Wednesday

Jalan Tak Ada Ujung

Ilmubahasa.net - sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Nusa Penida, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Jalan Tak ada Ujung. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Mochtar Lubis (7 Maret 1922)
Penerbit        : Pustaka Jaya
Tahun           : 1952; Cetakan VII, 1990


    Secara tidak sengaja dan di luar keinginannya, seorang guru Sekolah Rakyat di Tanah Abang terlibat dalam pergolakan revolusi yang sedang terjadi. Guru Isa, demikian ia biasa dipanggil, adalah seorang tamatan HIK yang hidup tenteram semasa penjajahan Belanda. Jiwanya lembut, penyuka musik, sepakbola, dan dikenal sebagai orang baik oleh masyarakat. Berbeda dengan sifatnya yang tak menyukai kekerasan, ia mengalami dan melihat kekejaman tentara Jepang.

    Keadaan zaman Jepang terus-menerus meneror dirinya hingga ia merasa merasa menjadi sangat takut meskipun mula-mula hal itu tak disadarinya. Akhirnya, lambat-laun ia menyadari ketakutan itu, tetapi jiwanya sudah lemah. Kelemahan jiwanya lama-kelamaan mempengaruhi keadaan jasmani Guru Isa. Akibatnya, enam bulan setelah perkawinannya dengan Fatimah, ia tak sanggup meladeni dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami; ia menderita impoten. Penyakitnya tak kunjung sembuh meskipun telah berobat ke dokter.

    Sesuai dengan jabatannya sebagai wakil ketua panitia keamanan rakyat, Guru Isa menghadiri rapat yang diadakan oleh pemuda Kebon Sirih. Ia tak dapat menolak ketika didesak untuk menerima tugas sebagai kurir, mengantar surat-surat di dalam kota dan juga senjata yang dibutuhkan dalam perjuangan. Tugas itu dilaksanakannya juga meskipun dirinya merasa enggan dan takut.

    Kemudian Guru Isa berkenalan dengan seorang pemimpin pejuang bernama Hazil. Rasa kagum menyaksikan semangat yang berkobar dalam diri pemuda yang berperawakan kurus itu dan ditambah dengan kegemaran yang sama akan music –Guru Isa seorang violis dan Hazil seorang komponi- membuat Guru Isa menjadi akrab dengan Hazil. Keduanya menjadi sahabat kari. Hazil sering mengunjungi Guru Isa di rumahnya di jalan Jaksa. Guru Isa dapat melupakan kemalangannya dan saat-saat seperti itu membuatnya merasa bahagia.

    Guru Isa dan Hazil bersama-sama berjuang dalam alur revolusi melawan Belanda yang berniat menancapkan kembali kekuasaannya setelah Jepang kalah. Hanya, motivasi yang mendorong kedua sahabat itu berbeda. Guru Isa berjuang karena terpaksa dan takut, sedangkan Hazil berjuang karena cita-cita pribadinya.
Perjuangan bagi Guru Isa sangat mengerikan. Ia terpaksa turut memindahkan senjata-senjata dari ibu kota ke luar kota. Terpaksa pula ia harus berhubungan dengan orang-orang kasar dan buas. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai kuriti, ia selalu dikejar-kejar rasa takut. Bila ketakutan Guru Isa menjadi-jadi, ia jatuh sakit. Penyakit malarianya kambuh.

    Jika Guru Isa sakit, Hazil-lah yang selalu menjenguk dan memberi semangat agar sahabatnya itu sembuh. Namun, jika sembuh, Guru Isa tak mampu menahan panggilan tugasnya untuk mengajar murid-muridnya. Di sela-sela Guru Isa sakit dan mengajar itu terjadi peristiwa antara Hazil dan Fatimah, istri Guru Isa. Fatimah akhirnya tak sanggup menahan derita karena suaminya impoten. Meskipun pada awalnya ia merasa jijik kalau mengingat keintimannya besama Hazil, kebutuhan biologisnya dan mimpinya meraih kepuasan selalu mengalahkan rasa jijiknya.

    Akhirnya, hubungan mesra Fatimah dengan Hazil diketahui oleh Guru Isa ketika ia menemukan pipa rokok Hazil di bawah bantalnya. Ia sangat marah. Ia mau menghancurkan istrinya kalau saja istrinya ada di rumah pada saat itu. Namun, setelah emosinya reda, ia merasa takut untuk menanyakan hal itu kepada isrinya. Ia makin merasa rendah diri karena ketidakberdayaannya melakukan tugas sebagai suami.

    Suatu hari Guru Isa bersama Hazil dan Rachmat mendapat tugas melemparkan granat di Kramat setelah bioskop bubar. Pekerjaan itu berjalan dengan baik. Namun, beberapa hari kemudian Guru Isa mendapat berita bahwa salah satu pelempar granat itu tertangkap Belanda.

    Guru Isa ingin melarikan diri, tetapi tak jadi setelah berpikir tak ada orang yang akan menyembunyikannya. Akhirnya, ia menunggu dan menghadapi apa pun yang akan terjadi pada dirinya. Pada waktu menunggu ini timbul kembali kesadaran bahwa sesuatu yang dibayangkan ternyata lebih besar daripada kejadian yang sebenarnya.
Kemudian Guru Isa ditangkap oleh tentara Belanda. Ia disiksa supaya mengakui perbuatannya. Timbul niatnya untuk mengakui semua perbuatannya, tetapi rasa takutnya kembali menutup mulutnya. Ia tak membuka mulut.

    Suatu ketika Polisi Militer mempertemukan Hazil di kamar tahanan Guru Isa. Tampak pula bekas siksaan pada wajah Hazil. Namun, dalam pandangan Guru Isa, Hazil kini tidak lagi seperti yang dikenalnya. Temannya yang selama ini dikagumi memiliki semangat yang menyala-nyala dan selalu kelihatan tegar, hanya dengan “sebuah tempeleng di kepalanya sudah cukup untuk menyuruhnya bercerita.” (hlm. 124). Hazil telah mengkhianati kawannya, perjuangannya. Melihat begitu rapuhnya jiwa temannya, timbul kesadaran baru dalam diri Guru Isa. Jika Hazil akhirnya dihancurkan oleh ketakutannya sendiri, Guru Isa tidak mau mengalami hal yang sama.

    “Guru Isa merasa perobahan dalam dirinya. Rasa sakit siksaan pada tubuhnya tidak menakutkannya lagi. …Orang harus belajar hidup dengan ketakutan-ketakutannya… Sekarang dia tahu… Tiap orang punya ketakutannya sendiri, dan mesti belajar hidup dan mengalahkan ketakutannya.” (hlm. 125). Begitulah, kesadaran Guru Isa ini berhasil mengatasi ketakutan yang selama ini selalu mengganggu jiwanya. Kesadaran ini pula yang memulihkan kejantanannya sebagai lelaki. Ia tak lagi impoten. Perasaan bahagia menyelimuti Guru Isa. Kesembuhan jiwa dan raga Guru Isa, sungguh telah membawanya merasa sebagai pemenang. “Dan ketika Guruisa mendengar derap sepatu datang ke pintu kamar mereka, dia merasa damai dengan rasa takutnya yang timbul. Dia tahu teror mereka tidak akan bisa menyentuhnya lagi. Dia telah bebas.” (hlm. 127).

                                                                  ***
    Jalan Tak Ada Ujung merupakan novel kedua Mochtar lubis yang banyak mendapat tanggapan –dan tentu juga pujian- dari para kritikus sastra Indonesia. “…Jalan Tak Ada Ujung, merupakan karya yang lebih kuat, dan lebih padu sifatnya,…” Demikian Teeuw (1980; hlm. 263) memberi tanggapan atas novel itu. Novel ini pada tahun 1968 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A.H. Johns, guru besar di ANU, Autralia, berjudul A Road with no End. Pada tahun 1953, Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) memberikan hadiah untuk novel ini, untuk roman yang terbit tahun 1952.

    Studi mendalam terhadap Novel Jalan Tak Ada Ujung ini penah dilakukan M.S. Hutagulung yang merupakan studi psikologi sastra pertama yang dilakukan kritikus Indonesia, serta oleh Henri Chambert-Loir, Mochtar Lubis, une Vision de I’ Indoneseie Contemporanie (disertasi; Paris, 1974), dan David T. Hill, (ANU, 1988) “Aspect of Indonesian Writing and Journalism, with special reference to Mochtar Lubis” untuk tesis M.A.-nya.

    Di Indonesia, studi terhadap karya Mochtar Lubis pernah dilakukan juga oleh Bimo Mulyohardjo dan B.A. Wisjnu Sujianto (keduanya dri FS Undip) serta Surono (FS UGM, 1973) dan Ahmad bin Abdul Hamid (FS Unas, 1974). Novel ini –menurut Liang Liji (1988)- sudah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Cina dan dijadikan sebagai salah satu bahan pengajaran di Tiongkok.
   
    Jalan Tak Ada Ujung pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka (1952) hingga cetakan II (1958). Sejak cetakan ketiga (1971) sampai cetakan VII (1990) diterbitkan Pustaka Jaya, Jakarta.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top