Thursday

Muda Teruna

Novel Online - Berikut ini kami ilmu bahasa paparkan sebuah novel online yang kami rangkum dengan sebaik-baiknya agar anda dapat mencerna dan memaknainya dengan baik. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang karya sastra Indonesia. Selamat membaca

Pengarang     : Muhammad Kasim (1886)
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun            : 1922

Sinopsis Novel Online

               Muda Teruna merupakan sebuah Novel yang sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat era 80-an. Menceritakan seorang Pemuda. Marah Kamil adalah seorang anak saudagar kaya. Ia disuruh ayahnya mengantarkan emas pesanan orang di Natal. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan orang yang berniat jahat mengambil emas yang dibawanya. Namun, berkat kecerdikannya, pencuri itu dapat dikelabui. Kemudian, Marah Kamil juga bertemu dengan dua orang penipu yang mencoba membohonginya. Kedua penipu itu juga tak berhasil mengakali Marah Kamil. Akhirnya, Marah Kamil dapat kembali menemui orang tuanya dengan hasil penjualan emasnya yang utuh.
              Sebagai layaknya anak muda, Marah Kamil juga jatuh hati pada lawan jenisnya. Hatinya tertambat pada seorang gadis cantik bernama Anni, yang tinggal di kampung M. Ia lalu menarik perhatian Anni sesuai adat yang berlaku di daerahnya. Ternyata, cinta kasih itu tak bertepuk sebelah tangan. Dua muda-mudi itu saling jatuh cinta.
               Dalam suatu kesempatan, Maran Kamil membantu Abdurrahman, sahabatnya, yang berniat melarikan seorang gadis. Menurut adat Mandailing, ada tiga cara yang biasa dipakai untuk menjemput anak gadis. Pertama, dengan upacara kebesaran yang biasa dilakukan oleh hartawan dan bangsawan. Cara ini membutuhkan biaya yang besar dan pesta yang meriah. Kedua, dengan cara sederhana, namun tetap membutuhkan biaya meskipun pestanya sederhana. Ketiga, cara ini sesuai dengan keadaan Abdurrahman, cara hulubalang; yakni melarikan gadis (hlm. 39). Namun, cara ini meskipun biayanya enteng, juga tak mudah; karena biasanya para pemuda kampung tempat tinggal sang gadis, sesuai dengan adat Mandailing, ingin menunjukkan rasa sayang kepada gadis dengan jalan menjaga sang gadis agar tidak mudah dilarikan oleh pemuda lain. Berkat kecerdikan Marah Kamil dan kerja sama para pemuda kampungnya, Abdurrahman dapat memboyong gadis pujaannya.
Berbeda dengan Abdurrahman, Marah Kamil tak dapat mempersunting Anni karena kedua orang tua Marah Kamil tak menyetujui hubungannya dengan gadis itu. Didorong oleh patah hatinya, ia memutuskan pergi merantau.
              Di perantauan, ia bekerja pada seorang pedagang emas. Ia diberi tugas sebagai juru tulis dan mandor kuli. Pada suatu perjalanan mencari emas, ia terpisah dari rombongannya. Ia tersesat di hutan belantara selama berhari-hari. Di hutan ia nyaris menjadi mangsa beruang yang kelaparan. Lalu, sesampainya di kampung pinggiran hutan, ia disangka pelarian tahanan. Ternyata, tanpa diduga, kampung itu adalah kampungnya sendiri, tempat tinggal orang tuanya. Selamatlah Marah Kamil.
Setelah bertemu dengan kedua orang tuanya, ia dinasehati ayahnya tentang bagaimana hidup itu berlaku. Setelah tinggal beberapa hari, Marah Kamil bermaksud mengembara lagi. Akan tetapi, kali ini ayahnya tak berkeberatan karena beliau menganggap pengembaraan menambah pengalaman dan kematangan jiwanya. Ayahnya berpesan agar ia selau berkelakuan baik.
                 Dalam perjalanan, Marah Kamil berkenalan dengan Duakip. Ia menyaksikan nasib Duakip yang selalu ditipu orang karena kebodohannya. Kemudian, ia bertemu dengan mantan majikannya ketika dulu bekerja sebagai juru tulis. Mantan majikannya itu memberikan gaji Marah Kamil yang belum diterimanya waktu lalu ketika ia tersesat di hutan belantara.
Di Bangkahulu, Marah Kamil menemukan sejumlah uang. Namun, uang itu dikembalikan kepada Zainul, si empunya. Setelah itu, mereka bersahabat karib, bahkan Zainul mengajak Marah Kamil berdagang barang kelontong bersama-sama. Berjualanlah mereka dari satu kampung ke kampung lain menjajakan dagangannya. Namun, Marah Kamil tak tahan dengan usaha itu. Ia berhenti berdagang. Kemudian ia melanjutkan pengembaraannya. Sampailah ia di Pasemah dan berkenalan dengan seorang lelaki tua yang memuji-muji kepintaran Belanda yang panjang akal. Dari Pasemah ia melanjutkan ke Jambi. Ia ingin berniaga di tempat itu.
                Ketika menuju Jambi, perahunya karam karena diserang perompak. Marah Kamil dibawa dan kemudian diangkat anak oleh salah seorang perompak itu. Akan tetapi, Marah Kamil belum mengetahui bahwa sebenarnya orang tua angkatnya adalah perompak yang mendiami sebuah pulau. Marah Kamil tinggal berbulan-bulan di pulau itu dan diajari berbagai kepandaian yang dimiliki bangsa perompak itu.
                Suatu hari, Marah Kamil menguntit ayah angkatnya pergi ke suatu gua yang dipakai tempat penyimpanan barang-barang hasil rampokan. Pada saat itu syak wasangka terhadap orang tua angkatnya terbukti, ternyata ayah angkatnya bukan orang baik-baik. Ketika Marah Kamil mengintai, salah seorang perompak itu memergokinya. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Marah Kamil dikejar perompak sampai ke tengah laut. Ia hampir putus asa ketika dua orang belanda datang menolongnya. Selamatlah ia. Marah Kamil sangat berterima kasih kepada orang Belanda itu, yang ternyata adalah mantan majikannya ketika ia menjadi juru tulis.
                Marah Kamil kemudian ikut dengan orang itu ke Singapura. “Sesampainya di Singapura Marah Kamil tiada pulang melainkan ia pergi ke Kelang mendapatkan bapak mudanya.” (hlm. 106) 

Resensi Novel Online

                                                                             ***
                Sebenarnya, Muhammad Kasim (lahir di Muara Sipongi, Tapanuli pada tahun 1886) lebih banyak dikenal sebagai pengarang cerita anak-anak. Pemandangan dalam unia Kanak-kanak (1924). Muda teruna boleh jadi merupakan novel satu-satunya yang dihasilkan Muhammad Kasim. Menurut Zuber Usman (1957), novel ini lebih banyak didasarkan pada pengalaman M. Kasim sebagai guru yang bertugas di berbagai daerah di Sumatra. Di akhir cerita, Marah Kamil yang sedang dalam keadaan bahaya, tiba-tiba saja ditolong oleh orang-orang Belanda yang dapat pula kita artikan sebagai sebuah pesan yang sesuai dengan kebijaksanaan Balai Pustaka pada waktu itu. Jadi, sebagai dokumen social, novel ini tetap mempunyai arti penting.
Demikian Resensi Novel Muda Teruna. semoga menambah wawasan anda.

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top