Friday

Ni Ra Wit Ceti Penjual Orang



Pengarang    : A.A. Pandji Tisna (11 Februari 1908 – 2 Juni 1978)
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun           : 1935; Cetakan IV, Pustaka Jaya, 1986

Berikut ini adalah Ringkasan/ulasan Novel Ni Ra Wit Ceti Penjual Orang yang telah disusun oleh tim Imbas. Selamat membaca
 
    Ida Bagus Ngurah kedatangan seorang tamu, yaitu Ida Wayang Ompong, saudaranya sendiri. Ida Wayan Ompog memang membawa suatu maksud. Ia berniat mengambil adik perempuan Ida Bagus Ngurah, Ida Ayu Kenderan (Dayu Kenderan) sebagai istri yang dikawin sah. Ida Wayan Ompog yang kaya-raya ini sebelumnya sudah memiliki dua orang gundik yang cantik-cantik, tetapi nafsu serakahnya tidak pernah terpuaskan.

    Ida Ayu Kenderan sebenarnya telah ditunangkan dengan Ida Nyoman Rai oleh Ida Bagus Ngurah. Perbuatan yang dirasakan pantas untuk membalas keluhuran budi keluarga Ida Gde Jawi. Kakek Ida Nyoman Rai itu telah memelihara bapak Ida Bagus Ngurah dan Dayu Kenderan ketika ia diusir kakanya, Ida Putu Mas karena terlibat percintaan dengan gadis yang sama. Meskipun Ida Made Bang telah memutuskan hubungan dengan Dayu Suci, ia terpaksa menjauhkan diri dari rumah pusaka orang tuanya. Tak lama kemudian Dayu Suci meninggal dunia. Kabarnya, Ida Putu Mas yang menyuruh orang meracuninya. Ida Putu Mas kawin dengan seorang perempuan kasta Brahmana, lalu mempunyai anak laki-laki, yaitu Ida Wayan Ompog. Ida Bagus Ngurah dan adiknya yang telah lama yatim piatu itu tidak memperoleh bagian sedikit pun.

    Dalam waktu bersamaan, Ni Rawit juga sedang menjadi tamu Dayu Kenderan. Perempuan bekas penari legong itu sengaja diminta Kenderan untuk menemaninya, sebab Ni Anis, sahabatnya karibnya, tidak datang sebagaimana biasanya.
 
   Rupanya Ni Rawit diberi upah oleh Ida Wayan Ompog agar bersedia mempengaruhi Dayu Kenderan. Ni Rawit membujuk-bujuk Dayu Kenderan dengan cara memperbandingkan Ida Nyoman Rai, tunangannya, dan Ida Wayan Ompog. “Akan Ida Nyoman Rai itu, apa yang dipandang padanya? Paras? Tetapi ia miskin dan masih muda, belum boleh dijadikan junjungan. Akan tetapi Ida Wayan Ompog, wah, niscaya ratu suka bersuamikan dia” (hlm. 8). Namun, Dayu Kenderan yang baru berusia empat belas tahun itu hanya menangis tesedu-sedu. Ia sama sekali buta mengenai hal orang bercinta-cintaan. Kebingungannya bertambah ketika Ni Rawit menyampaikan pula sepucuk surat dari Ida Wayan Ompog.

    Ida Wayan Ompog merasa kecewa karena usaha Ni Rawit kurang membawa hasil. Akhirnya, ia menyuruh Ni Rawit untuk pergi menemui Balian Beda untuk meminta guna-guna “jaran guying”. Obat pekasih tersebut ditanam I Sompelogan, pembantu Ida Wayan Ompog di halaman rumah Ida Bagus Ngurah, dan ditemukan Balian Sandi, dukun yang merawat Dayu Kenderan yang tiba-tiba sakit sepulangnya Ni Rawit beserta Ida Wayan Ompog. Ida Bagus Ngurah sejak semula sudah menaruh curiga kepada I Wayan Ompog, sebab kalau tak ada “udang di balik batu” mana mungkin saudara sepupunya yang congkak itu sudi berkunjung.

    Kegagalan menundukkan Dayu Kenderan lewat guna-guna tadi membuat Ni Rawit senang. Hal ini mengisyaratkan bahwa rejekinya masih akan terus mengalir. Ia kemudian berharap, guna-guna yang kedua dari Balian Beda pun mengalami kegagalan. Dayu Kenderan tidak dibiarkan sendirian. Ia selalu ditemani Ni Anis yang cepat-cepat kembali ke Mengwitani setelah mendengar berita Dayu Kenderan sakit. Apalagi, ia mengetahui siapa sesungguhnya Ni Rawit itu.

    Ida Bagus Ngurah bermaksud mempercepat perkawinan Dayu Kenderan dan Ida Nyoman Rai untuk menghindari hal-hal yang tidak baik, yang dapat timbul karena ulah Ida Wayan Ompog. Persiapan-persiapan menjelang perkawinan segera dilakukan. Ida Wayan Ompog yang mendapat laporan dari I Sompelogan, mengira bahwa guna-gunanya mengenai sasaran dan Ida Bagus Ngurah hendak menyelenggarakan pesta besar untuknya.

    Ibu dan mamak Ida Wayan Ompog segerta berangkat ke Mengwitani untuk meminang Dayu Kenderan. Namun, semangat mereka mendadak padam, bahkan mereka menjadi malu. Dayu Kenderan menolak lamaran Ida Wayan Ompog. “Hamba telah menjadi milik kanda Nyoman,’ sahut gadis itu dengan pendek” (hlm. 114).

    Ida Wayan Ompog tak dapat menerima kenyataan itu. Ia menganggapnya sebagai penghinaan. Malam harinya, ia diiringi beberapa orang kawannya menuju Mengwitani untuk menculik Dayu Kenderan. Sayang sekali, rumah saudara sepupunya itu sudah kosong. Tak ada lagi tanda-tanda orang tengah menyelenggarakan hajatan. Lalu tersiar kabar, Dayu Kenderan dan Ida Nyoman Rai telah hidup sebagai suami-istri di Karangasem. Ida Wayan Ompog sangat kecewa, tetapi lama-kelamaan ia dapat mengatasinya, sampai suatu hari ia didatangi oleh Ni Rawit bersama suami barunya, I Lempod. Ni rawit masih menaruh dendam pada Ni Anis yang ia rasakan menghalang-halanginya mendekati Dayu Kenderan. Kepadaian Ni Rawit dalam merayu tidak mampu menggerakkan hati Ida Wayan Ompog yang sudah insaf, untuk bersekongkol dengannya.

    Ni Anis diculik oleh I Lempod, kemudian diserahkan kepada Ni Rawit yang berencana menjualnya dengan harga tinggi. Suaminya, I Kerta dibantu I Pugeg, bekas suami Ni Rawit, sekuat tenaga berusaha menyelamatkan Ni Anis. Malang nasib Ni Rawit, ketika ia mengantarkan Ni Anis kepada Kapten kapal “La Tete de Mort”, kapal itu mulai bergerak. Keduanya ikut terbawa bersama kapal yang ternyata memuat sejumlah budak belian yang hendak dijual kepada Gusti Gde Putra. Termasuk yang akan dijual itu adalah Ni Rawit dan Ni Anis.

    Dari kapal La Tete de Mort, budak-budak belian itu dipindahkan ke kapal Le Esprit malin yang kemudian berangkat menuju Nusa Penida. Dalam perjalanan, kapal itu berpapasan dengan kapal jaga. Kedua kapal itu pun saling memuntahkan tembakan. Gempuran dari kapal penjaga memaksa para awaknya berikut sejumlah budak belian menyelamatkan diri. Tidak sedikt pula yang tewas tertembak. Di antara yang tewas itu adalah Ni Rawit. Sementara Ni Anis berhasil diselamatkan.
 
    I Kerta sekeluarga, setelah musibah yang menimpa Ni Anis, pindah ke Karangasem dan tinggal berdekatan dengan Ida Ayu Kenderan.

                                                                          ***
     Karma. Pesan inilah yang tersirat dan menjadi inti persoalan novel Ni Ra Wit Ceti Penjual Orang ini. Novel yang secara keseluruhan mengambil latar tempat di Bali ini, lebih menyerupai potret masyarakat Hindu-Bali pada masanya. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1935 oleh Balai Pustaka. Tahun 1975 diterbitkan sebagai cetakan kedua oleh Yayasan Ilmu dan Seni, Lembaga Seniman Indonesia Bali, dan tahun 1979 diterbitkan oleh penerbit Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
    
      Penelitian cukup mendalam terhadap novel ini pernah dilakukan oleh Made Sukada (FS UGM, 1983) sebagai tesis S2-nya, yang berjudul “Ni Rawit Ceti Penjua Orang: Analisis Struktural dan Semiotik.”

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   
Comments
4 Comments

4 komentar

Novel yang menarik ini.... saya senang dengan novel ini. Pikir saya tidak ada yang mengulas, terimakasih.

Sama-sama, semoga membantu :)

Kangen baca ini, apalagi saat mereka beradu kebolehan menafsir rontal bahasa Kawi.

Terimakasih atas kunjungan anda pada kami. semoga membantu anda dalam mengenang kisah dalam novel ini

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top