Wednesday

Andang Teruna




http://www.ilmubahasa.net/2014/12/andang-teruna.htm

Ilmubahasa.net- sebelumnya kami telah menampilkan hasil tulisan kami mengenai sinopsis dan resensi Cerita Novel Anaka Perawan di Sarang Penyamun, dan kali ini kami ingin berbagi dengan sahabat semua sinopsis dan ulasan Cerita Novel Andang Teruna. Selamat membaca sahabat imbas.

Pengarang     : Sutomo Djauhar Arifin 
                          (15 Juni 1916 – 16 Oktober 1959)
Penerbit         : Balai Pustaka
Tahun             : 1941

     Setelah tamat sekolah rendah, Gunadi melanjutkan sekolah ke Mulo di Semarang. Kemudian setelah lulus dari Mulo, ia melanjutkan ke AMS di kota yang sama. Selama di Semarang, Gunadi tinggal dengan keluarga Hartasanjaya, yang memang menginginkan sekali mempunyai anak laki-laki. Maka, Gunadi yang pada mulanya indekos pada keluarga itu, lambat-laun diperlakukan sebagai anak keluarga tersebut. Tentu saja, Gunadi merasa senang dengan perlakuan keluarga itu, apalagi Hartini, anak gadis Pak Hartasanjaya. Keduanya pun tumbuh layaknya kakak beradik. Itulah sebabnya, setelah Gunadi tamat AMS dan belum mendapat pekerjaan, pemuda itu masih tetap tinggal di Semarang, lebih-lebih hubungannya dengan Hartini makin rapat.

     Gunadi sebenarnya mempunyai kekasih yang bernama Sri Suarsih. Akan tetapi percintaannya putus setelah orang tua kekasihnya di Surabaya menikahkan anaknya dengan seorang dokter yang kaya-raya. Mula-mula, ia kecewa menghadapi kenyataan ini. Kekecewaannya lambat-laun terobati oleh sikap Hartini kepadanya. Lalu, sebagaimana lazimnya hubungan pria dan wanita, di hati masing-masing mulai tumbuh perasaan cinta.

    Sungguhpun demikian, baik Gunadi dan Hartini, saling menyembunyikan perasaan mereka. Hartini memendam sendiri perasaan cintanya, sedangkan Gunadi berusaha membohongi dirinya walaupun hatinya kecilnya berkata lain. Jadilah perasaan cinta itu tumbuh secara sembunyi-sembunyi. Tak ada yang memulai, tak ada yang berterus terang.
   Suatu ketika, Gunadi mendapat surat dari ibunya di Madiun. Isinya mengabarkan bahwa di Pagottan ada lowongan pekerjaan untuk Gunadi. Van der Heyden, bekas majikan ibunya, akan menolong Gunadi agar diterima dan dapat mengisi lowongan pekerjaan tersebut.

    Dalam perjalanan menuju Solo, secara kebetulan, Endah Suwarni, teman Hartini, berada dalam satu bus dengan Gunadi. Perjalanan itu pun dengan Gunadi. Perjalanan itu pun kemudian jadi banyak dihiasi pembicaraan yang bersifat pribadi. Paling tidak, Endah telah menduga bahwa sesungguhnya Hartini tidak mempunyai kakak laki-laki. “Gunadi tertawa. Mengerti dia. Mengerti, bahwa Endah Suwarni bermaksud hendak mengetahui perhubungan antara dia dan Hartini. Atau akan mempermain-mainkannya; karena disangkanya barangkali bahwa dia bertunangan dengan Hartini” (hlm. 55).

    Keakraban Gunadi dengan Hartini maupun orang tuanya, semata-mata karena gadis itu dan keluarga Hartasanjaya sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri. Begitulah pengakuan Gunadi kepada Endah. Perjalanan itu pun berakhir dengan janji untuk bertemu kembali minggu berikutnya. Dari Solo, Gunadi terus melanjutkan perjalanannya ke Madiun; sedangkan Endah, yang ternyata kedua orang tuanya juga tinggal di Madiun, akan menyusul kemudian. Untuk itu, Gunadi diminta agar menjumpai kedua orang tua Endah dahulu.

    Pertemuan Gunadi dan keluarga Adikusuma –orang tua Endah- yang kemudian berlanjut dengan semakin eratnya hubungan mereka, telah membuka jalan bagi Gunadi dan Endah menuju jenjang perkawinan. Keadaannya dimungkinkan pula oleh kehadiran Budiman –teman Gunadi sewaktu di AMS- yang menjadi “perantara” hubungan surat-menyurat mereka yang sedang dimabuk asmara. Akan tetapi, tanpa sepengetahuan Gunadi, Budiman rupanya mempunyai maksud lain dalam berbuat demikian. Hal itu justru dilakukannya bersama Endah. Jadi, diam-diam Budiman dan Endah juga menjalin hubungan asmara.

    Rencana perkawinan Gunadi-Endah tetap dipersiapkan. Rencana itu juga disampaikan kepada Hartini di Semarang. Namun, yang terjadi kemudian, sungguh sangat mengejutkan Gunadi. Endah Suwarni hamil! Anak yang dikandungnya adalah hasil perbuatannya dengan Budiman. Tidak ada jalan lain yang dapat diambil keluarga Adikusuma selain memutuskan pertunangan anaknya dengan Gunadi, dan melangsungkan pernikahan anaknya dengan Budiman. Gunadi tidak dapat berbuat apa-apa dengan kejadian itu, selain menyetujui langkah yang akan diambil keluarga Adikusuma, betapapun hatinya terasa amat berat menerima kenyataan tersebut.
    Sementara itu, ibu Gunadi yang hampir selama hidupnya memikirkan nasib anaknya dan hidup dalam kesusahan yang berkepanjangan, merasakan pula kedukaan yang menimpa anak tunggalnya. Di samping keadaannya yang sering sakit-sakitan dan ditambah dengan nasib yang memukul perasaan anaknya, akhirnya orang tua itu meninggal dunia.

    Kematian ibunya, membuat Gunadi menyadari kekeliruannya. Ia tak dapa membohongi hati nuraninya bahwa sesungguhnya sudah sejak lama ia mencintai Hartini. Luka hati karena pertunangannya dengan Endah tak membuatnya risau lagi. Keluarga Hartasanjaya selalu menghibur Gunadi yang selalu ditimpa kemalangan. Bagi Gunadi kini tumpuan harapannya ada pada Hartini. Maka, setelah beberapa saat berselang, ia mengambil keputusan tegas: melamar Hartini. Tentu saja, lamaran itu disambut gembira oleh keluarga Hartasanjaya, apalagi mengetahui putri mereka juga sudah lama menaruh hati pada Gunadi.
   “Demikianlah maka sebulan kemudian, Gunadi masuk bekerja membawa beberapa sampul kecil-kecil yang berisi maklumat pertunangannya” (hlm. 183). Enam bulan kemudian, Gunadi dan Hartini melangsungkan perkawinan.

                                                                           ***
    Berdasarkan uraian diatas, dari cerita Novel Andang Teruna yang paling menarik dan mempunyai latar belakang Jawa seluruhnya ialah Andang Teruna (1941) oleh Sutomo Djauhar Arifin. Roman ini mempunyai kelebihan-kelebihannya karena memberikan gambaran yang memikat tentang kebijaksanaan si ayah dan gerak hati si ibu dalam masyarakat Jawa. Lagi pula roman ini memperlihatkan suatu contoh penyesuaian nilai kebudayaan tradisional bagi kehidupan modern. “Itulah beberapa bagian dari tanggapan Teeuw (1980: 112) atas Cerita Novel Andang Teruna  ini.

     Terima kasih telah berkunjung di web kami. Pembaca yang baik selalu memberikan komentar, kritik, dan saran karena sangat kami butuhkan untuk membangun dan memberikan yang terbaik bagi anda sahabat Imbas. Jangan lupa bookmark kami agar anda selalu dapat memantau web edukasi materi bahasa indonesia dan karya sastra ini. Terimakasih
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top