Thursday

Wacana



Pengertian Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar (Kridalaksana dalam Tarigan, 1987: 25).Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar (dalam wacana lisan).Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat lengkap.
Wacana merupakan unsur kebahasaan yang paling kompleks atau lengkap. Satuan pendukung kebahasaannya meliputi fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh. Namun, wacana pada dasarnya juga merupakan unsur bahasa yang bersifat pragmatis. Apalagi pemakaian dan pemahaman wacana dalam komunikasi memerlukan berbagai alat (piranti) yang cukup banyak. 

Kohesi dan Koherensi

Kohesi dan koherensi merupakan hal dalam wacana yang penting. Kedua unsur ini digunakan untuk membangun wacana yang baik. Wacana yang baik ditandai dengan adanya hubungan semantis antarunsur bagian dalam wacana yang disebut dengan hubungan koherensi. Hubungan koherensi dapat diciptakan dengan menggunakan hubungan kohesi.

Pengertian Kohesi

Kohesi adalah salah satu unsur pembentuk teks yang penting. Kohesi atau kepaduan wacana ialah keserasian hubungan antarunsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana, sehingga terciptalah pengertian yang koheren. Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana itu terdiri dari kalimat-kalimat.Sehubungan dengan hal tersebut, Tarigan (1987: 96) mengatakan bahwa kohesi atau kepaduan wacana merupakan aspek formal bahasa dalam wacana. Dengan kata lain, bahwa kepaduan wacana merupakan organisasi sintaktik, wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti pula bahwa kepaduan wacana ialah hubungan antarkalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Paryanti Sudarman; 2008).
Kohesi atau kepaduan wacana banyak melibatkan aspek gramatikal dan aspek leksikal.Aspek gramatikal itu dibedakan menjadi referensi, substitusi, dan elips.Selanjutnya, aspek leksikal diciptakan dengan menggunakan bentuk-bentuk leksikal seperti reiterasi dan kolokasi. Sehingga penanda yang digunakan untuk 

Pengertian Koherensi

koherensi berarti kepaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan. Dalam struktur wacana, aspek koherensi sangat diperlukan keberadaannya untuk menatapertalian batin antara proposisi yang satu dengan lainnya untuk mendapatkan keutuhan suatu wacana.Proposisi-proposisi di dalam suatu wacana dapat membentuk suatu wacana yang runtut (koheren) meskipun tidak terdapat pemarkah hubungan kalimat yang digunakan. Dengan kata lain, koherensi sebuah wacana tidak hanya terletak pada adanya piranti kohesi. Di samping piranti kohesi, masih banyak faktor lain yang memungkinkan terciptanya koherensi itu, antara lain latar belakang pengetahuan pemakai bahasa atas bidang pemasalahannya, pengetahuan atas latar belakang budaya dan sosial, kemampuan “membaca” tentang hal-hal yang tersirat, dan lain-lain
            Bahasa dalam wacana dipandang sebagai representasi yang membentuk subjek, tema, maupun ideologi tertentu.Analisis wacana kritis memandang bahasa sebagai faktor yang penting, bahasa tersebut digunakan dalam melihat ketimpangan kekuasaan yang terjadi di masyarakat. Karakteristik penting dari wacana kritis sendiri dipaparkan oleh Teun A. Van Djik, Fairclough, dan Wodak (dalam Eriyanto. 2009: 8-13) merupakan tindakan, konteks, historis, kekuasaan, dan ideologi. Wacana merupakan suatu elemen yang kemudian menghasilkan berbagai produk, salah satunya dapat berupa citra.Melalui wacana yang dibangun, dapat terbentuk suatu citra yang kemudian diinterpretasikan pembaca ke dalam persepsi pencitraan yang ada.
            Analisis Wacana menyediakan digunakan untuk melakukan kajian empiris tentang hubungan dan perkembangan sosial dan kultural dalam wacana masyarakat. Tinjauan Fairclough dan wodak mengenai analisis wacana
1.      Sifat Struktur dan Proses Kultural dan Sosial Merupakan Sebagian Linguistik-Kewacanaan.
Teks dipandang sebagai bentuk penting praktik sosial yang mencakup hubungan-hubungan dan identitas sosial. Sebagian terbentuk melalui praktek kewacanaan dalam kehidupan sehari-hari dan kemudian dari situlah terjadi perubahan kultural dan sosial.Tujuan analisis wacana adalah menjelaskan dimensi linguistic kewacanaan fenomena sosial dan kultural dalam proses perubahan masa kini.
2.      Penggunaan bahasa hendaknya dianalisis secara empiris berdasarkan konteks yang dimaksud.
Bagi analisis wacana, sebuah wacana merupakan bentuk praktik sosial yang menyusun dunia sosial dan disusun oleh praktik sosial yang lain. Kontribusi sebuah wacana dalam ranah sosial tentunya tidak bisa saling melepaskan diri dan berjalan berlawanan arah.Analisis wacana dipakai untuk menghubungkan sebuah wacana yang mengidentitaskan sebuah masyarakat, politik, budaya agar konteks yang dimaksud bisa dipersatukan dalam sebuah pola pikir yang tentunya tidak hanya mengacu pada satu pihak saja, namun keduanya.
Analisis wacana merupakan disiplin ilmu yang mengkaji satuan bahasa di atas tataran kalimat dengan memperhatikan konteks pemakaian bahasa tersebut (Rani, 2004:3).Analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan (Stubbs dalam Rani, 2004:9).Data dalam analisis wacana selalu berupa teks, baik teks lisan maupun tulis.Teks di sini mengacu pada bentuk transkripsi rangkaian kalimat atau ujaran.Analisis wacana pada umumnya bertujuan untuk mencari keteraturan, bukan kaidah.Keteraturan itu berkaitan dengan keberterimaan di masyarakat.
   
Comments
0 Comments
 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top