Tuesday

Azab dan Sengsara



Novel Online - Berikut ini kami ilmu bahasa paparkan sebuah novel online yang kami rangkum dengan sebaik-baiknya agar anda dapat mencerna dan memaknainya dengan baik. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang karya sastra Indonesia.

(KISAH KEHIDUPAN SEORANG ANAK GADIS)

Pengarang    : Merari Siregar (13 Juni 1886-23 April 1940)
Penerbit       : Balai Pustaka
Tahun           : 1920; Cetakan IX, 1990
   

Sinopsis Novel

      Aminuddin adalah anak Baginda Diatas, seorang kepala kampung yang terkenal kedermawanan dan kekayaannya. Masyarakat di sekitar Sipirok amat segan dan hormat pada keluarga itu. Adapun Mariamin, yang masih punya ikatan dengan keluarga itu, kini tergolong anak miskin. Ayah Mariamin, Sutan Baringin almarhum, sebenarnya termasuk keluarga bangsawan kaya. Namun, karena semasa hidupnya terlalu boros dan serakah, ia akhirnya jatuh miskin dan meninggal dalam keadaan demikian.
    Bagi Aminuddin, kemiskinan keluarga itu tidaklah menghalanginya untuk tetap bersahabat dengan Mariamin. Keduanya memang sudah berteman akrab sejak kecil. Tanpa terasa, benih cinta remaja itu pun tumbuh subur. Aminuddin berjanji hendak mempersunting gadis itu jika kelak ia sudah mendapat pekerjaan. Janji pemuda itu akan segera dilaksanakan jika ia sudah mendapat pekerjaan di Medan. Aminuddin segera mengirim surat kepada kekasihnya bahwa ia segera membawa Mariamin ke Medan.
    Niat aminuddin itu disampaikan pula kepada kedua orang tuanya. Ibunya sama sekali tidak keberatan. Bagaimanapun, almarhum ayah Mariamin masih kakak kandungnya sendiri. Maka, jika putranya kelak jadi kawin dengan Mariamin, perkawinan itu dapatlah dianggap sebagai salah satu usaha menolong keluarga miskin itu.
    Namun, lain halnya pertimbangan Baginda Diatas, ayah Aminuddin. Sebagai kepala kampung yang kaya dan disegani, ia ingin agar anaknya beristrikan orang yang sederajat. Menurutnya, putranya lebih pantas kawin dengan wanita dari keluarga kaya dan terhormat. Oleh karena itu, jika Aminuddin kawin dengan Mariamin, perkawinan itu sama halnya dengan merendahkan derajat dan martabat dirinya. Itulah sebabnya, Baginda Diatas bermaksud menggagalkan niat putranya.
    Untuk tidak menyakiti hati istrinya, Baginda Diatas mengajaknya pergi ke seorang dukun untuk melihat bagaimana nasib anaknya jika kawin dengan Mariamin. Sebenarnya, itu hanya tipu daya Baginda Diatas. Oleh karena sebelumnya, dukun itu sudah mendapat pesan tertentu, yaitu memberi ramalan yang tidak menguntungkan rencana dan harapan Aminuddin. Mendengar perkataan si dukun bahwa Aminuddin akan mengalami nasib buruk jika kawin dengan Mariamin, ibu Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima apa yang menurut suaminya baik bagi kehidupan anaknya.
    Kedua orang tua Aminuddin akhirnya meminang seorang gadis keluarga kaya yang menurut Baginda Diatas sederajat dengan kebangsawanan dan kekayaannya. Aminuddin yang berada di Medan, sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilakukan orang tuanya. Dengan penuh harapa, ia tetap menanti kedatangan ayahnya yang akan membawa Mariamin.
    Selepas peminangan itu, ayah Aminuddin mengirim telegram kepada anaknya bahwa calon istrinya akan segera dibawa ke Medan. Ia juga minta agar Aminuddin menjemputnya di stasiun.
    Betapa sukacita Aminuddin setelah membaca telegram dari ayahnya. Ia pun segera mempersiapkan segala sesuatunya. Ia membayangkan pula kerinduannya kepada Mariamin akan segera terobati.
    Namun, apa yang terjadi kemudian hanyalah kekecewaan. Ternyata, ayahnya bukan membawa pujaan hatinya, melainkan seorang gadis yang bermarga Siregar. Sungguhpun begitu, sebagai seorang anak, ia harus patuh pada orang tua dan adat negerinya. Aminuddin tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima gadis yang dibawa oleh ayahnya. Perkawinan pun berlangsung dengan keterpaksaan yang mendalam pada diri Aminuddin. Berat hati pula ia mengabarkannya pada Mariamin.
    Bagi Mariamin, berita itu tentu sangat memukul jiwanya. Harapannya musnah sudah. Ia pingsan dan jatuh sakit sampai beberapa lama. Tak terlukiskan kekecewaan hati gadis itu.
    Setahun setelah peristiwa itu, atas kehendak ibunya, Mariamin terpaksa menerima lamaran Kasibun, seorang lelaki yang sebenarnya tidak diketahui asal-usulnya. Ibunya hanya tahu, bahwa Kasibun seorang kerani yang bekerja di Medan. Menurut pengakuan lelaki itu, ia belum beristri. Dengan harapan dapat mengurangi penderitaan ibu-anak itu, ibu Mariamin terpaksa menjodohkan anaknya dengan Kasibun. Belakangan diketahui bahwa lelaki itu baru saja menceraikan istrinya hanya karena mengawini Mariamin.
    Kasibun kemudian membawa Mariamin ke Medan. Namun rupanya, penderitaan wanita itu belum juga berakhir. Suaminya ternyata mengidap penyakit berbahaya yang dapat menular bila keduanya melakukan hubungan suami-istri. Inilah sebabnya, Mariamin selalu menghindar jika suaminya ingin berhubungan intim dengannya. Akibatnya, pertengkaran demi pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga itu tak dapat dihindarkan. Hal yang dirasakan Mariamin bukanlah kebahagiaan, melainkan penderitaan berkepanjangan. Tak segan-segan Kasibun menyiksanya dengan kejam.
    Dalam suasana kehidupan rumah tangga yang demikian itu, secara kebetulan, Aminuddin datang bertandang. Sebagaimana lazimnya kedatangan tamu, Mariamin menerimanya dengan senang hati, tanpa prasangka apa pun. Namun, bagi Kasibun, kedatangan Aminuddin itu makin mengobarkan rasa cemburu dan amarahnya. Tanpa belas kasihan, ia menyiksa istrinya sejadi-jadinya.
    Tak kuasa menerima perlakuan kejam Kasibun, Mariamin akhirnya mengadu dan melaporkan tindakan suaminya kepada polisi. Polisi kemudian memutuskan bahwa Kasibun haru membayar denda dan sekaligus memutuskan hubungan tali perkawinan dengan Mariamin.
    Janda Mariamin akhirnya terpaksa kembali ke Sipirok, kampung halamannya. Tidak lama kemudian, penderitaan yang silih berganti menimpa wanita itu, sempurna sudah dengan kematiannya. “Azab dan sengsara dunia ini telah tinggal diatas bumi, berkubur dengan jasad yang kasar itu.” (hlm. 163).

Resensi Novel

                                                                             ***
    Umumnya, para pengamat sastra Indonesia menempatkan novel Azab dan Sengsara ini sebagai novel pertama Indonesia dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. Penempatan ini banyak didasarkan pada anggapan bahwa kesusastraan Indonesia modern lahir tidak dari peran berdirinya Balai Pustaka, 1917, yang cikal bakalnya berdiri tahun 1908.
    Tema Azab dan Sengsara sendiri mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat keluarga, bukanlah hal yang baru. Tetapi novel ini belumlah secara tajam mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan adat.
    Sejauh ini, studi terhadap novel Azab dan Sengsara, baru dilakukan pada tingkat sarjana muda, sebagaimana yang tampak dari penelitian Ahmad Tohir (UGM, 1969),  Dzulkifli Salleh (FSUI, 1962), dan Yacob bin Mohammed Tara (FS Unas, 1980).
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top