Tuesday

Karena Anak Kandung

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Novel Belenggu, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Novel Karena Anak Kandung. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : M. Enri (1911-8 Agustus 1948)
Penerbit    : Balai pustaka
Tahun        : 1949; Cetakan VII, 1988

    Akibat malaise yang berkepanjangan, banyak karyawan kantor di Padang di PHK-kan. Salah seorangnya ialah Khairil. Akibatnya, ia menanggung beban yang cukup berat. Pada mulanya, ia mencoba tetap bertahan di kota itu sambil mencari pekerjaan baru. Namun, usaha itu tak bisa terwujud dalam waktu yang singkat, bahkan tidak juga membuahkan hasil. Keputusan akhir adalah ia bersama istrinya, Rukayah, dan Noviar, anaknya, terpaksa pulang ke kampungnya di Bukittinggi. “Rukayah”, kata ikhtiar yang dapat kulakukan sudah kukerjakan, tapi satu pun tak berbuah. Pendeknya, di sini taka da rezeki kita lagi. Biarlah kucoba di negeri lain, mudah-mudahan sampai juga yang kita maksud” (hlm. 12).

    Akan tetapi, kepulangan mereka di kampung halaman justru memperburuk keadaan Khairil. Orang yang selama ini benci dan iri kepada Khairil ialah Sutan Malakewi, suami Rohana, saudara Rukayah. Ia merasa gembira mengetahui keadaan Khairil yang akan menumpang hidup di rumahnya. Hal itu merupakan balas dendamnya atas kejadian masa lalu tatkala ia berniat meminang Rukayah untuk dijadikan istri Jamail, kemenakannya.

    Sejak Khairil tinggal di rumah itu, tak bosan-bosannya Sutan Malakewi mempengaruhi Rukayah agar mau meninggalkan suaminya dan menerima pinangan Jamali. Sungguhpun demikian, Khairil tetap sabar dan tabah dalam menghadapi hasutan yang begitu menghina dirinya. Bahkan, ia lebih giat berusaha untuk menambah ilmu pengetahuan. Dengan uang simpanan yang semula dimaksudkan untuk keperluan Noviar, ia gunakan sebagai biaya kursus bahasa Inggris dan tatabuku. “Sungguh pun demikian, dan meskipun uang itu akan habis untuk keperluan belajar, tidaklah diperdulikannya lagi, karena ia percaya kemudian hari akan dapat menggantikannya kembali, bahkan lebih dari itu” (hlm. 27).

    Pengaruh Sutan Malakewi akhirnya merasuk juga dalam diri Rukayah, sampai akhirnya, perceraian Khairil dengan Rukayah tak dapat dihindarkan lagi. Rukayah menikah dengan Jamali. Tak lama kemudian, mereka pindah ke Medan. Jamali membuka toko di kota besar itu. Sebenarnya, kepindahan itu hanyalah keinginan Jamali semata karena ia tak suka pada Noviar, anak tirinya itu.

    Sementara itu Khairil terus berusaha untuk mendapatkan Noviar sebagai haknya. Namun, Noviar telah berada di Medan bersama ibunya. Semakin bencilah Jamali melihat Rukayah yang begitu sayang kepada anaknya itu. Pertengkaran suami-istri itu tak dapat dielakkan. Rukayah meninggalkan Jamali. Ia bersama Noviar kembali ke kampungnya. Ia benar-benar sadar bahwa selama ini telah terpengaruh oleh harta dan melupakan anak kandungnya. “…Hanyalah manusia yang tamak… yang loba sebagai aku ini jualah yang memakan umpanmu, karena disangka enak dan manis. Mulai hari ini aku telah tobat… minta ampun akan kesalahan terhadap anakku yang dihadiahkan Tuhan sebagai suatu barang yang amat suci. Anakku tak akan kusia-siakan, tidak akan kubuang sebagai yang selalu menjadi niatmu ….” (hlm. 113).

    Sebagai penebus kesalahan dan dosa yang dilakukannya terhadap bekas suaminya, Rukayah berkirim surat dan menyatakan permohonan maafnya kepada Khairil. Ia mohon ampun atas perbuatannya selama ini, khairil, yang berbudi luhur dan bijaksana, mau memaafkan kesalahan bekas istrinya itu. Ia pun berjanji tak akan beristri lagi.

    Berkat ilmu pengetahuan yang dipelajarinya beberapa waktu yang lalu, Khairil diterima sebagai salah seorang karyawan di Jakarta. Noviar ditinggalkannya bersama Rukayah. Suatu ketika, saat ia berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor, ia bertemu dengan Asni, kekasihnya dulu. Pertemuan yang tak disangka-sangka itu mengingatkannya pada masa-masa saat ia bersama Asni. Bagi Khairil, pertemuannya dengan Asni justru membuatnya jadi tersiksa. Di satu sisi, ia telah berjanji untuk tidak menikah lagi, hanya karena demi kelanjutan masa depan anaknya. Namun, di sisi lain, Khairil tetap mencintai Asni sebagaimana Asni pun mencintainya. Oleh karena itu, demi kebaikan Asni sekaligus Noviar di kemudian hari, Khairil tetap pada pendiriannya, seperti ia katakana, “Segala yang tersebut dalam suratmu akan kuturut dengan jujur dan sepenuh hatiku,” “… Tetapi… hanya sebuah yang tak dapat kulakukan, yaitu kembali kepada jandaku sebagai yang kau perintahkan…” (hlm. 162).

                                                                      ***

    “Yang patut dicatat tentang Novel Karena Anak Kandung ini ialah watak si bapak yang, dengan kegigihan yang tidak sedikit pun bersifat Minangkabau, tidak menghiraukan perasaannya sendiri demi tanggung jawab terhadap anaknya”. Demikian Teeuw (Sastra Baru Indonesia 1, 1980; hlm. 91) mengakhiri komentarnya terhadap novel Karena Anak Kandung karya M. Enri. Hal yang senada juga dikemukakan Zuber Usman (Kesusastraan Baru Indonesia, 1964; hlm. 104-108) dan Rusman Sutiasumarga (Aneka Pustaka, 1983; hlm. 16-20). Novel ini aslinya berjudul Didukung Kewajiban, kemudian atas persetujuan pengarangnya diterbitkan dengan judul Karena Anak Kandung.


     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top