Friday

Dian Yang Tak Kunjung Padam



Pengarang      : S. Takdir Alisjahbana (11 
                           Februari   1908)
Penerbit         : Dian Rakyat
Tahun            : 1932; Cetakan I, Balai Pustaka, 

                         Cetakan VIII, 1984
 
Berikut ini adalah ringkasan dan ulasan mengenai Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam. Selamat Membaca.
            Cinta agaknya memang tak mengenal pangkat dan kedudukan. Ia juga merupakan “kekuatan Yang Maha Kuasa, yang tak dapat ditahan atau dimusnahkan. Apa jua pun menghalanginya, yang mengempangnya, namun cinta itu akan terus menurut jalannya” (hlm. 14). Demikianlah yang dirasakan Yasin, seorang pemuda udik yang tinggal bersama ibunya. Pemuda yang sudah tidak berayah lahi itu jatuh cinta dalam pandangan pertama kepada Molek, seorang gadis anak Raden Mahmud yang tinggal di Palembang. Perbedaan derajat antara Yasin –yang seorang kebanyakan- dan Molek –yang keturunan bangsawan –tidak lah menghalangi dua sejoli itu menyatakan cinta.
         Begitulah, saat yang dinanti pun tiba. Melayanglah sepucuk surat cinta Yasin yang diterima Molek dengan sukacita. “….dengan segera, -dibukanyalah surat itu. Matanya yang hitam gemerlap itu pun mencari nama yang tercantum di bawah… ‘Yasin,’ keluar dari mulut Molek, seakan-akan ia mengeluh, mengeluarkan isi sanubarinya” (hlm. 53). Beberapa saat kemudian, sambil menunggu saat yang tepat, ditulisnya surat balasan buat Yasin. “Setelah reda golora cinta itu, ia pun terus menulis, demikian bunyinya. “Tidak dapat Adinda katakan betapa girang hati Adinda menerima surat Kakanda itu’… yang kemudian ditutup dengan kalimat, ‘Satu kita di dunia ini, satu pula kita sampai akhirat’” (hlm. 56).
            Sejak saat itu mengalirlah surat cinta dari kedua belah pihak. Cinta dua sejoli yang berbeda derajatnya itu pun tumbuh mekar. Bagi Yasin, percintaannya yang sembunyi-sembunyi itu telah melambungkan angan-angannya untuk memiliki gadis pingitan itu. Ia pun bekerja sungguh-sungguh mengusahakan kebunnya dari situlah nafkah hidup bersama ibunya yang sudah mulai tua.
           Menyadari perasaannya sendiri, Yasin kemudian menyatakan pengharapan kepada ibunya untuk mempersunting Molek. Berembuklah sanak keluarga Yasin, mengatur rencana pelamarannya. Lalu, pada saat yang ditentukan, mereka datang ke rumah saudagar kaya Raden Mahmud. Kepada bangsawan itu diutarakan maksud kedatangannya bahwa Yasin bermaksud meminang putri bangsawan itu. Tentu saja, lamaran itu dianggap sebagai suatu penghinaan. Bagaiman mungkin putri seorang bangsawan bersuamikan pemuda udik. “Orang lain biarlah orang lain, tetapi aku tidak mau didekati si Ulu pongah itu, meski bagaimana juapun bordering-dering perak dan emasnya” (hlm. 75). Itulah sikap Raden Mahmud menanggapi lamaran yang diajukan keluarga Yasin. Cek Sitti, istri Raden Mahmud, juga beranggapan bahwa anak gadisnya mesti mendapat jodoh seorang bangsawan. Itulah sebabnya, Cek Sitti begitu marah mendengar bahwa Molek memang kenal baik dengan Yasin, pemuda yang dalam pandangan Cek Sitti sebagai orang tak kenal adat.
        Nyatalah bagi Yasin dan Molek bahwa pengharapan cinta saja tak cukup mampu untuk mempertemukan mereka ke pelaminan. Hubungan dua sejoli itu harus putus karena perbedaan martabat. Sungguh pun demikian, Yasin masih kukuh mencintai Molek. Hal yang juga dirasakan putri bangsawan itu. Ia tetap akan setia menunggu pemuda idamannya. Maka, tak ada pilihan bagi mereka kecuali bersabar menunggu sang nasib yang akan mempertemukan mereka. Kembali surat-surat cinta mereka yang menjadi saksi kesetiaan keduanya.
         Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian, sungguh terasa amat menyakitkan Molek maupun Yasin. Seorang lelaki yang sudah cukup umur, datang melamar Molek. Raden Mahmud dan istrinya yang mengetahui bahwa lelaki keturunan Arab itu termasuk pedagang kaya dan ternama di Palembang, tentu saja dengan senang hati menerima lamarannya.
           Setelah usaha untuk kabur dari rumahnya gagal, Molek akhirnya terpaksa menerima kenyataan; menikah dengan Sayid Mustafa, lelaki keturuan Arab itu. Walaupun begitu, cinta Molek kepada Yasin tetap tak dapat dipadamkan. Terlebih lagi, suami Molek mengawininya hanya karena harta kekayaan Raden Mahmud, dan bukan atas dasar cinta atau keinginan membahagiakan Molek. Selanjutnya, kehidupan rumah tangga itu sama sekali tidak mendatangkan kebahagiaan. Molek bagai hidup dalam lingkaran kesepian. Kesepian itu pun makin terasa mengganggunya ketika orang tuanya pergi ke Mekah menunaikan ibadah haji.
          Pada saat seperti itulah ingatannya kembali kepada Yasin. Kerinduannya untuk berjumpa dengan sang pujaan –seperti biasanya- ia nyatakan lewat surat. Yasin yang menerima surat itu, segera berniat menemui kekasihnya. Dengan menyamar sebagai penjual nenas, Yasin pergi ke rumah Molek. “Ia meneriakkan nenasnya, tetapi pada suaranya kentara benar, bahwa perbuatannya itu tipu muslihat belaka.” “….sekonyong-konyong terdengar olehnya bunyi orang berteriak amat halusnya: ‘Nenas kemari” (hlm. 115). Terjadilah pertemuan dua anak manusia yang selalu diganggu rindu. Lalu, masing-masing menumpahkan rasa cintanya.
           Rupanya, pertemuan itu merupakan perjumpaan yang terakhir. Sebab tak lama kemudian, Molek jatuh sakit yang ternyata membawanya pada kematian. Berita itu, tentu saja amat menghancurkan Yasin.
\
          Yasin kemudian memutuskan untuk kembali ke desanya di Gunung Megang. Belakangan, setelah ibunya meninggal, Yasin memilih jalan hidupnya dengan menyepi di dekat Danau Ranau di lereng Gunung Seminung. Di sini ia memang tidak mendapatkan nikmat dunia, namun terbuka jalan baginya untuk mencapai nikmat akhirat yang kekal dan tiada terbatas.

                                                                                 ***
              Seperti umumnya tema novel-novel Balai Pustaka pada masa permulaan, tema Dian yang Tak Kunjung Padam juga masih berkisar pada persoalan cinta dalam hubungannya dengan adat-istiadat yang digenggam kukuh oleh pihak orang tua. Novel kedua Sutan Takdir Alisjahbana ini, bersama novel pertamanya, Tak Putus Dirundung Malang (1929), pernah diteliti sebagai bahan skripsi Ambarini Asriningsari dari Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.
 Demikian Ringkasan dan ulasan Novel Dian Yang Tak Kunjung Padam. Semoga bermanfaat bagi anda. salam Ilmu Bahasa
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top