Thursday

Darah Muda



Sinopsis Novel Darah Muda Novel Online - Berikut ini kami ilmu bahasa paparkan sebuah novel online yang kami rangkum dengan sebaik-baiknya agar anda dapat mencerna dan memaknainya dengan baik. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang karya sastra Indonesia. Selamat membaca

Pengarang    : Adinegoro (1904-1966)
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun           : 1927; Cetakan II, 1931

Sinopsis Novel Online

Berikut Ini Ulasan Novel Darah Muda.
         Setelah sepuluh tahun lamanya Nurdin menuntut ilmu di Sekolah Dokter (Stovia), akhirnya pemuda asal Minangkabau itu berhasil juga menyelesaikannya dengan baik. Resmilah ia menjadi dokter. Segera ia bermaksud menjumpai orang tuanya, sebagaimana yang diharapkan kedua orang tuanya.
          Dalam perjalanan ke kampung halamannya itu, ia bertemu dengan seorang gadis asal Sunda, bernama Rukmini. Gadis yang telah menjadi guru HIS itu, bersama ibunya, bermaksud ke Bangkahulu. Bagi Nurdin, pertemuannya dengan Rukmini di kapal, punya arti yang sangat mendalam. Setidak-tidaknya telah membuat sifat Nurdin –yang tadinya pendiam jika berhadapan dengan wanita- jadi berubah. Ia pun berusaha untuk dapat berkenalan dengan gadis itu.
             Seperti rencana semula, Nurdin tidak tinggal lama di rumah orang tuanya di Padang. Ia segera kembali ke Betawi, kemudian bekerja di CBZ, sebuah rumah sakit besar. Setahun kemudian, ia dipindahtugaskan ke Bukittinggi. Tentu saja, Nurdin senang dengan kepindahannya itu karena di sana ia akan merasa lebih bebas melaksanakan tugas-tugasnya. Terlebih lagi orang tuanya berharap agar anaknya itu segera mendapatkan jodohnya. “Hanya pengharapan mereka, mudah-mudahan anak mereka, …jangan hendaknya jatuh ke tangan seorang bangsa asing lain.” (hlm. 29).
              Suatu hari, ketika Nurdin tinggal di rumah pamannya di Padang, ia diajak pamannya ke sebuah rapat yang merencanakan mendirikan sekolah swasta. Pada saat itulah, ia mendengar bahwa ada seorang guru perempuan yang melamar pekerjaan di sekolah itu. Ternyata, guru yang dimaksud tidak lain adalah Rukmini. Rapat itu kemudian secara bulat menyetujui penerimaan Rukmini menjadi guru di Sekolah itu.
               Dalam pada itu, pamannya punya rencana lain. Ia ingin agar Nurdin bersedia dijodohkan dengan putrinya. Secara tersirat, hal itu dikemukakannya kepada Nurdin. Sebaliknya, dokter muda itu punya pikiran lain dalam memandang soal perjodohan. Bahkan, ia mengecam adat perkawinan Minangkabau –terutama yang membolehkan poligami- yang menurutnya harus segera dihilangkan.
             Seminggu menjelang Nurdin mengawali pekerjaannya di Bukittinggi, tanpa diduga, ia berjumpa lagi dengan Rukmini di stasiun Padang. Mereka kemudian mengobrol berbagai hal yang membuat sepasang manusia itu semakin akrab. Bagi Nurdin, pertemuan itu justru membuatnya selalu digoda perasaannya yang tak mudah melupakan gadis Sunda itu. Demikian juga rukmini. Ia mulai tertarik dan punya perasaan lain terhadap dokter yang masih lajang itu. Maka, sudah dapat diduga, hubungan mereka pun semakin erat, teristimewa ketika ibu Rukmini jatuh sakit. Hal itu pula yang memungkinkan Nurdin punya kesempatan lebih sering datang ke rumah Rukmini. Nurdin kemudian berketetapan hati untuk melamar gadis Priangan itu ketika yakin bahwa cintanya berbalas.
                  Sementara itu, ibu Nurdin yang melihat hubungan anaknya dengan Rukmini semakin erat, merasa kurang senang. Menurutnya, sesuai dengan adat yang berlaku, ibu Rukmini yang mestinya datang kepadanya meminta Nurdin menjadi suami putrinya. Sebab, dalam anggapan ibu Nurdin, anaknya termasuk seorang terpandang yang berpangkat tinggi. Jika ia datang ke rumah ibu Rukmini, hal itu dianggap perbuatan tercela. Di samping itu, perbuatan demikian juga berarti anaknya dianggap sebagai lelaki yang tidak laku.
   
            Demikianlah, atas pertimbangan itu, jalan yang harus dilakukan adalah memutuskan hubungan dengan Rukmini. Ibu Nurdin kemudian datang ke rumah Rukmini, tetapi bukan untuk membicarakan perkawinan anaknya dengan Rukmini, melainkan menyampaikan berita bahwa Nurdin akan segera dikawinkan dengan seorang gadis anak mamaknya. Sesungguhnya, ini hanya siasat ibu Nurdin agar Rukmini tak lagi berhubungan dengan anaknya.
             
           Malam harinya, datang pula rekan sejawat Rukmini, guru Harun. Lelaki yang menurut pengakuannya baru menceraikan istrinya itu, menceritakan perihal Nurdin; bahwa dokter itu bulan depan akan melangsungkan perkawinan dengan seorang gadis yang kini masih berada di Betawi. Dalam kesempatan itu, diutarakan pula keinginan Harun untuk memperistri Rukmini.
          Dalam usahanya memutuskan hubungan dengan Rukmini dengan Nurdin, Harun masih menggunakan tipu muslihat lain. Ia mencuri foto Rukmini dari rumah Gafur, sahabat Rukmini. Esoknya, ia pura-pura sakit dan kemudian memanggil dokter Nurdin. Nurdin tentu tidak tahu akal buruk Harun. Yang jelas, begitu ia selesai memeriksa Harun, ia melihat foto gadis pujaannya itu, tergeletak di atas meja di samping tempat tidur pasiennya. Tentu saja Nurdin kaget dibuatnya dan kemudian bertanya tentang foto itu. Kesempatan inilah yang dipergunakan Harun untuk membuat cerita bohong tentang Rukmini. Tanpa diselidiki dahulu, Nurdin percaya pada cerita Harun. Ia pun segera memutuskan hubungan dengan Rukmini sungguhpun dengan perasaan berat.
               Melihat perkembangan itu, ibu Nurdin tentu sangat gembira. Ia merasa tipu muslihatnya telah berhasil. Sebaliknya, Nurdin yang begitu kecewa, tidak peduli lagi dengan keadaan sekeliling dan kesehatannya. Timbullah penyesalan dalam diri orang tua Nurdin sampai akhirnya ia sakit. Penyesalan yang berkepanjangan itu rupanya tak dapat ditahan-tahan lagi. Ibunya lalu mengakui kesalahannya, telah berusaha memutuskan hubungan anaknya dengan Rukmini. Tidak berapa lama setelah itu, ibunya meninggal dunia.
               Belakangan, datang pula kabar tentang Harun. Lelaki itu ternyata telah melakukan berbagai kejahatan hingga dijebloskan ke penjara. Di penjara Harun menghabisi nyawanya sendiri dengan cara menggantung diri.
         Pengakuan ibunya dan berita bunuh diri Harun, telah menyadarkan Nurdin bahwa sesungguhnya hubungannya yang putus dengan Rukmini, tidak hanya perbuatan ibunya semata-mata, tetapi juga karena akal jahat Harun. Namun, keadaan demikian justru membuan Nurdin amat menderita; suatu penyakit yang ia sendiri tak tahu obatnya.
             Nurdin begitu menyesali perbuatan yang telah dilakukan almarhumah ibunya. Lebih dari itu, kini perasaan rindunya kepada Rukmini tak tertahankan, apalagi mengingat bahwa Rukmini sama sekali tak berdosa. Kini, Nurdin benar-benar sakit; demam, panas, dari mulutnya meluncur terus nama Rukmini. Maka, segera ia menyuruh seseorang untuk menjemput Rukmini dan menyatakan penyesalannya.
              Petang harinya Rukmini datang memenuhi panggilan Nurdin. Sepasang anak manusia itupun bertemu kembali. “Waktu mereka mula-mula bertemu muka, mereka bertentang-tentangan sejurus lamanya, dan yang sejurus itu cukuplah akan menyatakan kepada mereka masing-masing, bahwa api percintaan, yang ada dalam hati mereka masing-masing, belumlah padam, sungguhpun selama ini tidak kelihatan keluar.” (hlm. 73)
Belakangan, setelah Nurdin membaca buku harian Rukmini, ia tambah yakin akan kesetiaan gadis Sunda itu. Maka, tak ada alasan bagi Dokter Nurdin, selain segera membangun rumah tangga bersama Rukmini

Resensi Novel Online

                                                                              ***
       Novel pertama Adinegoro ini sebenarnya masih mempersoalkan perkawinan dalam hal hubungannya dengan adat-istiadat, terutama adat yang berlaku di masyarakat Minangkabau. Hanya, secara jelas pengarang terlihat lebih berpihak pada generasi muda. Di samping itu, ia tidak lagi mempersoalkan kesukuan. Perkawinan antarsuku sebagaimana yang digambarkan pada tokoh Nurdin (Minang) dan Rukmini (Sunda), sesungguhnya tidak perlu lagi dipermasalahkan, kecuali perkawinan antarbangsa (Corrie dan Hanafi dalam Salah Asuhan). Hal itu disebabkan, suku-suku bangsa saat itu termasuk Indonesia juga. Hal lain yang hendak ditonjolkan dalam Novel Darah Muda Adinegoro adalah pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia agar bangsa Indonesia tidak tertinggal oleh bangsa lain.
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top