Tuesday

Belenggu

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Novel Di Bawah Lindungan Kabah, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck . Selamat membaca sahabat imbas.

Source: http://www.ilmubahasa.net/2014/12/tenggelamnya-kapal-van-der-wijck.html
Disalin dari Ilmubahasa.net | Web Edukasi Materi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Novel Di Bawah Lindungan Kabah, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck . Selamat membaca sahabat imbas.

Source: http://www.ilmubahasa.net/2014/12/tenggelamnya-kapal-van-der-wijck.html
Disalin dari Ilmubahasa.net | Web Edukasi Materi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Novel Di Bawah Lindungan Kabah, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck . Selamat membaca sahabat imbas.

Source: http://www.ilmubahasa.net/2014/12/tenggelamnya-kapal-van-der-wijck.html
Disalin dari Ilmubahasa.net | Web Edukasi Materi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Novel Belenggu. Selamat membaca sahabat imbas.
Pengarang    : Armijn Pane (18 Agustus 1908-6
Februari 1970)
Penerbit        : Dian Rakyat
Tahun           : 1940; Cetakan XIII, 1988

    Dokter Sukartono (Tono) adalah seorang dokter yang bijaksana. Ia tak pernah meminta bayaran apabila mengetahui pasiennya adalah orang tidak mampu hingga ia dikenal sebagai dokter yang dermawan. Selain itu, ia mempunyai sifat ramah terhadapa siapa saja dikenalnya.

    Namun, karena kesibukannya sebagai dokter, Tono hampir tak mempunyai waktu untuk memberi perhatian kepada Tini (Sumartini), istrinya. Tini merasa tidak mendapat perhatian dari suaminya, mencari kesibukan di luar rumah. Akibat kesibukan mereka, Tono dan Tini jarang mempunyai waktu bersama-sama. Hal ini menimbulkan akibat lain, mereka tidak dapat mengkomunikasikan pikiran masing-masing. Masalah-masalah yang timbul sering hanya dipikirkan sendiri-sendiri sehingga timbul kesalahpahaman yang sering menimbulkan pertengkaran yang mewarnai rumah tangga mereka.

    Pandangan Tono dan Tini juga berbeda dalam hubungan suami-istri. Tono berpendapat, tugas seorang wanita adalah mengurus anak, suami, dan segala hal yang berhubungan dengan rumah tangga. Sebaliknya, Tini menginginkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita. Bahkan, ia menganggap pria sebagai saingan, sekalipun terhadap suaminya. Akibat pandangannya itu, Tini melupakan tugasnya sebagai seorang istri.

    Sebenarnya, penyebab utama ketidakharmonisan hubungan suami-istri itu terletak pada tidak adanya saling mencintai di antara mereka. Tono memperistri Tini karena kecantikan, kecerdasan, dan keceriaan wanita itu yang dianggap pantas menjadi pendamping seorang dokter seperti dirinya. Bahkan, Tono tidak mempedulikan keadaan Tini yang tidak perawan lagi ketika menikah. Di lain pihak, Tini bersedia menjadi istri Tono karena ia ingin melupakan masa lalunya yang kurang baik. Ia berharap, dengan menjadi istri yang baik, masa lalunya yang dianggap aib dapat terhapus. Akan tetapi, aib itu selalu membayangi kahidupannya hingga menimbulkan rasa rendah diri dalam diri Tini.

    Kekacauan rumah tangga Tono dan Tini diperburuk dengan hadirnya orang ketiga, yang memperkenalkan diri sebagai Nyonya Eni. Nyonya Eni sebenarnya bernama Yah (Siti Rohayah alias Siti Hayati). Ia seorang penyanyi keroncong dan juga seorang wanita panggilan. Dahulu, Yah adalah tetangga dan teman sekolah Tono. Diam-diam, ia mencintai Tono dan mendambakannya menjadi suaminya. Namun, kemudian, ia menjadi korban kawin paksa dan akhirnya ia melarikan diri hingga terjerumus dalam lembah kenistaan.

    Ketika Yah mengetahui alamat Tono, ia berpura-pura sakit dan memanggil dokter itu. Berkat pengalamannya bertemu dan bergaul dengan banyak laki-laki, Yah dapat memikat Tono dalam pelukannya. Ia mengetahui kelemahan Tini yang membutakan pikiran dan perasaan terhadapa keinginan laki-laki. Kemudian Yah melimpahkan kasih sayangnya. Bagi Tono, curahan kasih sayang Yah itu tak ia rasakan dari istrinya sendiri.

    Kehadiran Yah bagi dokter itu, justru seolah-olah menemukan kembali kehangatan cinta yang selama ini ia dambakan. Yah menjadi curahan perasaan dan keluh-kesahnya. Ia mulai merasakan, sebuah cinta bersemi di hatinya. Akhirnya, tempat tinggal perempuan itu menjadi rumah kedua Tono.

    Lambat-laun, hubungan gelap mereka diketahui juga oleh Tini. Lalu, tanpa sepengetahuan suaminya, ia mendatangi wanita yang telah merebut suaminya. Ia penasaran, macam apakah sosok perempuan itu. “Tini mulai tertarik hatinya. Patut Tono tertarik. Tidak benar ia penyanyi keroncong, tingkah lakunya tertib. Sambil merasa heran diikutinya Yah naik tangga, diturutnya Yah supaya duduk (hlm. 142).

    Menghadapi perilaku dan sikap Yah yang begitu santun dan tertib itu, Tini merasa malu sendiri. Perasaan marah dan cemburu yang dibawanya dari rumah, luluh sudah, dan berbalik mengagumi perempuan itu. Ia menyadari kelebihan Yah. Ia juga menyadari kekurangannya selama ini, telah menyia-nyiakan Tono, suaminya. Dengan ikhlas Tini menyatakan kerelaannya menerima kenyataan itu; rela Yah merebut suaminya.

    Apa yang ia ketahui tentang Yah dan kenyataan yang ia hadapi dalam hubungan suami-istri, Tini kemudian membicarakan persoalan itu dengan suaminya. Betapa terkejut Tono melihat sikap istrinya yang demikian. Ia berusaha untuk menahan istrinya agar tetap mau bersamanya. Namun, sikap Tini tetap tak berubah. Perpisahan suami-istri itu rupanya tak terelakkan lagi. Sungguhpun berat bagi Tono untuk bercerai dari istrinya, ia sendiri tak dapat memaksakan kehendaknya. Ia terpaksa merelakan kepergian istrinya walaupun Tono masih tetap berharap agar hubungan mereka baik kembali. Kapan pun Tono akan tetap bersedia menerima Tini kembali.

    Sekepergian sang istri, Tono bermaksud mengunjungi Yah di rumahnya. Namunm, betapa terkejutnya Tono, wanita yang selalu menjadi curahan hatinya itu, kini tak ada lagi. Yah pergi ke New Caledonia. Pergi meninggalkan cinta sang dokter yang selalu mendambakan kehangatan hidup berumah tangga.

    Di sana, di sebuah kapal yang membawanya ke negeri baru, Yah tercenung sendiri. “Rohayah berbalik …. Di sana gelap juga, tapi semangatnya tahu, di sanalah, lautan lepas, di sana dunia lain, memang dunia baru, tapi sunyi … Tono tidak ada di sana, di New Caledonia …” (hlm. 162).

    Tono kini sendiri. Yah telah pergi ke dunia yang baru. Tini juga pergi ke Surabaya mengabdikan dirinya menjadi pengurus panti yatim piatu di kota itu.

    Sungguhpun kini Tono sendiri, ia tidak hanyut dalam kesedihan yang berlarut-larut. Ia menekuni bidangnya; mengabdikan diri dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

                                                                        ***

    Sejauh ini, para pengamat sastra Indonesia selalu menempatkan Novel Belenggu ini sebagai novel terpenting yang terbit sebelum perang. Pada tahun 1969, novel ini memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah Indonesia. Studi mengenai novel ini pernah dilakukan Ign. Sumarno (FS UGM, 1971) sebagai bahan penelitian sarjana mudanya. Penelitian yang lebih mendalam dilakukan M. Saleh Saad (FS UI, 1963), Robert A. Crawford (University of Melbourne, 1971), The Shckles of Doubt: Armijn Pane and His Art, serta J. Angles (Australian National University, Canberra, 1988) berjudul “The Fiction of Armijn Pane.”
   Hingga kini, berbagai ulasan dan tanggapan, baik berupa makalah ilmiah maupun artikel, masih banyak yang membahas novel ini, dengan berbagai tafsiran dan sudut pandang.

    Novel Belenggu yang pertama kali muncul di majalah Pujangga Baru, No. 7, 1940 ini sebenarnya ditulis Armijn pane, tahun 1938. Pada tahun 1965, novel ini terbit dalam edisi bahasa Melayu di Kuala Lumpur dan hingga kini terus mengalami cetak ulang.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top