Friday

Sukreni Gadis Bali



Pengarang    : A.A. Pandji Tisna
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun          : 1936; Cetakan IX, 1990

Berikut ini adalah Ringkasan/Ulasan Novel Sukreni Gadis Bali yang telah disusun oleh Imbas. Selamat membaca
    Men Negara berasal dari Karangasem, Bali. Ia meninggalkan daerah itu karena suatu persoalan dengan suaminya. Buleleng adalah tempat tujuannya. Mula-mula, ia menumpang di rumah seorang haji yang mempunyai tanah dan kebun yang luas. Namun, karena Men Negara rajin bekerja dan hemat, ia kemdian dapat memiliki kebun sendiri. Ketika pergi dari Karangasem, ia meninggalkan seorang anak yang baru berusia delapan bulan. Di tempat ini ia melahirkan dua orang anak bernama I Negara dan I Negeri. Usaha dagang Men Negara menjadi maju karena Ni Negeri yang berparas cantik itu dapat menarik para pekerja pemetik kelapa untuk singgah di warungnya. Di samping itu, Men Negara pun pandai memasak sehingga masakannya selalu disukai oleh para pekerja itu. Di antara mereka yang datang ke warung Men Negara adalah I Gde Swamba, seorang pemilik kebun kelapa itu. Tak luput dari semua itu, Ni Negeri, dan sudah tentu pula ibunya, mengharapkan agar anak gadisnya itu dapat memikat Ida Gde Swamba menjadi suaminya.

    Suatu ketika, datanglah seorang manteri polisi bernama I Gusti Made Tusan ke daerah itu. Sebagai manteri polisi, ia disegani dan ditakuti penduduk. Banyak sudah kejahatan yang berhasil ditumpasnya. Ini berkat kerja samanya dengan seorang mata-mata bernama I Made Aseman. Siang itu hampir saja Men Negara harus berurusan dengan I Gusti Made Tusan karena I Made Aseman mengetahui bahwa Men Negara telah memotong babi tanpa meminta izin dari yang berwenang. I Made Aseman sangat berharap agar Men Negara dipenjarakan di Singaraja karena kesalahannya itu. Jika saja Men Negara masuk penjara, para pemetik kelapa akan pindah ke warung iparnya. Namun, apa yang diharapkan I Made Aseman sia-sia belaka karena tuannya, I Gusti Made Tusan, telah terpikat oleh tutur kata dan senyum Ni Negeri. Siang itu, Ida Gde Swamba dan para pemetik kelapa sedang makan dan minum di warung Men Negara. Tanpa sepengetahuan mereka, datang seorang gadis bernama Luh Sukreni ke warung Men Negara. Ia mencari Ida Gde Swamba untuk suatu urusan sengketa warisan dengan kakaknya, I Sangaria yang telah masuk agama Kristen. Menurut adat dan agama Bali, jika seorang anak beralih ke agama lain, baginya tak ada hak untuk menerima harta warisan.

    Namun, kedatangan Luh Sukreni itu justru membuat Men Negara dan Ni Negeri iri hati, apalagi Sukreni yang lebih cantik itu menanyakan Ida Gde Swamba. Ketika Manteri polisi itu tampak tertarik pada Sukreni dan berniat menjadikan Ni Sukreni sebagai wanita simpanannya, dicarinyalah siasat agar keinginan Menteri Polisi itu terpenuhi. Pada kedatangannya yang kedua, Luh Sukreni kembali menanyakan Ida Gde Swamba di warung Men Negara. Namun, orang yang dicarinya tak ada. Dengan ramah dan senyum manis, ibu dan anak itu menerima Luh Sukreni bahkan mereka memintanya untuk bermalam di warungnya sampai Ida Gde Swamba tiba. Tanpa prasangka buruk, Luh Sukreni menerima tawaran itu. Saat itulah Men Negara menjalankan siasat jahatnya. Pada malam harinya, Luh Sukreni diperkosa oleh I Gusti Made Tusan. “Terima kasih Men Negara, atas pertolonganmu itu. Hampir-hampir tak berhasil, tetapi…” (hlm. 61). Begitulah I Gusti Made Tusan menyatakan kesenangannya atas siasat busuk Men Negara. Sejak kejadian itu Luh Sukreni pergi entah kemana.

    Alangkah terkejutnya Men Negara ketika I Negara, anaknya –yang tidur bersama I Sudiana, teman seperjalanan Luh Sukreni- mengatakan bahwa Ni Sukreni adalah anak kandung Men Negara sendiri. Ayah Ni Sukreni, I Nyoman Raka telah mengganti nama Men Widi menjadi Ni Sukreni. Perubahan nama itu dimaksudkan agar Ni Sukreni tak dapat diketahui lagi oleh ibunya. Men Negara sangat menyesal karena ia telah mengorbankan anaknya sendiri.

    Ni Sukreni tak mau kembali ke kampungnya. Ia sangat malu apabila kejadian itu diketahui oleh ayahnya dan orang-orang di kampungnya. Ia mengembara entah ke mana. Namun, Pan Gumiarning, salah seorang sahabat ayahnya, mau menerima Ni Sukreni untuk tinggal di rumahnya. Tak lama kemudian, Ni Sukreni melahirkan seorang anak dari hasil perbuatan jahat I Gusti Made Tusan. Anak itu diberi nama I Gustam.

    Takdir telah menentukan Ni Sukreni dapat bertemu kembali dengan Ida Gde Swamba. Semua ini berkat pertolongan I Made Aseman yang pada waktu itu sedang menjalani hukuman di Singaraja karena telah memukul I Negara sampai tak sadarkan diri. Ida Gde Swamba berjanji akan mengurus dan membiayai anaknya itu.
   
    I Gustam ternyata tumbuh dengan perangai dan tabiat yang kasar. Sewaktu berusia dua belas tahun, ia sudah berani memukul ibunya. Setelah dewasa, ia berani pula mencuri sampai akhirnya masuk tahanan polisi. Di dalam tahanan, I Gustam justru banyak memperoleh pelajaran cara merampok dari I Sintung, salah seorang perampok dan penjahat berat yang sudah terkenal keganasannya, ahli dalam hal perampokan dan kejahatan.

    Setelah keluar dari penjara, I Gustam membentuk sebuah kelompok. I Sintung yang ketika di dalam penjara sebagai gurunya, kini bertekuk lutut di bawah perintah I Gustam yang tak segan-segan membunuh siapa saja yang menentang perintahnya. Pada suatu malam, kelompok yang dikepalai I Gustam melaksanakan aksi perampokan di warung Men Negara. Namun, rencana itu sudah diketahui oleh aparat keamanan. Perampokan di warung Men Negara mendapat perlawanan dari polisi yang dipimpin oleh I Gusti Made Tusan. I Gusti Made Tusan sendiri tak mengenal bahwa musuh yang dihadapinya adalah anaknya sendiri. Maka, ketika kepala I Gustam hampir putus karena terkena kelewang ayahnya, I Gusti Made Tusan baru mengetahui bahwa yang terbunuh itu adalah anaknya sendiri, setelah ia mendengar teriakan I Made Aseman. Akhirnya, ayah dan anak itupun tersungkur, dan mati!

                                                                       ***
    Novel kedua Sukreni Gadis Bali ini pengarang kelahiran Singaraja, Bali, ini masih berkisar pada tema “takdir Hyang Widhi yang ditentukan oleh karma,” seperti juga terdapat pada novel pertamanya,  Ni Rawit Ceti Penjual Orang. Dalam Sukreni Gadis Bali yang mendapat karma atas perbuatannya adalah tokoh Men Negara, yang karena kejahatannya, Sukreni, anaknya sendiri, menjadi korban.
Studi mengenai novel ini, pernah dilakukan I Nyoman Weda Kusuma (FS UGM, 1990) dalam tesis S2-nya yang berjudul “Novel Sukreni Gadis Bali: Sebuah Tinjauan Sosiologis Sastra.”

    Studi mengenai Panji Tisna dan sumbangannya bagi sastra Indonesia pernah dilakukan Stadlander (Universitas Hamburg, RFJ) dalam disertasinya yang berjudl “Anak Agung Panji Tisna dan Sumbangannya kepada Sastra Indonesia.” Hal yang sama juga dilakukan oleh Made Sukada (FS UGM, 1967) dalam skripsi sarjananya yang berjudul “Anak Agung Panji Tisna sebagai Manusia dan Pengarang serta Analisis Cipta Sastranya.”

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top