Friday

Katak Hendak Jadi Lembu

ilmubahasa.net
Pengarang    : Nur Sutan Iskandar
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun          : 1935; Cetakan V, 1978

Berikut ini adalah ulasan Novel Katak Hendak Jadi Lembu yang telah disusun oleh Imbas. selamat membaca.
     Zakaria adalah seorang haji yang kaya raya. Ia mempunyai anak tunggal bernama Suria. Sejak kecil Suria hidup berkecukupan dan selalu dimanjakan ayahnya. Dengan didikan seperti itu, ia justru menjadi seorang anak yang pongah dan sombong. Bahkan, sifat dan tabiatnya yang buruk itu terbawa sampai akhir hayatnya.

     Haji Hasbullah, teman karib Haji Zakaria, termasuk seorang haji yang kaya-raya pula. Ia pun mempunyai seorang anak gadis satu-satunya, bernama Zubaedah (Edah). Zubaedah berparas cantik dan berbudi baik. Ayah Zubaedah telah memilihkan calon suaminya, Raden Prawira, yang berpangkat manteri polisi. Akan tetapi, suatu ketika Haji Zakaria datang kepada Haji Hasbullah, memohon agar Zubaedah dinikahkan dengan Suria. Haji Hasbullah tak dapat menolah permintaan teman karibnya itu. Maka, pernikahan Suria dan Zubaedah dilaksanakan.

     Perkawinan tanpa didasari rasa cinta sama cinta itu justru membawa petaka bagi Zubaedah. Kesempatan bagi Suria adalah setelah ayahnya meninggal dunia. Ia berfoya-foya dengan harta peninggalan ayahnya itu. Selama tiga tahun, ia pun meninggalkan Zubaedah yang baru melahirkan anaknya yang pertama, Abdulhalim.

     Ketika harta ayahnya telah ludes, Suria kembali pada Zubaedah. Ia mengakui bahwa perbuatannya selama ini telah salah. Pada waktu itu Suria telah bekerja sebagai juru tulis di kantor asisten di kabupaten. Penghasilannya yang kecil selalu tak mencukupi kebutuhan keluarganya. Maka, Abdulhalim terpaksa dibawa kakeknya dan disekolahkan di sekolah Belanda, lalu dilanjutkan ke sekolah bergengsi di Bandung. Sementara itu, anak Suria terus bertambah. Kedua adik Abdulhalim bernama Saleh dan Aminah. Oleh Suria, keduanya disekolahkan di HIS. Itu semua dilakukan Suria hanya karena ia ingin dipandang dan dihormati masyarakat. Layaknya orang mengatakan “besar pasak daripada tiang”. Utang Suria semakin bertumpuk. Untuk menutupi utang-utang suami dan biaya sekolah anak-anaknya, Zubaedah sering berkirim surat pada ayahnya, meminta agar dikirimi uang.
 
      Seringkali terjadi pertengkaran mulut antara Zubaedah dan Suria. Zubaedah tak kuat lagi menahan malu kepada para penagih yang selalu datang ke rumahnya. Namun, Suria sendiri bersikap acuh tak acuh menghadapi kenyataan itu. Bahkan, ia kini ingin naik pangkat ketika didengarnya ada lowongan klerek. Hal itu ia ceritakan kepada istrinya bahwa beberapa hari yang lalu ia mengirim permohonan untuk mengisi lowongan itu. Ia begitu yakin atasannya akan berusaha menolongnya. “Tak usah mengeluh juga, Edah,” ujarnya, “kalau sudah keluar surat angkatan akang jadi klerk, tentu klerk kelas 1, tak perlu kita disokong ayah dari Rasik lagi. Dengan sekejap saja kita sudah lebih daripada manteri polisi yang tertua dinasnya” (hlm. 89).
 
        Utang Suria terus menggunung. Apalagi karena Suria berani mengambil barang-barang lelangan atasannya. Maka, untuk melunasi utang-utang itu, Suria jadi gelap mata. Ia “telan” uang kas di kantornya. Perbuatannya itu diketahui atasannya. Kemudian, ketika Suria dipanggil atasannya. Ia bahkan mengajukan permohonan berhenti bekerja.

    Rupanya, Suria telah merencanakan sebelumnya. Dalam pikirannya, setelah berhasil menggelapkan uang kas, ia akan membawa istri dan anak-anaknya pindah ke rumah Abdulhalim yang kini telah bekerja dan telah pula berkeluarga. Suria mengirim surat kepada anaknya dan mengutarakan maksudnya itu. Sebagai seorang anak yang ingin membalas budi orang tua, Abdulhalim sama sekali tak merasa berkeberatan dengan keinginan ayahnya. Mulai saat itu, Suria tinggal di rumah anaknya.

     Orang tua itu rupanya benar-benar tak tahu diri. Ia tetap bersikap seperti tuan rumah layaknya. Adapun Abdulhalim dan menantunya dianggapnya sebagai anak yang harus patuh pada orang tua, sekalipun Abdulhalim sebagai kepala rumah tangga. “….Patutkah seorang menantu menghinakan mertuanya, patutkah seorang perempuan berkata sekasar itu terhadapku, bekas manteri kabupaten? Sudah salah ayahmu mengawinkan Abdulhalim dengan anak jaksa kepala itu. Mengharapkan gelar dan paras saja. Coba diturutkan nasihatku dulu: dikawinkan Abdulhalim dengan anak wedana, yang telah jadi guru di Tasik itu, tentu takkan begini jadinya” (hlm. 164).

     Tak kuasa Zubaedah melihat tingkah laku suaminya yang sering mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Hal itu pula yang membuat kehidupan rumah tangga anaknya mulai sering diwarnai percekcokan. Bagi Zubaedah, keadaan demikian sungguh membuatnya tidak enak hati. Bagaimanapun, sebagai seorang ibu, ia ingin melihat anaknya hidup bahagia. Kebahagiaan anaknya, justru terganggu oleh ulah Suria yang merasa bebas berbuat sekehendak hati terhadap anaknya. Ia menyesalkan sikap suaminya. “Sesal Zubaedah terhadap  Suria semata-mata, dan sesal tak putus itulah yang mendatangkan penyakit padanya” (hlm. 166). Tekanan batin yang mendatangkan penyakit itu pula yang mengantarkan Zubaedah mengembuskan napasnya yang penghabisan. Ia meninggal dihadapan semua kaum keluarganya.

     Kematian istrinya telah membuat Suria merasa sangat malu terhadap kelakuannya sendiri. Ia telah mengganggu ketenteraman rumah tangga anaknya. Ia pula yang menyebabkan istrinya menderita hingga maut menjemputnya. Perasaan malu yang tak tertanggungkan itu, memaksa Suria mengambil keputusan; ia pergi entak kemana. Pergi bersama kesombongan dan keangkuhannya. Menggelandang membawa sifatnya yang tak juga berubah.

                                                                       ***
     Novel Katak Hendak Jadi Lembu ini, termasuk salah satu novel terbaik yang dihasilkan Nur Sutan Iskandar. Agak mengherankan bahwa pengarang kelahiran Sumatra Barat ini, mampu menulis novel yang begitu kuat menghadirkan latar tempat dan latar social masyarakat Pasundan. Latar tempatnya memang terjadi di daerah Jawa Barat. Hampir semua tempat di seputar Jawa Bara –Cirebon, Tasikmalaya, Sumedang, dan Bandung- berikut panorama alamnya dilukiskan dengan amat meyakinkan. Begitu pula perilaku dan sikap para bangsawan berikut sebutan-sebutan yang khas Sunda.
    
     Dalam hal tersebut, tersirat pengarangnya hendak melakukan kritik terhadap priayi atau bangsawan Sunda yang terlalu membanggakan kebangsawanannya hingga tak mau bekerja keras dan lebih suka dilayani segala sesuatunya. Studi mengenai karya Nur Sutan Iskandar, lihat ulasan pada ringkasan Hulubalang Raja.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top