Wednesday

Novel Kalau Tak Untung

Pengarang    : Selasih (31 Juli 1909)
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun          : 1933; Cetakan IX, 1987

Berikut ini adalah ringkasan mengenai Novel Kalau Tak Untung yang disusun oleh tim Imbas. selamat membaca.
 
     Rasmani dan Masrul adalah dua orang sahabat karib. Persahabatan yang dimulai sejak mereka masih duduk di sekolah dasar itu menimbulkan perasaan lain pada diri Rasmani. Diam-diam, ia mencintai pemuda yang begitu menyanyangi dan memanjakannya itu.
 
       Ketika Masrul harus pindah ke Painan untuk bekerja, Rasmani dengan berat hati melepaskannya. Perasaan ini pun dirasakan oleh Masrul. “Masrul pun tak berkata lagi, kasihan ia melihat adiknya itu menangis, akan tetapi tak menyesal ia rupanya mengeluarkan perkataan yang pedih-pedih itu, karena sekarang ia tahu bahasa untuk Rasmani pun perceraian itu berat juga” (hlm. 43).
 
      Surat pertama yang diterima Rasmani dari Masrul, setelah beberapa hari mereka berpisah, membuatnya tak percaya. Guru yang mengajar di desanya ini menduga akan mendapatkan berita yang menggembirakan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Dalam suratnya, Masrul mengatakan bahwa dia harus menikah dengan Aminah, anak mamaknya, dua tahun setelah ia mendapatkan banyak pengetahuan di Painan. Masrul melakukan itu karena terpaksa harus menuruti keinginan kaum kerabatnya, terutama ibunya. Demi kebaikan Masrul, Rasmani menerima sikap Masrul walaupun dengan menahan perasaannya yang sakit.
 
        Di perantauan, Masrul bekerja sebagai juru tulis. Ia mendapat tawaran dari Guru Kepala untuk menikahi anaknya yang bernama Muslina. Pada mulanya, Masrul menolak karena ternyata hati kecilnya lebih tertarik pada Rasmani yang telah lama dikenalnya. Selain itu, ia juga merasa tidak enak kepada Aminah dan kaum kerabatnya apabila ia mengingkari janjinya. Akan tetapi, karena kepintaran Guru Kepala dan istrinya yang terus mendesak Masrul, akhirnya Masrul menerima tawaran itu.
 
       Keputusan Masrul untuk menikah dengan Muslina membuata kaum kerabatnya kecewa dan marah besar. Perasaan Rasmani sendiri begitu kacau. “Bagaimana hati Rasmani ketika menerima surat Masrul yang mengatakan beristri itu tak cukup rasanya perkataan dalam bahasa yang akan mewartakannya karena ketika itulah ia tahu benar dan insyaf bahasa ia cinta kepada Masrul” (hlm. 102).
 
      Kehidupan rumah tangga Masrul dengan Muslina yang sudah membuahkan seorang anak, ternyata tidak berjalan serasi. Keduanya sering terlibat percekcokan. Hal itu disebabkan tidak dihargainya Masrul sebagai seorang suami. Akibatnya, Masrul sering tidak pulang ke rumahnya. Ia menghabiskan waktunya bermabuk-mabukan. Keadaan yang semakin memburuk dan tidak ada tanda-tanda terselamatkan, membuat Masrul berpikir untuk menceraikan Muslina. Jawaban surat Rasmani mengenai permasalahan yang diajukannya pun tidak memuaskan hatinya sehingga keputusan cerai mutlak dilakukan.

       Sementara itu, Rasmani yang sudah berkeinginan untuk tidak menikah setelah pujaan hatinya menikah dengan orang lain, bertambah hancur hatinya. Ia tidak bisa melawan rasa cintanya kepada Masrul walaupun berbagai usaha dilakukannya, termasuk mengizinkan Masrul menikah dengan Muslina, keputusan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani. Hal ini ditambah lagi degnan penyataan Masrul belakangan, yang mengatakan bahwa selama ini hidupnya tidak beruntung dan sebetulnya mencintai Rasmani. “Api yang telah hampir padam itu, mulailah kembali memperlihatkan cahayanya, menyala makin lama, makin besar” (hlm. 149).
 
       Kenyataan yang tidak diduga oleh Rasmani dan keluarganya adalah ketika Masrul, muncul di kediaman mereka di Bukittinggi. Semua kejadian diceritakan oleh Masrul yang membuat Rasmani begitu sedih dengan penderitaan kekasihnya itu.
 
   Beberapa waktu kemudian, Masrul melamar Rasmani. Namun, sebelum mewujudkan pernikahannya, ia meminta izin untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu karena sebelumnya ia telah mengundurkan diri dari pekerjaaannya di Painan. Masrul ingin mencari pekerjaan di Medan, dengan harapan ia akan lebih cepat bekerja dengan bantuan adik Engku Rasad, teman baiknya di Painan.
 
       Akan teapi sampai beberapa bulan lamanya, Masrul belum juga mendapat pekerjaan, dan berita keadaan dirinya tak pernah dikabarkan kepada Rasmani. Hal ini membuat Rasmani berkecil hati dan menganggap Masrul tidak setia. Rasa putus asa Rasmani bertambah-tambah setelah Masrul mengatakan bahwa Rasmani tidak usah menunggunya kalau ada orang lain yang mencintainya, dalam suratnya yang datang kemudian. Keputusan Masrul itu membuat Rasmani jatuh sakit.
 
        Rupanya sakit Rasmani yang hampir sembuh dengan kedatangan Dalipah, kakaknya yang selalu mendampinginya dalam kesedihan, kambuh lagi karena dikabarkan bahwa Masrul berhasil mendapat pekerjaan dan membatalkan keputusan yang dulu disampaikan kepada Rasmani melalaui surat yang datang menyusul. “Surat yang membawa kabar baikitu, rupanya lebih mengejutkan Rasmani dan lebih merusakkan jantungnya yang telah luka itu, dari surat yang dahulu” (hlm. 173). Rasmani akhirnya meninggal tanpa disaksikan Masrul yang datang terlambat.

                                                                                      ***
       Novel Kalau Tak Untung Selasih (nama samara lain; Sariamin = Seleguri = Sri Gunung = Sri Tanjung = Ibu Sejati = Bundo Kanduang = Mande Rubiah), menurut Jakob Sumardjo (Segi Sosiologis Novel Indonesia, Pustaka Primam 1981; hlm. 75) yang mengutip pernyataan Aman Datuk Madjoindo, telah mengantarkan pengarangnya sebagai pujangga Wanita Indonesia yang pertama. Ceritanya sendiri lebih banyak menyoroti kelemahan dan keragu-raguan tokoh Masrul seta kemalangan nasib tokoh Rasmani. Seperti juga kebanyakan novel-novel Balai Pustaka, Kalau Tak Untung menyinggung soal adat yang membuat berpisahnya Masrul dan Rasmani.
 
    Novel kedua Selasih adalah Pengaru Keadaan (Balai Pustaka, 1973), sedangkan novel yang terakhir terbit 1986, Kembali ke Pangkuan Ayah. Sejauh ini, kajian terhadap novel ini bari dilakukan Arisni Sari (FS UGM, 1969).

    Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top