Friday

Layar Terkembang

Pengarang    : S. Takdir Alisjahbana
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun           : 1937; Cetakan XVIII, 1988

Berikut ini adalah Ringkasan Novel Layar Terkembang yang sudah disusun oleh Imbas. Selamat membaca.

     Tuti adalah putri sulung Raden Wiriaatmadja. Ia dikenal sebagai gadis yang berpendirian teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam, sangat berbeda dengan adiknya, Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang.

     Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika mereka sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggal di Martapura. Sumatra Selatan.

     Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi Yusuf, pertemuan itu cukup berkesan mendalam. Ia selalu teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya, wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis.

     Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati, menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal.

     Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu, Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa. Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam Kongres  Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita; suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.

     Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya, ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan alam tanah leluhurnya. Namun, ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalanannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura.

     Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun lalu melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.
Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sungguhpun demikian, pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.

     Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginannya untuk menjalin cinta dengannya. Sungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seseorang, Supomo dipandangnya sebagai bukan lelaki idamannya. Maka, segera ia menulis surat penolakannya.

     Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata, menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat.

     Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lamanya. Namun, keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih daripada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya, ia sudah pasrah menerima kenyataan.
Pada suatu kesempatan, di saat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, di situlah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami-istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga telah mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia; mengabdi kepada masyarakat, tidak hanya dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.

    Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Kemudian, setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria mengembuskan napasnya yang terakhir. “Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini… Inilah permintaan saya yang penghabisan, dan saya tidak rela selama-lamanya, kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain” (hlm. 209). Demikianlah pesan terakhir almarhum, Maria. Lalu, sesuai dengan pesan tersebut, Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi.

                                                                          ***
     “’Karya penting’ ketiga di antara roman-roman sebelum perang menurut anggapan umum, ialah Layar Terkembang…” Demikian tulis Teeuw (Sastra Baru Indonesia 1, 1980). Sebagian besar kritikus sastra, antara lain, Ajip Rosidi, Zuber Usman, Amal Hamzah, H.B. Jassin, maupun Teeuw, menyebut Novel Layar Terkembang sebagai novel bertendensi.

     Mengenai tahun terbit Novel Layar Terkembang ini, Pamusuk eneste, Ajip Rosidi, H.B. Jassin, dan Teeuw menyatakan bahwa novel ini terbit tahun 1936. Namun, pada cetakan VII (1959) dan cetakan XVIII (1988) tertulis bahwa cetakan pertama tahun 1937.
Pada tahun 1963, novel ini terbit dalam edisi bahasa Melayu di Kuala Lumpur dan hingga kini Novel Layar Terkembang masih terus dicetak ulang. Studi mengenai novel ini pernah dilakukan Mariam Binti Hj. Ismail (1973) dan Moh. Basir bin Haji Noor (1975) keduanya merupakan studi sarjana muda FS Unas. Sebelum itu, Noer Islam Moenaf (FS UI, 1961) melakukan penelitian terhadap novel itu sebagai bahan skripsi sarjananya. Adapun Somi Moh. Hatta (FKIP Ui, 1961) lebih banyak memaparkan kepujanggan Alisjahbana secara cukup lengkap. Hal yang juga pernah dilakukan A. H. Johns (1959), guru besar yang kini mengajar di Australian National University.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih



   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top