Wednesday

La Hami

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Jalan Tak Ada Ujung, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel La Hami. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Marah Rusli
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun           : 1953; Cetakan V, 1986

    Ompu Keli dan istrinya, Ina Rinda, sedang menanti kedatangan anaknya, La Hami, yang pergi beberapa tahun lalu. Kedua orang tua itu begitu khawatir akan keselamatan anaknya semata wayang itu, sungguhpun sebenarnya, hanyalah anak angkat. “Dewa, walaupun La Hami bukan putra kita sejati, tetapi rasanya bagi Adinda, lebih dari putra kandung. Apalagi sebab kita sendiri tidak dikaruniai Tuhan putra seorang…” (hlm. 15).

    Ompu Keli adalah seorang Datu Rangga di negeri Sumbawa, dengan gelar Raja Anjong, sedangkan istrinya bernama Putri Nakia. Oleh karena ia selalu bersikap adil dan bijaksana dalam mengambil keputusan, rakyat bahkan rajanya, Sultan Badrunsyah, sangat mengasihinya.

    Namun, Datu Kalileba (Perdana Menteri dan Panglima) yang dijabat Daeng Matita, tak senang terhadap Ompu Keli. Maka, ia pun merencanakan untuk mengenyahkan Ompu Keli. Daeng Matita dikenal pula sebagai orang yang berkomplot dengan bajak laut ganas, Ponto Wanike. Akibatnya, Datu yang bergelar Raja Anjong itu, bersama istrinya dan kedua bujangnya meninggalkan negeri Sumbawa dan tinggal di daerah Sanggar. Kemudian ia mengganti namanya, dari Raja Anjong menjadi Ompu Keli, dan istrinya, Putri Nakia menjadi Ina Rinda. Di daerah ini juga, suami-istri itu menemukan seorang bayi yang kemudian diberi nama La Hami

    Suatu hari, ayah angkat La Hami bermimpi agar La Hami pergi ke Donggo untuk membuka pintu derajat anak itu. Maka, perjalanan ke Donggo pun dilakukan. La Hami mengalami berbagai peristiwa dan akhirnya, sampai juga ia di Donggo.

    Konon persahabatan La Hami dengan Lalu Jala, putra Raja Sanggar, diawali dengan perburuan rusa. La hami dapat menyelamatkan sahabatnya itu yang nyaris menjatuhkan Lalu Jala ke dalam jurang. Sejak itu, La Hami diangkat menjadi Bumi Ngoco atau kepala tentara dan ayahnya, Ompu Keli, menjadi Ruma Hadat (hlm. 78).
Perlawanan La Hami ke Donggo beberapa waktu yang lalu, ternyata membawa akibat yang berkepanjangan. Secara tak sengaja ia melihat putri kerajaan Dompo yang hendak mandi. Menurut Nila Kanti, putri raja itu, La Hami telah melakukan kesalahan. Oleh karena itu, ia harus dihukum. Namun, ternyata pertemuan itu justru membuat keduanya jatuh hati. Oleh sebab itu, terpikirlah oleh ayah Nila Kanti, Baginda Sultan Abdul Aziz untuk mengawinkan anaknya itu. Kemudian, diadakanlah sayembara yang ditujukan kepada seluruh putra raja, khususnya yang mampu mengalahkan ular mestika.

    Mendengar sayembara yang digelar Sultan Abdul Aziz, Raja Sanggar, yaitu Sultan Amarul’llah meminta agar putranya, Lalu Jala, mau mengikuti sayembara itu. Padahal sebenarnya, Lalu Jala belum berniat berumah tangga. Namun, sebagai rasa hormatnya kepada ayahnya, ia bersama balatentaranya pergi menuju Dompo. Sayang, di tengah perjalanan, di Gunung Labumbu, mereka dicegat sekawanan penyamun Manderu. Lalu Jala dan tentaranya menderita kekalahan dan mereka ditahan.
Manderu dan wakilnya, Karaka, berniat menjual Lalu Jala dan Putri Nila Kanti kepada bajak laut Ponto Wanike. Dengan siasat yang jeli, Karaka berhasil masuk ke dalam istana kerajaan Dompo. Pada saat yang tepat, Karaka berhasil melarikan putri raja itu.

    La Hami sangat terkejut setelah mendapat berita bahwa Putri Nila Kanti dan Lalu Jala ditangkap penyamun Manderu. Kemudian, bersama dengan bujangnya, Maliki, ia bertindak. Komplotan Manderu dapat dengan mudah dikalahkan. Putri Nila Kanti dan Lalu Jala berhasil dikeluarkan dari sarang penyamun. Saat itu juga Nila Kanti dibawa ke Dompo.

    Sementara itu, kerajaan Sanggar mendapat ancaman serangan yang akan dilakukan oleh seorang yang selama ini mencari Raja Anjong (Ompu Keli). Ia tak lain adalah Daeng Matita. Bersama bajak laut Ponto Wanike, Daeng Matita menyerang Sanggar. Namun, La Hamid dan balatentaranya dapat mematahkan serangan itu. Daeng Matita mati di tangan La Hami.

    Keberhasilan La Hami menumpas segala bentuk kejahatan tersebar ke seluruh pelosok kerajaan. Sultan Kamaruddin, raja Bima pun mendengar berita tentang keperkasaan La Hami. Saat itu ia bersama istrinya sedang memikirkan kelanjutan kerajaannya itu. Siapakah yang bakal menggantikan tahta kerajaan?
Seperti “Pucuk dicinta ulam tiba” bahwa La Hami ternyata putranya sendiri, kini menjadi kenyataan. Bukti ini diperkuat dengan mengakunya istri Lalu Safiri tentang perbuatan licik suaminya yang membuang La Hami dua puluh tahun yang lalu (hlm. 149).

    Lalu Jala menceritakan kepada ayahnya hal yang sebenarnya –bagaimana perjuangan La Hami terhadap dirinya- sampai-sampai pada masalah pembunuhan ular mestika. Atas dasar itu, Sultan Amarul’llah mencabut niatnya untuk mengawinkan anaknya dengan putri Nila Kanti. Dengan begitu, La Hami-lah yang berhak meminang Nila Kanti. Di lain pihak, Lalu Jala terpikat pada adik kandung La Hami, Putri Sari Langkas.

Akhirnya, La Hami dengan Putri Nila Kanti dan Lalu Jala dengan Putri Sari Langkas. Mereka melangsungkan pernikahan.

                                                                       ***
    Novel kedua Marah Rusli ini, sungguh sangat berbeda dengan novel pertamanya, Sitti Nurbaya. Sejumlah peristiwa mistik yang sarat mewarnai novel ini, dalam konteks masyarakat sekarang mungkin sudah tidak menarik lagi. Namun, jalinan dunia mistik dalam masyarakat tradisional lengkap dengan kekhasan adat-istiadatnya –seperti yang digambarkan dalam La Hami- ternyata mampu menghadirkan daya tarik tersendiri. Dalam hal itulah La Hami tidak hanya kuat dalam menampilkan unsur kedaerahan (Pulau Sumbawa), tetapi juga dalam beberapa hal, -boleh jadi- dapat dijadikan sebagai dokumen sosial masyarakat Sumbawa pada saat itu.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top