Monday

Pertemuan Jodoh



Pengarang    : Abdul Muis
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun            : 1932; Cetakan V, 1964

Sinopsis Novel 

Berikut ini Ringkasan Novel Pertemuan Jodoh Karya Abdul Muis. semoga bermanfaat.

    Ratna, seorang murid Frobelkweeschool, secara tak sengaja berkenalan dengan pemuda Suparta dalam kereta yang membawanya dari Jakarta ke Bandung. Suparta berusaha mencarikan tempat duduk buat gadis itu, yang semula dipenuhi barang-barang milik sepasang suami-istri Tionghoa. Di Stasiun Cimahi, suami-istri Tionghoa itu ditahan polisi karena ditemukan membawa candu.
    Perkenalan tersebut rupanya berkesan cukup dalam bagi sepasang anak muda itu. Suparta pun berkesempatan untuk mengantarkan gadis itu sampai ke halaman sekolahnya. Selanjutnya, mereka sepakat untuk meneruskan hubungan lewat surat.
    Beberapa bulan kemudian, Suparta yang murid Stovia itu, melalui sepucuk surat, mengutarakan niatnya untuk memperistri Ratna. Meskipun tidak secara tegas, Ratna menyambut baik niat Suparta. Ia bersedia juga menghabiskan masa liburannya di Sumedang sekaligus berkenalan baik-baik dengan keluarga pemuda itu. “Ibu Suparta termasuk golongan ‘menak baheula’, yaitu orang tua turunan bangsawan yang masih berpegang teguh alam keadaan dan adat lembaga zaman dahulu” (hlm. 29).
    Sambutann ibu Suparta ternyata tidak begitu ramah. Ratna kecewa pada sikap Nyai Raden Tedja Ningrum yang memandangnya dengan cemooh setelah tahu bahwa Ratna turunan orang kebanyakan saja. Ibu Suparta juga bahkan sengaja menyinggung-nyinggung nama gadis lain yang dianggapnya lebih pantas untuk anaknya, yang tak lain adalah teman sekelas Ratna di Frobelweeschool.
    Ratna kemudian bertekad untuk melupakan Suparta. Berita pertunangan Suparta dengan Nyai Raden Siti Halimah alias “Dewi Dekok” tidak membuatnya putus asa. Namun, kemalangan lain terpaksa pula harus ia terima. Usaha pembakaran kapur ayahnya, Tuan Atmadja, bangkrut. Akibatnya, Ratna terpaksa memutuskan keluar dari sekolahnya.
     Cobaan-cobaan itu tidak membuat Ratna patah semangat. Ia pun kemudian berusaha mencari pekerjaan. Gaji yang ia terima sebagai pelayan toko, digunakannya untuk membiayai sekolah adiknya, Sudarma. Namun, baru empat bulan ia bekerja, toko itu harus ditutup atas perintah pengadilan. Ratna kembali melamar pekerjaan di kantor advokat. Namun, ia terpaksa mengurungkan niatnya karena si advokat itu berusaha menggodanya. Dalam kebingungan, ia lewat di depat sebuah rumah besar. Pikirannya kemudian muncul, untuk menjadi pembantu rumah tangga. Ia pun menjadi pembantu Tuan dan Nyonya Kornel.
    Sementara itu, Suparta yang sudah menjadi dokter berusaha menjumpai Ratna kembali. Ia kehilangan jejak kekasihnya itu. Ia juga menyesalkan ketidaksetujuan ibunya terhadap keinginannya untuk memperistri Ratna. Namun, ketika sikap keras hati ibunya itu melunak, Suparta justru kehilangan jejak Ratna. Berkat pertolongan direktris Frobelkweeschool, dokter muda itu memperoleh alamat orang tua Ratna di Tagogapu. Ternyata, di rumah orang tua Ratna, Suparta juga menjumpai gadis itu. Orang tua Ratna yang melihat kesungguhan Suparta merasa tersentuh hatinya sehingga mereka memberitahukan alamat Ratna di Kebon Sirih. Alangkah terkejutnya Suparta ketika mendengar bahwa Ratna sudah berangkat ke Jakarta bersama adiknya pagi itu, sedangkan pemilik rumah tempat Ratna menumpang tidak mengetahui tujuan kakak beradik itu ke Jakarta.
    Dalam pada itu, selama Ratna menjadi pembantu keluarga Kornel, berbagai cobaan harus diterimanya dengan tabah. Kehadirannya dalam keluarga itu tidak luput dari rasa iri Jene, pembantu yang juga bekerja pada keluarga Kornel. Hingga suatu ketika, Ratna dituduh mencuri perhiasan Nyonya Kornel atas fitnah Jene. Ratna kemudian dibawa ke kantor polisi. Ketika para polisi yang menjaganya lengah, Ratna melarikan diri, kemudian terjun ke sungai di sekitar jembatan Kwitang. Beruntung, nyawanya masih dapat diselamatkan. Dalam keadaan sekarat, ia dibawa ke rumah sakit.
    Sangat kebetulan bahwa dokter yang merawat Ratna adalah Suparta. Pertemuan itu tentu saja membesarkan hati kedua belah pihak. Keyakinan Suparta bahwa Ratna tidak bersalah, ikut mempercepat kesembuhan wanita muda itu. Untuk memulihkan nama baik Ratna, dokter muda itu menyiapkan seorang pengacara terkenal untuk mendampingi gadis pujaannya di pengadilan. Sebab, bagaimanapun, Ratna masih harus berurusan dengan penegak hukum.
    Di pengadilan terbukti bahwa Ratna tidak bersalah. Pencuri perhiasan Nyonya Kornel ternyata adalah Amat, kekasih Jene. Pembantu keluarga Kornel yang bernama Jene itu diduga diperalat oleh kekasihnya. Pengadilan juga memutuskan bahwa Amat bersalah dan diganjar lima tahun penjara. Sementara itu, Jene tidak dikenakan hukuman walaupun sebenarnya harus dituntut.
    Sidang pengadilan juga mempertemukan Ratna dengan Sudarma, adiknya, schatter pegadaian  Purwakarta yang bertindak sebagai saksi pertama. Lalu, atas kesepakatan Suparta dan Sudarma, Ratna disuruh beristirahat di sebuah pavilion “Bidara Cina”. Gadis itu tidak diizinkan bertemu sembarang orang, kecuali Suparta yang setiap sore datang memeriksa kesehatannya. Lambat-laun kesehatan Ratna mulai pulih. Ia juga mulai dapat mengingat-ingat segala sesuatunya, termasuk hubungannya dengan Suparta.
    Begitu Ratna meninggalkan tempat peristirahatannya, Suparta melamarnya. “Dokter Suparta sendiri yang berkehendak, supaya nikah dilangsungkan hari ini, ….” (hlm. 155). Tuan Atmadja sekeluarga berkumpul di rumah Sudarma menyelenggarakan pesta perkawinan Ratna dengan Dokter Suparta.
    Kebahagiaan pengantin baru itu bertambah lagi ketika mereka pulang ke Tagogapu. Rumah ayah Ratna kini lebih besar dibandingkan sebelumnya. Keadaan Tuan Atmadja sekarang sudah lebih baik lagi berkat bantuan kedua ananya. Kini, pengantin baru itu menempati sebuah rumah besar, bersebelahan dengan rumah orang tua Ratna. Rumah itu sengaja dibangun Suparta sebagai hadiah perkawinan bagi istrinya.

Resensi Novel

    Novel kedua Abdul Muis, Pertemuan Jodoh ini menurut Teeuw merupakan roman peralihan. Bukan saja karena pengarangnya merupakan hasil perkawinan antar pulau, tetapi karena hampir seluruh hayatnya ia tinggal di Jawa (Sastra Baru Indonesia 1, 1980). Novel ini boleh dikatakan merupakan pengamatan pengarangnya terhadap lingkungan sekitarnya setelah ia lama berada di Jawa, terutama di Bandung (Abdul Muis pernah bekerja sebagai klerek di Departemen Buderwijs en Eredienst dan menjadi wartawan di Bandung).
    Studi mengenai novel ini pernah dilakukan oleh Jajal Ahmad bin Abdullah (FS UI, 1962) dan Shaaban bi Abu (FS Unas, 1974). Menurut Shaaban novel ini merupakan lanjutan dari Salah Asuhan. Kajian lebih mendalam dilakukan oleh K. Karmana Mahmud (FS UGM, 1984) dalam tesis S2-nya yang berjudul “Tinjauan Roman Pertemuan Jodoh atau Dasar Pendekatan Strukturalisme dan Semiotik”.
     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top