Thursday

Sengsara Membawa Nikmat

Novel Online - Berikut ini kami ilmu bahasa paparkan sebuah novel online yang kami rangkum dengan sebaik-baiknya agar anda dapat mencerna dan memaknainya dengan baik. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang karya sastra Indonesia. Selamat membaca

Pengarang    : Tulis Sutan Sati (1898-1942)
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun            : 1929; Cetakan II, 1972

Sinopsis Novel Online

Berikut ini adalah Ringkasan Novel Sengsara Membawa Nikmat. Selamat membaca artikel kami.
           Tuanku Laras, kepala desa salah satu desa di Padang, mempunyai seorang keponakan bernama Kacak. Merasa mamaknya sebagai kepala desa yang disegani serta tergolong keluarga kaya, Kacak tak dapat menutupi kepongahan hatinya. Sikapnya yang angkuh dan sombong sungguh tak disukai orang-orang kampung itu.
        Berbeda dengan Kacak, Midun, anak sulung seorang petani biasa, justru disukai banyak orang. Ayahnya, sungguhpun miskin, berusaha mendidik anak-anaknya agara selalu berbuat baik. Itulah sebabnya, Midun belajar mengaji, sekaligus ilmu silat kepada guru mengajinya, Haji Abbas dan Pendekat Sutan. Kemahirannya dalam ilmu bela diri pun, sama sekali tidak membuatnya sombong. Perilakunya tetap terpuji.
       Bagi Kacak, perilaku Midun itu sesungguhnya menyebalkan. Ia tak senang orang-orang di kampungnya menyukai dan memuji tabiat pemuda miskin itu. Lalu, dicari-carinya kesalahan Midun. Lebih dari itu, Kacak juga mengajaknya berkelahi. Namun, daripada rebut atau berkelahi yang tiada bermanfaat itu. Namun, Kacak yang menganggap Midun sebagai musuhnya, justru menyerangnya secara membabi buta. Berkat ilmu silat yang dimiliki pemuda penyabar itu, serangan-serangan Kacak selalu dapat dihindarinya. Terlalu mudah baginya mematahkan setiap serangan orang yang sudah dirasuk amarah itu.
       Ketika diketahui bahwa Midun berhasil menyelamatkan istri Kacak yang nyaris tenggelam terbawa arus sungai, dendam Kacak makin berkobar. Ia menganggap Midun telah melakukan perbuatan kurang ajar dan telah berani memegang wanita yang bukan istrinya. Lalu, untuk kedua kalinya, Kacak berusaha menyerang pemuda yang telah menyelamatkan istrinya itu kali ini, Midun meladeninya, dan laki-laki tak tahu diri itu, dengan mudah dibuatnya jatuh-bangun.
        Buntut peristiwa itu memaksa Midun menerima hukuman berupa keharusan mengerjakan apa saja yang telah diperintahkan Tuanku Laras. Orang yang mengawasinya selama ia menjalani “hukuman” itu tidak lain Kacak sendiri. Pukulan dan caci-maki keponakan kepala desa itupun, terpaksa diterima Midun dengan pasrah.
         Rupanya, Kacak sendiri belum juga puas melihat Midun berkeliaran di desa itu. Ia pun bertekad untuk membunuhnya. Kemudian, secara diam-diam, ia menyuruh Lenggang, seorang pembunuh bayaran, untuk melakukan rencananya. Siasat pun diatur. Sesuai dengan rencana, ketika Midun dan Maun, sahabatnya, mencari warung nasi saat berlangsung pacuan kuda, Lenggang tiba-tiba menyerang Midun dengan pisau terhunus. Beruntung, Midun dapat mengelak. Terjadilah perkelahian yang membuat panik orang-orang di sekitarnya. Polisi kemudian datang menangkap mereka. Setelah diperiksa, Maun yang dianggap tak bersalah, diijinkan pulang. Sebaliknya, Midun dinyatakan bersalah. Ia ditahan dan dibawa ke penjara Padang. Kacak yang mendengar berita tersebut merasa sangat senang. Orang yang dianggap musuh itu, kini mendekam di penjara.
        Di penjara, Midun mengalami berbagai siksaan, baik yang dilakukan sipir-sipir penjara, maupun sesame tahanan lainnya. Belakangan, tahanan lainnya segan terhadapnya, sesudah ia berhasil membuat jagoan di penjara itu bertekuk lutut.
         Suatu hari, saat ia menyapu jalan, tugasnya sehari-hari, ia melihat seorang gadis duduk dibawah pohon kenari. Beberapa saat setelah wanita itu pergi Midun melihat sebuah kalung berlian. Ia yakin kalung itu tentu milik wanita tadi. Segera ia menemuinya untuk mengembalikan benda berharga itu. Inilah awal perkenalan Midun dengan Halimah, nama gadis itu.
       Perkenalan mereka terus berlanjut. Midun akhirnya tahu keadaan Halimah yang sebenarnya. Ternyata, wanita itu kini tinggal bersama ayah tirinya. Hal itu terpaksa ia lakukan setelah ibu Halimah meninggal dunia. Ia sebenarnya ingin meninggalkan ayah tirinya. Halimah kemudian meminta pertolongan Midun agar membawa kabur.
       Setelah Midun akhirnya bebas, Midun segera membawa Halimah. Berkat pertolongan pak Karto, seoran petugas yang bekerja sebagai pembantu penjara, Midun berhasil membawa wanita itu ke Bogor, menemui ayah Halimah.
      Dua bulan Midun tinggal bersama Halimah. Ia kemudian bermaksud mencari pekerjaan di Jakarta. Dalam perjalanan ia berkenalan dengan orang Arab bernama Syekh Abdullah Al-Hadramut. Mengetahui maksud Midun pergi ke Jakarta, Syekh Abdullah memberi pinjaman uang untuk modal Midun berdagang. Dengan modal itulah, Midun memulai usahanya yang ternyata lamban-laun terus mengalami kemajuan. Ketika Midun hendak mengembalikan uang pinjaman, jumlah yang harus dibayar ternyata sudah membengkak. Ia baru sadar jika orang Arab itu renternir. Tentu saja, Midun tak mau mengembalikan uang pinjamannya dengan jumlah sedemikan besar.
      Namun, lintah darat itu ternyata punya akal licik. Midun harus memilih; membayar uang pinjaman berikut bunganya atau merelakan Halimah menjadi istri Syekh Arab yang renternir itu. Halimah yang diperlakukan demikian oleh orang Arab itu, tentu saja marah dan menyatakan tidak sudi menjadi istrinya. Persoalan ini ternyata kembali harus melibatkan Midun berurusan dengan polisi. Pengaduan orang Arab itu yang membuat Midun kembali ditahan.
       Lepas dari tahanan, ia bermaksud pergi ke pasar baru. Tiba-tiba ia melihat seseorang sedang mengamuk dan hendak membunuh seorang sinyo. Tanpa pikir panjang, Midun turun tangan dan berhasil menyelamatkan sinyo itu. Sinyo itu kemudian membawa Midun kepada orang tuanya yang ternyata tuan Hoofdcommissaris. Sebagai ungkapan terima kasih, kepala komisaris itu memberi Midun pekerjaan sebagai juru tulis. Tak lama sesudah itu, ia pun melaksanakan niatnya menikahi Halimah.
        Sementara itu, karena Midun memperlihatkan prestasi yang baik dalam pekerjaannya, ia diangkat sebagai Menteri Polisi Tanjung Priok.
      Suatu ketika, Midun ditugasi untuk menumpas penyelundupan di Medan. Ketika sedang menjalani tugasnya, secara kebetulan, ia bertemu dengan Manjau, adiknya. Dari adiknya itulah ia mendengar kabar bahwa ayahnya telah meninggal, sedangkan harta kekayaannya yang tidak terlalu banyak itu habis untuk biaya hidup, dan sebagian lagi diambil oleh keponakan ayahnya. Kabar ini tidak hanya membuat Midun merasa sedih, tetapi juga membuatnya merasa terpanggil untuk kembali ke kampung halamannya. Sekembalinya dari Medan, ia mengajukan permohonan kepada Hoofdcommissaris agar tugasnya dipindahkan ke kampung halamannya. Permohonannya itu dikabulkan. Bahkan di tempat tugasnya yang baru, Midun diberi jabatan sebagai asisten Demang.
       Kembalinya Midun ke kampung halamannya, tentu saja membuat Kacak yang kini menjadi penghulu kampung merasa serba salah. Belakangan terbukti, Kacak telah menggelapkan uang Negara. Ia pun kemudian ditangkap dan dijebloskan ke penjara Padang.
Midun kemudian hidup bahagia bersama seluruh keluarganya.

Resensi Novel Online

                                                                             ***
        Dari judulnya, Sengsara Membawa Nikmat, tersirat akhir cerita novel ini. Menurut Teeuw (Sastra Baru Indonesia Satu, 1980), “Buku ini menarik terutama karena hidup dan lincahnya si pengarang membawa kita ke dalam suasana desa Minangkabau dengan kejadian sehari-hari dan segala reaksi manusiawinya.” (hlm. 90). Temannya sendiri lebih banyak berpusat pada pengembaraan tokoh utamanya, Midun. Gambaran pengembaraannya sendiri terasa lebih realistis jika dibandingkan dengan Muda Taruna karya Muhammad Kasim yang masih terasa pengaruh bentuk hikayatnya. Begitu juga latar tempatnya tidak lagi diseputar wilayah Sumatera saja, melainkan juga di Jawa (Bogor dan Jakarta).
Demikian resensi Novel Sengsara Membawa Nikmat. semoga bermanfaat bagi anda.
   

2 komentar

Nama saya Kasih Bambang, saya dari Indonesia, saya di sini untuk bersaksi bagaimana saya mendapat pinjaman saya selama 2% dari Ibu Cahya Kirana, dan begitu banyak percaya pada pepatah bilang, apa yang Tuhan telah merancang kita untuk berada di Rencana induk menentukan ilahi iman dan kepercayaan dalam kehidupan. Tidak ada yang terjadi untuk apa-apa, tidak ada yang terjadi secara kebetulan, ada tangan tak terlihat di affiars dari setiap hubungan dan bahwa tangan tak terlihat mendorong takdir ilahi kita, membawa kita ke tujuan. bahwa kita, dan bagaimana saya diarahkan untuk jenis hati manusia dari Tuhan. dia memang Tuhan yang dikirim kepada saya dan kehidupan keluarga saya, setelah foold dan ditipu oleh leanders pinjaman palsu di sini di internet, Allah mengarahkan saya untuk dia, tapi semua berkat Tuhan hari ini saya dan keluarga saya telah mampu untuk membersihkan utang kami dan kami memiliki sekali lagi ditemukan hapiness dalam hidup kita, sehingga saudara-saudara saya harap berhati-hati, tapi saya akan menyarankan bahwa jika Anda membutuhkan pinjaman hari menghubunginya dan saya asure Anda hapiness itu dan tersenyum pada wajah Anda akan menjadi porsi Anda semua hidup Anda Jika Anda melewati situasi keuangan, menghubunginya melalui email di cahya.creditfirm@gmail.com, Anda juga dapat menghubungi saya di Email ini ,,, kasihbambang2012@gmail.com

Terimakasih telah berkunjung di website pendidikan ini..

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top