Saturday

Palawija

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Atheis, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Palawija. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Karim Halim (18 Desember 1919-1989)
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun          : 1944


   Di kota Rengasdengklok terjadi kekacauan setelah terdengar kabar bahwa tentara Belanda kalah melawan tentara Jepang. Penduduk merampas barang-barang orang Tionghoa. Toko-toko dan rumah-rumah orang Tionghoa dijarah penduduk sehingga  timbul bentrokan fisik antara kedua kelompok itu. Penguasa setempat, Wedana, dan asistennya, yang dibentuk ketika Belanda masih berkuasa, tak mampu mengatasi masalah; bahkan menyerahkan kekuasaan dan keamanan kota pada ronda Tionghoa. Akibatnya, keadaan bukan berangsur baik, justru semakin tidak terkendali.

   Seorang pemuka masyarakat dan guru sekolah bernama Sumardi mencoba menghentikan huru-hara yang terjadi. Ia mendatangi wedana dan asistennya dengan harapan pejabat tersebut dapat mengatasi masalah. Ternyata, kedua pejabat itu bukannya berusaha menghentikan huru-hara yang terjadi, tetapi sebaliknya, bersekutu dengan Baba Lim, pemuka orang-orang Tionghoa. Sumardi sadar bahwa ia tak dapat mengharapkan wedana dan asistennya; ia turun langsung menghentikan kekacauan itu. Namun, dirinya justru menderita luka-luka ketika berusaha mencegah tentara Belanda pelarian –yang diminta orang-orang Tionghoa membantu mengatasi masalah- menembaki penduduk.
Sementara itu, permusuhan antara pribumi dan Tionghoa makin berkembang. Kecurigaan dan kebencian menghinggapi penduduk Rengasdengklok, terutama dalam diri orang-orang Tionghoa. Hal ini juga menghinggapi Nona Sui Nio, gadis Tionghoa yang ditolong Sumardi ketika rumah gadis itu dijarah penduduk. “Ketika ia berbaring itu, teringat pulalah ia kembali kepada Sumardi. Bermula sangat benci ia kepadanya, sebab ia sebangsa dengan perampok-perampok yang telah merusakkan segalanya itu. Kebenciannya itupun menjalar kepada bangsa Indonesia seluruhnya. Hampir disamaratakannya tabiat bangsa itu, tetapi kemudian kalau pikirannya tertumbuk  kepada kebaikan Mardi sendiri, hilanglah bencinya itu” (hlm. 11).

   Meskipun luka-lukanya belum sembuh benar, Sumardi pergi mendatangi Baba Lim. Ia menerangkan seluruh cita-citanya kepada Baba Lim, yaitu ingin mempersatukan bangsa Tionghoa dan bangsa Indonesia agar masyarakat Rengasdengklok terhindar dari malapetaka. Akhirnya, Baba Lim setuju dengan cita-cita guru Mardi dan ia setuju pula mendirikan Komite Rakyat yang anggota pengurusnya terdiri dari golongan Tionghoa dan Indonesia. Komite ini mengurus dan mengusahakan ketenteraman masyarakat dan memperbaiki hubungan kelompok itu.

   Pertumbuhan Komite Rakyat mengalami pasang surut. Awalnya, komite ini tumbuh subur dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, tetapi kemudian tersendat-sendat setelah Mardi mendapat kecelakaan; ditambah dengan adanya pihak-pihak yang ingin menghalani kegiatan komite itu.

   Di dalam kehidupan masyarakat, Komite Rakyat berdampak positif. Ada beberapa family yang perhubungan antara orang Tionghoa dan Indonesia sangat baiknya dan seolah-olah taka da perbedaan. Namun, itu tidaklah patut dijadikan contoh, karena bagai api dalam sekam, ada orang yang belum insaf yang dengan sengaja mengeruhkan keadaan.
Sementara itu, hubungan Sumardi dan Sui Nio bertambah rapat dan berkembang menjadi saling mencintai. Meskipun berbeda keturunan, dua muda-mudi itu menyadari bahwa sesungguhnya mereka “bersaudara , apalagi sama-sama dilahirkan di bumi Asia dan dinaungi langit Asia yang jaya” (hlm. 44). Hubungan mereka disetujui oleh orang tua mereka masing-masing dan telah ditentukan hari pernikahannya.

   Namun, sebelum sampai pada hari pernikahan dua merpati itu, terjadilah peristiwa yang mengejutkan. Calon mempelai pria ditangkap oleh tentara Jepang. Ia dituduh sebagai pengkhianat. Akibat kejadian itu, timbul kecurigaan dalam keluarga ayah Sumardi, Harsadibrata. Anak sulung Harsadibrata, Suwarsih, mencurigai suaminya yang bertindak kejam memfitnah Sumardi. Sejak dahulu, Kartahadimaja –suami Suwarsih dan juga menjabat sebagai asisten wedan- memang tidak menyukai adik iparnya, Sumardi. Hal inilah yang menyebabkan Suwarsih mencurigai suaminya. Kecurigaan juga timbul dalam diri adik Sumardi, Sumarsih, yang curiga kepada mantan kekasihnya, Sulaiman.
Kartahadimaja tidak mau kehilangan istri dan anaknya, dan sekaligus ingin membuktikan bahwa ia tak memfitnah Sumardi. Berkat jabatannya, ia mampu meyakinkan kepala polisi bahwa Sumardi bukan penghianat, bahkan pada kenyataannya guru itu sangat berjasa kepada pemerintah balatentara Jepang.

   Keluarga Harsadibrata utuh kembali, bahkan semakin bertambah erat dengan dilangsungkannya pernikahan Sumardi dan Sui Nio. Perniakahan kedua orang itu bukan saja disambut gembira oleh keluarganya masing-masing, tetapi juga mendapat sambutan hangat dari penduduk Rengasdengklok sebagai ujud bersatunya pribumi dan orang-orang Tionghoa.

   Suami-istri Sumardi dan Sui Nio bahu-membahu menggiatkan masyarakat Rengasdengklok. Sumardi akhirnya diangkat sebagai anggota Dewan Daerah mewakili Rengasdengklok, sedangkan istrinya diangkat sebagai pengawas Gerakan Putri Indonesia dan Tionghoa. Lalu, ketika ada pembukaan penerimaan tentara, Sumardi membaktikan diri menjadi tentara Pembela Tanah Air. Istrinya juga turut ambil bagian membela Negara di garis belakang.

                                                                             ***
   Novel Palawija yang disebut oleh pengarangnya sebagai “roman pancaroba” ini sangat berbau propaganda. Hal ini terjadi karena Jepang membutuhkan dukungan rakyat Indonesia. H. B. Jassin dalam buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei 1 (Jakarta: Gramedia, 1985), edisi yang diperbarui mengatakan bahwa selama pendudukan Jepang ada dua roman (novel) yang diterbitkan, yakni Cinta Tanah Air karangan Nur Sutan Iskandar dan novel Palawija karangan Karim Halim. Studi terhadap novel ini, terutama dilihat dari aspek propagandanya pernah dilakukan oleh Priyono Bandot Sumbogo (FS UI, 1986).

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top