Friday

Sosiologi Sastra 2

sosiologi sastra

Pengertian Sosiologi Sastra

Teori Sosiologi Sastra

Sebelum membahas mengenai sosiologi, alangkah baiknya memaparkan sedikit mengenai sosiologi sendiri dan sastra sendiri. Sosiologi menurut etimologi berasal dari kata ‘sosio’ atau society yang bermakna masyarakat dan ‘logi’ atau logos yang artinya ilmu. Jadi, sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat atau ilmu tentang kehidupan masyarakat. Menurut Selo Sumarjan dan Sulaiman Sumardi (dalam Soekanto, 1990: 21) Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk di dalamnya perubahan-perubahan sosial.

Dalam bukunya yang berjudul The Sociology of Literature, Swingewood (1972) mendefinisikan sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial (Faruk 2010:1).

Sastra dalam Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Sangsekerta yaitu, Sãs yang artinya mengarahkan, mengajar, atau memberi petunjuk, sedangkan tra artinya alat. Dengan kata lain sastra adalah alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku intruksi atau pengajaran (Teeuw, 2003).

Ignas Kleden (Via Semi 1989: 59) menyebut sastra adalah karya individual yang didasarkan pada kebebasan mencipta dan dikembangkan lewat imajinasi. Artinya, karya sastra bersifat otonom, tidak bergantung pada hal lain. Kondisi tersebut bertolak dengan apa yang dikemukakan Plato yang menganggap bahwa karya sastra merupakan tiruan dari kenyataan, dan kenyataan sendiri merupakan tiruan dari dunia ide (Faruk, 2010: 47).

Hubungan antara pengarang, karya sastra, dan masyarakat sendiri bersifat saling terikat. Dimana karya sastra merupakan produk pengarang, pengarang merupakan anggota masyarakat, pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada di dalam masyarakat (menjadi ide), dan hasil karya itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat (Ratna, 2004: 60). Sosiologi membahasas mengenai masyarakat dan lembaga-lembaganya, dimana kesusastraan merupakan salah satu lembaga yang ada di dalam suatu masyarakat (teori Marx).

Sosiologi sastra merupakan ilmu interdisipliner yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (Wiyatmi, 2006). Wellek dan Warren (dalam Semi, 1989: 53) mengklasifikasikan sosiologi sastra menjadi tiga tipe, yaitu:

Sosiologi Pengarang

sosiologi pengarang, mempermasalahkan mengenai status sosial, ideologi politik, dan hal-hal lain yang menyangkut diri pengarang.

Sosiologi Karya Sastra

sosiologi karya sastra, mempermasalahkan tentang suatu karya sastra; yang menjadi pokok permasalahannya adalah apa yang tersirat di dalam suatu karya sastra dan apa tujuan atau amanat yang hendak disampaikannya.

Sosiologi Pembaca

sosiologi pembaca, mempermasalahkan mengenai pembaca dan pengaruh sosialnya terhadap masyarakat.

Segala bentuk diskusi mengenai sosiologi sastra, teori sosial marxis mendapat peran paling dominan (John Hall via Faruk, 2010: 6). Menurut Faruk (2010), hal tersebut dikarenakan beberapa faktor; pertama, Marx sendiri pada mulanya adalah seorang sastrawan; kedua, teori Marx mengandung ideologi yang pencapaiannya terus-menerus diusahakan oleh para penganutnya; ketiga, teori sosial Marx terbangun suatu totalitas kehidupan sosial secara integral dan sistematik, di dalamnya menempatkan kesusastraan layaknya sebuah lembaga.

Kerangka teori Marx menempatkan sastra sebagai salah satu superstruktur yang menjadi kekuatan reproduktif dari struktur sosial yang berdasarkan pembagian dan relasi sosial secara ekonomis. Secara tidak langsung sastra terlibat dalam pertentangan kelas antara pihak yang mempertahankan struktur sosial dan pihak yang berusaha merombak struktur sosial (Faruk, 2010: 52-53).

Menurut Ratna (2004, 339-340) Model analisis sosiologi sastra dalam menganalisis karya sastra meliputi:
a. Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi. Pada umumnya disebut dengan aspek ektrinsik, model hubungan yang terjadi disebut refleksi.
b. Sama dengan di atas, tetapi dengan cara menemukan hubungan antarstruktur, bukan aspek-aspek tertentu, dengan model hubungan yang bersifat dialektika.
c. Menganalisis karya sastra dengan tujuan memperoleh informasi tertentu, dilakukan oleh disiplin tertentu. Model analisis inilah yang pada umumnya menghasilkan penelitian karya sastra sebagai gejala kedua.
 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top