Wednesday

Kehilangan Mestika



ilmubahasa.net
Pengarang    : Fatimah Hasan Delais (8 Juni 1914 – 8 Mei 1953)
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun           : 1935; Cetakan IV, 1955
Berikut ini adalah Ringkasan Novel Kehilangan Mestika yang telah disusun oleh Imbas. Selamat membaca.

      Menyadari bahwa di kampung halamannya, Mentok, Bengkulu, kaum wanita masih belum dapat menikmati kemajuan, terutama yang menyangkut pendidikan, Hamidah kembali ke kampungnya. Ia ingin mengajak kaumnya untuk meningkatkan harkat diri lewat dunia pendidikan.

      Di kampungnya ia mendirikan sebuah perkumpulan, dan banyak kaum tua mengecamnya. Tentu saja itu tidak membuat Hamidah mundur. Tetapi itu tidak dapat bertahan lama karena ia harus ke Palembang, sebagaimana telah ditetapkan oleh keputusan tugas mengajarnya. Sebelum keberangkatannya, Hamidah diajak ke Pangkal Pinang oleh bibinya. Disana ia bertemu dengan Ridhan, temannya semasa kecil. Ridhan pun akan akan ke Palembang juga. Maka, sepakatlah mereka untuk berangkat bersama-sama. Dalam perjalanan Ridhan mengutarakan cintanya kepada Hamidah, dan diterima. Sebuah cincin dibeli Ridhan untuk Hamidah merupakan tanda berseminya cinta mereka.

      Di Palembang, Hamidah tinggal di rumah sahabatnya. Begitu mengetahui bahwa Hamidah punya hubungan khusus dengan Ridhan, tuan rumah yang masih saudara Ridhan, merasa tak senang hati. Surat-surat yang dikirim Ridhan untuk Hamidah, tak pernah diteruskan. Datanglah Akhyar, teman Ridhan yang menanyakan mengapa Hamidah tak pernah membalas surat-surat Ridhan. Pemuda itu sendiri sakit, dan akhirnya meninggal di Singapura.

      Hamidah kembali ke kampungnya. Ia juga menghidupkan kembali perkumpulan yang pernah dibangunnya. Di situ, ia bertemu dengan Anwar dan Idrus; dua pemuda yang sama-sama menaruh hati kepada Hamidah. Namun, pilihan gadis itu jatuh kepada Idrus. Selanjutnya, atas usaha Hamidah dan Idrus, Anwar dapat menjalin cinta kasihnya dengan Rukiah.

      Perjalanan hidup Hamidah rupanya menentukan lain. Pesan ayahnya sebelum meninggal, yaitu agar saudaranya yang tinggal di Jakarta mau menerima Hamidah tinggal bersama mereka, memaksanya “menuju kota besar yang ramai mencari perubahan hidup…” (hlm. 63).

     Hubungan Hamidah tidak disetujui saudaranya. “Ingat-ingatlah engkau. Jangan berkawan terlalu akrab dengan Idrus, seorang yang berkelakuan kurang baik itu” (hlm. 67). Karena saudaranya hendak mempertemukan dengan Rusli, lamarannya terpaksa diterima oleh Hamidah, dan akhirnya menikah di kampung halamannya.

     Setelah perkawinan itu, pengantin baru kembali ke Jakarta. Namun, usaha Rusli gulung tikar. Orang tua Rusli kemudian meminta Suami-Istri itu untuk tinggal bersamanya di Palembang. Hijrahlah mereka kesana.
Disana mereka menempati rumah sendiri, setelah orang tua Rusli meningga dan harta warisannya dibagikan kepada yang berhak. Sekadar untuk menambah penghasilan, hamidah bekerja di sebuah perguruan swasta.

     Kebahagiaan itu rupanya tidak berlangsung lama. Malaise telah menyebabkan usaha suaminya bangkrut. Oleh karena itu, Rusli menggantikan pekerjaan istrinya dengan gaji yang serba tak berkecukupan, peristiwa itu sampai ibu mertua Hamidah meninggal. Selang beberapa lama, paman Ridhan menyerahkan harta warisan berupa uang kontan beberapa ribu dan sejumlah rumah. “Kami yang di dalam kesempitan, tiba-tiba mendapat kekayaan sebanyak itu” (hlm. 88).

      Dengan kekayaan itu, mereka berhasil membangun usahanya kembali. Sungguhpun demikian, keduanya masih juga belum merasa berbahagia karena belum dikaruniai seorang anak. Rusli memohon kepada istrinya agar diperbolehkan beristri lagi. Hamidah pun mengabulkan. Dari perkawinan lagi itu, lahir seorang anak laki-laki. Namun itu justru membuat Hamidah makin tersisih. Ia lalu meminta suaminya agar menceraikannya secara baik-baik. Esoknya, Hamidah dan Rusli, resmi bercerai.

     Hamidah kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Di Mentok, tanah kelahirannya itu, ia ternyata masih sempat bertemu dengan Idrus, bekas kekasihnya. Lelaki itu rupanya masih tetap mencintainya. Sayang, pertemuan itu merupakan pertemuan mereka yang terakhir. Sebab, Idrus yang sedang sakit itu, tak lama kemudian meninggal di hadapan Hamidah yang masih tetap mencintainya.

                                                                           ***
     Novel karya pengarang wanita asal Palembang ini, ceritanya hampir tak berbeda jauh dengan Kalau Tak Untung karya pengarang wanita lainnya, Selasih. Ceritanya lebih banyak terpusat pada kemalangan tokoh utamanya, Hamidah. Sungguhpun begitu, dalam gelombang penderitaan yang dialami Hamidah, pengarangnya sendiri –yang kebetulan nama samara yang sama dengan tokoh utamanya- terkesan hendak menampilkan ketabahan tokoh itu. Satu hal yang menarik –tetapi sayang tidak dikembangkan lebih lanjut- adalah usaha Hamidah untuk memajukan harkat kaumnya, yaitu merintis perkumpulan bagi kaum wanita, sungguhpun usahanya banyak ditentang kaum tua.
     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
.
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top