Wednesday

Cinta Tanah Air



http://www.ilmubahasa.net/2014/12/cinta-tanah-air.html
Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Andang Teruna, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Cinta Tanah Air. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang    : Nur Sutan Iskandar
Penerbit        : Balai Pustaka
Tahun           : 1944; Cetakan IV, 1963

    Amiruddin yang tinggal di Bandung kini sedang berada di Jakarta. Dengan sebuah trem (kereta yang dijalankan dengan tenaga listrik), ia menuju Pasar Malam. Di dalam trem itulah mula pertama matanya beradu pandang dengan seorang gadis. Kemudian, dengan tak disangka-sangkanya, pertemuan itu kembali terulang ketika mereka sama-sama di Pasar Malam. Sapu tangan yang mereka beli ternyata bersitukar. Peristiwa tertukarnya sapu tangan itu ternyata sekaligus merupakan penjalin hubungan mereka yang berkelanjutan.

    Malam itu Amiruddin bertemu dengan seseorang yang selalu memperhatikannya. Kemudian mereka berkenalan. Ternyata, lelaki yang baru dikenalnya itu adalah Pak Suwondo, teman karib ayah Amiruddin semasa di Padangprapat. “Anakku”, katanya sambil mengulurkan tangannya kepada orang muda itu. “Tak kusangka kita akan bertemu di sini, Amir. Bapakmu, tengku Datuk Serimarajo, kawanku yang sekarib-karibnya. Dan ibumu, Nyi Zubaedah, di mana beliau sekarang?” (hlm. 52). Sebelum itu, Amiruddin juga bertemu dengan Harjono, temannya semasa sekolah.

    Pak Suwondo meminta Amiruddin, sebelum pulang ke Bandung, untuk berkunjung ke rumahnya di Bungur, Jakarta. Amiruddin memenuhi permintaan itu. Diluar dugaan, ia bertemu lagi dengan gadis yang sapu tangannya telah tertukar dengan sapu tangan milik Amir. Gadis itu bernama Astiah. Ternyata Astiah adalah anak Pak Suwondo. Pertemuan yang kesekian kali itu, membuat Amiruddin semakin terpaut pada Astiah.

    Kehadiran Jepang di Bumi Pertiwi ini sedikit membawa angina segar bagi putra-putri Indonesia yang telah sekian lama terdominasi penjajahan Belanda. Janji Jepang yang akan “membebaskan” segala bentuk penjajahan di Indonesia pun memberi motivasi tersendiri terhadap anak negeri ini. Setidaknya, mereka menjadikan Jepang sebagai contoh dalam keberhasilan peperangan berhadapan dengan Amerika dan bangsa Eropa lainnya. Semangat bushido dan rasa persatuan dan kesatuan begitu tertanam pada jiwa anak-anak Jepang. Begitu pula halnya dengan Amiruddin. Indonesia bukan tidak mengadakan perlawanan terhadap penjajah, khususnya Belanda. Namun; ketidakberhasilan itu disebabkan kurangnya rasa persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia. Perang Diponegoro dan Imam Bonjol dapat dijadikan pertimbangan. Itulah yang menjadikan semangat anak muda terpanggil untuk membela tanah airnya.

    Nyi Zubaedah, ibu Amiruddin, kagum melihat semangat anaknya. Namun, di sisi lain, sebagaimana seorang ibu umumnya, apalagi karena ia pun telah janda, menginginkan Amiruddin secepatnya mempunyai pendamping hidup. Namun, Amir saa itu belum dapat mengabulkan keinginan orang tuanya. Terjadi perselisihan mulut antara ibu-anak itu. “Ampun, ibu,” kata Amiruddin dengan perlahan. “Sudah berapa kali kukatakan: aku belum hendak beristri” (hlm. 127).

    Nyi Zubaedah akhirnya dapat memahami keinginan anaknya. Sebab, diketahuinya pula bahwa sebenarnya Amiruddin telah mempunyai seorang gadis pilihan. Gadis itu tak lain adalah Astiah, anak Pak Suwondo. Selanjutnya, ibu Amiruddin minta dipertemukan dengan keluarga Suwondo.

    Kata sepakat dua keluarga itu pun tercapai. Amiruddin dipertunangkan dengan Astiah. Sejak pertunangan itu, Amir tak canggung lagi bila bertemu atau ingin berkunjung ke rumah Astiah. Begitu pula kedua orang tua Astiah. Mereka yakin bahwa anak gadisnya berada dalam genggaman orang yang bertabiat baik. Itulah dugaan mereka terhadap Amiruddin.

    Sementara itu, pecahnya peperangan di sana-sini semakin gencar diberitakan. Amiruddin dan kawan-kawannya serta putra-putri Indonesia ingin menjadi anggota Tentara Pasukan Sukarela. Akan tetapi, keinginannya itu sulit terwujudkan. Di satu pihak, Amiruddin yang cinta tanah airnya, begitu terpanggil hatinya untuk masuk ke kesatuan tentara itu. Namun, di pihak lain, ia pun cinta kepada ibu dan adiknya, terlebih lagi kepada Astiah, kekasihnya. Relakah mereka melepasnya untuk maju ke garis depan pertempuran? Sedangkan Harjono, temannya itu, tak diizinkan istrinya bergabung dengan tentara sukarela. Lalu, jika Harjono tetap keras pendiriannya, istrinya mengancam untuk tidak kembali kepadanya. Itulah yang menjadi kegelisahan Amiruddin.

    Nyi Zubaedah, sebagai ibu yang bijaksana, mengerti akan kesulitan yang tengah dihadapi anaknya itu. Namun, ia pun tak ingin melepas Amiruddin sebelum dinikahkan. Semula Amiruddin menolak, sebab ia khawatir Astiah dan kedua orang tuanya tak akan memberinya izin. Namun, ibunya dapat meyakinnya bahwa Astiah dan orang tuanya akan sangat mendukung maksudnya itu.

    Amiruddin dan ibunya serta adiknya, kini berada di rumah Pak Suwondo. Apa yang semula menjadi kekhawatiran Amiruddin, ternyata terjadi sebaliknya. Astiah dan orang tuanya begitu sadar akan pentingnya arti pembelaan tanah air dan kemerdekaan. Bahkan, Astiah dan istri Harjono telah mendaftarkan diri sebagai juru rawat sukarela. Di samping itu, Astiah telah pula menerima permintaan ibu Amiruddin, yaitu untuk segera menikahkan mereka. Permintaan itu dibuktikan Astiah dengan hadirnya seorang penghulu yang diundangnya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Amiruddin menikah dengan Astiah. Kedua belah pihak orang tua itu merasa bahagia melihat anak mereka telah menjadi pasangan keluarga baru. Besok lusa, pengantin baru itu akan meninggalkan orang tua mereka, pergi ke garis depan demi cinta mereka kepada tanah air.

                                                                          ***
    Cerita Novel Cinta Tanah Air karya Nur Sutan Iskandar ini merupakan satu dari dua novel yang terbit pada zaman Jepang. Pada cetakan keempat (1963) ada kata pengantar pengarangnya yang isinya hendak menempatkan karya itu pada zamannya, yaitu tidak melepaskan karya ini dengan suasana yang terjadi pada masa Jepang. Dalam konteks ini pula Cinta Tanah Air menjadi penting sebagai catatan sejarah yang terjadi pada zamannya, sungguhpun sebagai karya sastra novel ini kurang berhasil. Studi tentang sastra propaganda ini, lihat ulasan yang terdapat dalam ringkasan novel Palawija.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top