls karangan Alphonse Karr. Hamka tidak berkomentar. Namun pembelaannya justru datang dari para kritikus sastram seperti H.B. Jassin, Umar Junus, Junus Amir Hamzah, Ali Audah, Usmar Ismail.

      Secara tematik, novel ini masih belum beranjak dari persoalan cinta dan perkawinan dalam hubungannya dengan adat (Minangkabau). Kajian mengenai novel ini dalam kaitannya dengan masalah adat pernah dilakukan oleh Ramadhan Syukur dalam skripsinya yang berjudul “Problema Adat Minangkabau dalam Empat Novel Hamka” (FS UI, 1988).

       Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran  untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih


Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi novel Layar Terkembang, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan novel Di Bawah Lindungan Kabah. Selamat membaca sahabat imbas

Source: http://www.ilmubahasa.net/2014/12/di-bawah-lindungan-kabah.html
Disalin dari Ilmubahasa.net | Web Edukasi Materi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi novel Layar Terkembang, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan novel Di Bawah Lindungan Kabah. Selamat membaca sahabat imbas

Source: http://www.ilmubahasa.net/2014/12/di-bawah-lindungan-kabah.html
Disalin dari Ilmubahasa.net | Web Edukasi Materi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi novel Layar Terkembang, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan novel Di Bawah Lindungan Kabah. Selamat membaca sahabat imbas.

Source: http://www.ilmubahasa.net/2014/12/di-bawah-lindungan-kabah.html
Disalin dari Ilmubahasa.net | Web Edukasi Materi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi novel Layar Terkembang, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan novel Di Bawah Lindungan Kabah. Selamat membaca sahabat imbas.

Source: http://www.ilmubahasa.net/2014/12/di-bawah-lindungan-kabah.html
Disalin dari Ilmubahasa.net | Web Edukasi Materi Bahasa dan Sastra Indonesia.
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top