Wednesday

Nusa Penida



Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Aki, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Nusa Penida. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Andjar Asmara (26 Februari 1902-20 Oktober 1961)
Penerbit        : ------------------
Tahun           :  1950


    Konon di Tabanun, Bali, ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja bernama Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai. Ia raja yang alim dan disegani oleh rakyatnya. Ia selalu bersikap adil kepada rakyat umumnya dan kepada para pegawai kerajaan khususnya. Ia pun selalu mendengarkan keluhan rakyatnya dan menolong sebisa mungkin. Pendiriannya lurus dan mau memperhatikan orang kecil dan miskin. Oleh karena itu, ia berpesan kepada para pegawainya agar janganlah mengisap atau menindas orang kecil dan miskin. Sebab, keselamatan negeri itu tergantung pada nasib rakyatnya (hlm. 21).

    Akan tetapi, demi tercapainya keadilan dan kesejahteraan bukanlah hal yang mudah. Sebab, bukan tidak mungkin ada sekelompok orang yang merasa tidak puas dengan aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pusat pemerintahan yang dipimpin Anak Agung I Gusti Ketut Alit Rai. Komplotan pemberontak ternyata didalangi oleh kaum kerabat kerajaan itu sendiri. Maka terjadilah pemberontakan terhadap kerajaan, terhadap para pegawai yang setia kepada raja. Rumah-rumah mereka dibakar dan kerajaan dihancurkan.

    Salah seorang pegawai kerajaan dari kaum Sudra bernama I Murda. Ia dengan setia mengabdi kepada rajanya. Namun, karena keganasan pemberontakan itu, istrinya terbunuh dan rumahnya dibakar. Pada waktu itu kedua anaknya, I Djaya dan I Pageh masih kecil. I Murda terpaksa melarikan kedua anaknya itu demi keselamatan. Dalam pelariannya sampailah ia ke puri kerajaan. I Murda menemukan rajanya telah berlumuran darah dan tak berdaya lagi. Ia bermaksud menolong raja, namun keadaan sang raja terlalu payah. Dalam nafasnya yang terakhir, sang raja berpesan agar I Murda mau menolong anaknya, Gusti Ayu Pandan Sari yang masih bayi. Raja pun menyerahkan keris pusaka yang maksudnya, kelak, jika Gusti Ayu Pandan Sari telah dewasa, mengetahui bahwa anak itu adalah turunan raja. “Keris ini keris pusaka, Murda, jagalah baik-baik. Orang tak akan mengenal ibu-bapak Gusti Ayu Pandan Sari tetapi keris inilah yang akan menjadi bukti bahwa ia keturunanku.” (hlm. 3).

    I Murda memilih tempat tinggal dekat pantai; perkampungan nelayan itu bernama Kosambi. Demi kelangsungan hidupnya dan ketiga anak (termasuk Gusti Ayu Pandan Sari), ia menjadi seorang nelayan. Pandan Sari diurusnya seperti anak kandungnya sendiri. Kebetulan I Jaya dan I Pageh pun menyayanginya. Mereka berdua memperlakukan Gusti Ayu seperti adik kandung mereka. Bahkan, jika Gusti Ayu menangis karena diganggu teman sepermainan, maka kalau bukan I Pageh yang akan membalas, I Jaya akan membelanya.

    Lingkungan perkampungan nelayan, tempat mereka tinggal ternyata mempengaruhi sikap Gusti Ayu. Lingkungan kaum Sudra telah melekat dalam dirinya. Kendatipun I Murda, ayah angkatnya telah menceritakan asal dan keturunannya, Gusti Ayu tak ingin dibedakan dalam hal apa pun.
 
    Ketiga anak I Murda semakin lama tumbuh menjadi remaja. I Murda, sebagai orang tua yang telah banyak makan garam kehidupan, mengetahui perkembangan jiwa muda kedua anak lelakinya itu. Baik I Pageh, terlebih lagi I Jaya, menurut sepengetahuannya, memberi perhatian lebih kepada Gusti Ayu. Diketahui pula, bahwa Gusti Ayu Pandan Sari pun menampakkan belas kasih kepada I Jaya. Itulah yang dikhawatirkan I Murda. Sebab, biar bagaimanapun Gusti Ayu berdarah satria. Suatu hal yang jangan sampai terjadi seorang Sudra mencintai Satria (hlm. 44).

    Cokrode Gede Oka adalah kemenakan Anak Agung I Gusti Alit Rai, yang saat ini memimpin kerajaan. Pada suatu hari ia melintasi sebuah perkampungan yang diiringi rombongan kerajaan. Namun tiba-tiba ia melihat Gusti Ayu di hadapannya. Ia halangi iring-iringan kerajaan. Dari situlah ia mengetahui bahwa Gusti Ayu adalah keponakannya. Beberapa hari kemudian, Gusti Ayu tak diambilnya dari I Murda dan harus tinggal di puri. Namun, Gusti Ayu tak kerasan tinggal di puri kerajaan. Ia memohon kepada pamannya agar mau mengabulkan keinginannya untuk tetap tinggal bersama keluarga I Murda. Setelah melalui perdebatan sengit, Cokrode Ayu Oka mengabulkan permintaan Gusti Ayu. Namun, satu permintaan Gusti Ayu yang tak bisa dikabulkan, yaitu permintaan untuk meringankan hukuman yang dijatuhkan kepada I Jaya karena ia telah membunuh seseorang dalam perkelahian. I Jaya harus menjalani hukumannya di Nusa Penida, sebuah pulau tempat pembuangan orang-orang jahat. “Dan tentang permintaan adinda yang kedua itu.. belum dapat kakanda meluluskan dengan seketika…” (hlm. 169).

    Telah bertahun-tahun I Jaya menjalani hukumannya di Nusa Penida, dengan harapan, suatu saat ia dapat kembali kepada ayah dan adiknya, terlebih lagi pada buah hatinya, Gusti Ayu Pandan Sari, yang telah nyata mencintainya.

    Sepeniggalan I Jaya, I Murda mulai memikirkan nasib kedua anaknya, I Pageh dan Gusti Ayu. Terlebih lagi setelah keluarga itu mendapat kabar dari seorang yang baru pulang dari Nusa Penida, I Swasta, bahwa I Jaya telah meninggal karena tertimpa pohon. Maka selanjutnya, I Murda mengawinkan Gusti Ayu dengan Pageh. Dua tahun kemudian, pasangan itu dikaruniai seorang anak. Bersamaan dengan itu, ayah mereka telah berpulang beberapa waktu yang lalu.

    Malam itu Gusti Ayu sedang melantunkan sebuah tari di desa sebelah. Namun, secara tak sadar tarian yang dibawakan Gusti Ayu terhenti. Matanya tertumpu pada seseorang yang ikut menyaksikan dari kejauhan. Selesai menari Gusti Ayu secepatnya pulang ke rumah dan diikuti suaminya. Ia mendapatkan I Jaya telah berada di dalam rumah. Saat itu juga I Jaya menuduh bahwa Gusti Ayu seorang wanita yang tak setia, wanita murahan.

    Kepada bekas kekasihnya itu, Pandan Sari berusaha menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Sesungguhnya, Pandan Sari sendiri masih mencintai I Jaya. Narapidan yang ternyata kabur sebelum masa tahanannya berakhir itu, semula akan menyerahkan diri. Tapi demi mendengar bahwa Pandan Sari masih mencintainya, ia berniat membawa lari istri adik kandungnya itu. Pandan Sari sendiri waktu itu, tanpa sadar, menyetujui rencana tersebut. Ia pun segera menyuruh I Jaya agar menunggu di kapal.
 
     Sebelum rencana itu dilaksanaka, Pandan Sari menyadari kekeliruannya, manakala ia sadar bahwa anaknya tak dapat begitu saja ia tinggalkan. Sementara itu, I Jaya juga menyadari kesalahannya setelah ia berhadapan dengan adiknya, I Pageh, yang justru hendak menyerahkan Pandan Sari jika perempuan itu memang bukan haknya. Rupanya, pertalian darah antara kakak beradik itu, tak dapat begitu saja diputuskan. Kasih sayang sebagai saudara sekandung telah mengalahkan nafsu pribadi. Maka keputusan yang diambil I Jaya adalah mati di tangan aparat keamanan yang sedang mengejarnya. Dengan keputusan itulah ia terjun ke laut yang disusul dengan berondongan  peluru senjata para prajurit yang berusaha menangkapnya kembali. Sebelum ajal datang, I Pageh, dan kekasih hatinya, Pandan Sari yang sudah jadi istri adiknya itu. “I Pageh… Pandan Sari… lebih… lebih… baik begini… selamat… selamatlah… engkau berdua… dan jaga anakmu…” (hlm. 296). Itulah pesan terakhir I Jaya.

                                                                               ***
    Andjar Asmara sebenarnya lebih dikenal sebagai sutradara film setelah ia aktif dalam rombongan sandiwara “Dardanella”. Nusa Penida merupakan novel satu-satunya yang dihasilkan pengarang kelahiran Alahan Panjang, Sumatra Barat itu. Mungkin karena pengalamannya sebagai wartawan, ia berhasil menulis sebuah novel dengan latar tempat dan latar social Bali.
     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top