Saturday

Resensi Bekisar Merah karya Ahmad Tohari



     Novel ini mengisahkan seorang perempuan cantik yang bernama Lasi yang berasal dari keluarga miskin di Karangsoga dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai penderas nira. Lasi, seorang gadis yang cantik ternyata merupakan keturunan campuran antara Mbok Wiryaji dengan seorang tentara Jepang yang setelah pernikahannya tidak pernah kembali ke desa dan hilang tidak tentu rimbanya. Menginjak usianya yang ke dua puluh tahun, Mbok Wirayaji menjodohkan Lasiyah anaknya dengan Darsa, yang tidak lain keponakan suaminya. Lasi kini telah menjadi seorang istri penyadap, hampir setiap hari kegiatan hidupnya tidak lepas dari tungku yang digunakannya untuk memasak nira hingga menjadi gula merah.

    Musibah yang sering terjadi di kalangan para penderes nira adalah jatuh dari pohon kelapa. Demikian juga nasib Darsa, Darsa sempat menderita kelainan di sekitar alat reproduksinya, lemah pucuk. Dia pun hanya dirawat oleh seorang dukun bayi, yang bernama Bunek. Lasi dengan setia tetap menemani suaminya meskipun dalam kondisi lemah dan selalu ngompol. Lama-kelamaan pengobatan intensif yang dilakukan Bunek, terutama pada sekitar selangkangan Darsa berdampak cukup baik dan akhirnya bisa pulih kembali. Pada malam “kebangkitan kembali” anuhnya Darsa, Bunek minta agar dicobakan pada Sipah, perawan pincang anak Bunek paling bungsu. Meski mengalami kebimbangan luar biasa karena pergulatan antara nilai-nilai kesetiaan, norma sosial, nafsu berahi, serta utang budi, akhirnya Darsa memenuhi permintaan Bunek. Sipah pada akhirnya minta untuk dikawini. Pengkhianatan Darsa membuat jagat kecil Lasi bergoncang dengan hebat. Berawal dari inilah, Lasi pergi dari desanya dengan menumpang truk pengangkut gula menuju Jakarta.

     Dalam kagalauannya ini, Lasi secara tiba-tiba dihadapkan dengan norma-norma kehidupan kota besar yang amat sangat asing baginya, baik itu pergaulan antara lelaki dan perempuan ataupun hal-hal lainnya. Semenjak di Jakarta, hidupnya kini berubah, jauh dari panasnya api tungku. Dalam kehidupan yang barunya ini, Ia dipertemukan dengan Pak Handerbani, seorang purnawira yang menjadi pejabat (pengusaha), berumur hampir enam puluh lima tahun yang memang mencari istri kesekian dengan kreteria mempunyai wajah seperti orang Jepang. Pak Han sangat tertarik dengan Lasi, karena menurutnya Lasi itu mirip dengan wanita impianya, Haruko Wanibuchi dan pada akhirnya Lasi pun dinikahinya. Kini Ia menjadi bekisar merah yang menghiasi rumah mewah tersebut, menikmati segala kemewahan materi yang tidak pernah terbayangkan oleh bekas seorang isteri penderes nira dari desa Karangsoga. Namun di balik segala kemewahan materi, penderitaan batin Lasi amat berat. Walau perkawinan hanya seperti main-main, tetapi Ia berusaha membayar kemewahan itu dengan kesetian yang begitu besar kepada suaminya. Banyaknya penderitaan batin yang menguluti hatinya, menyebabkan ia merindukan desanya, emaknya, dan teman sepermainannya waktu sekolah yang sekarang sudah menjadi pemuda yang gagah dan sebentar lagi akan menjadi seorang sarjana yang tidak lain adalah kanjat. Pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh lama dalam hidupnya membuat Lasi makin linglung karena berdiri di antara dua nilai kehidupan yang begitu membuatnya pusing sendiri. Dalam kegelapan itu, Lasi ingin Kanjat membebaskan dirinya dari kurungan bekisar di rumah Pak Han. Akan tetapi, Kanjat sibuk sendiri dengan percobaan penelitian yang bertujuan memperbaiki beban hidup para petani gula kelapa. Pada titik ini Lasi berdiri di simpang jalan yang sangat membinggungkan. 

Interpretasi Pembaca terhadap Novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari
     Dari dulu sampai sekarang suatu karya sastra selalu mendapat tanggapan-tanggapan atau resepsi-resepsi pembaca, baik secara perseorangan ataupun secara bersama-sama.  Tanggapan-tanggapan tersebut merupakan cara pembaca untuk memaknai atau menilai suatu karya sastra berdasarkan konsep atau pengertian tertentu mengenai sebuah karya sastra, sehingga dalam mengapresiasikan suatu karya sastra diperlukan adanya hubungan timbal-balik antara teks sastra dengan pembaca. Dalam hal ini, seseorang dengan orang yang lain itu akan berbeda dalam menanggapi sebuah karya sastra, sehingga dalam memahami hubungan teks dengan pembaca diperlukan suatu pemahaman estetika resepsi, baik itu reaksi pembaca dalam konteks yang menyertai ataupun wujud riil yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Oleh karena itu,  pengkajian yang objeknya berhubungan dengan teks dan pembaca merupakan suatu cara menginterpretasikan hubungan timbal-balik antara teks sastra yang didalamnya terdapat seperangkat tanda-tanda verbal yang eksplisit terbatas dan terstuktur (Sayuti, 2008), dengan kemampuan pembaca dalam menanggapi suatu karya sastra berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman seseorang terhadap karya sastra tersebut.
 
     Dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini akan ditelaah persoalan interpenetrasi realitas sosial dan teks sastra dalam hubunganya dengan tanggapan pembaca berdasarkan teori Strukturalisme Praha yang dikemukan oleh Mukarovsky dan Felix Vodicka. Menurut pandangan Mukarovsky, masing-masing karya seni merupakan suatu struktur yang koheren yang bertindak sebagai tanda-tanda yang bersifat kompleks, yakni suatu fakta semiotik yang menjebatani publik (audiens, pendengar, pembaca, dan seterusnya (Sayuti, 2008). Dalam konteks ini, suatu karya sastra diangap sebagai suatu sistem tanda (semiotik), sehingga suatu karya sastra berada dalam tatanan kolektif yang menegaskan hakikat tanda (teks sastra) dan penerima (pembaca).

     Berhubungan dengan hal tersebut, efek estetik karya sastra dalam kehidupan sosial sebagai keseluruhan, begitu juga konkretitasinya akan dipengarui oleh perubahan-perubahan, sehingga kekuatan suatu karya sastra tergantung pada kualitas yang terkandung secara potensial dalam karya sastra itu ( Vodicka via Pradopo, 2010). Kualitas suatu karya sastra bukan hanya dinegasikan melalui fiksionalitas dalam teks tersebut, melainkan hal-hal yang tersembunyi atau hal yang tidak berlangsung dengan cerita atau masalah yang terkandung, namun mempengarui ceritera estetis dalam karya sastra tersebut. Ruang persepsi pembacalah yang akan memecahkan dan akan menginterpretasikan tanda-tanda tersebut berdasarkan teks-teks sastra yang mempengaruinya.

     Penceriteraan Lasi dengan sebutan “Bekisar Merah” merupakan suatu pemberian nama oleh pengarang untuk  membentuk apa yang ingin pengarang sampaikan kepada pembaca. Pembaca dalam hal ini adalah pembaca yang mempunyai kepekaaan dalam memaknai suatu teks sastra dalam hubunganya dengan maksud pengarang dan realitas yang dimaknai dari suatu julukan. “Bekisar merah” merupakan jenis unggas yang dispesiesnya menduduki strata kelas atas dan begitu juga dengan Bekisar Merahnya Ahmad Tohari (Lasiyah). Dalam dunia sosialnya ia dipandang sebagai perempuan yang berbeda dari perempuan lain di Karangsoga, dengan paras cantik, kulit putih, alis, dan mata yang indah menjadikan Lasi memiliki status yang lebih tinggi di mata laki-laki. Bukan hanya di desanya saja, tetapi di kotapun ia diangap sebagai wanita yang menjadi pusat perhatian laki-laki, apalagi semenjak menjadi Istrinya Pak Han. Dalam hidupnya yang mewah itu, ia dijadikan bekisar merah, suatu yang sangat dibanggakan, disayangi, dan ditinggikan diantara unggas-unggas yang lain oleh Pak Han.

     Dalam Bekisar Merah ini, perpaduan antara cinta, politik, kehidupan sosial, dan pergolokan psikologis merupakan daya tarik tersendiri. Hubungan yang dipadukan Tohari tersebutlah yang menjadikan novel Bekisar Merah ini menjadi novel yang membuat pembaca bertanya-tanya tentang bagian tertentu yang menarik, namun masih membutukan pemecahan dan pemahaman dan disinah tugas kita sebagai pembaca. Berbagai hal yang menarik dalam teks sastra (Bekisar Merah) tersebut merupakan perpaduan rona sastra dengan aspek sosial-budaya serta kode-kode atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikan, hubungan teks sastra dan pembaca dalam menginpretasikan novel Bekisar Merah ini memegang peranan yang penting terhadap kepekaan pembaca dalam mengapresiasikan suatu nilai sastra.

       “Lasi tak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba suansana berubah. Darsah memandang Lasi dengan mata berkilat. Keduanya beradu senyum  lagi. Darsa selalu berdebar bila menatap bola mata istrinya yang hitam pekat. Seperti kulitnya, mata Lasi juga khas; berkelopak tebal, tanpa garis lipatan. Orang sekampung mengatakan mata Lasi kaput. Alisnya kuat dan agak naik pada kedua ujungnya. Seperti Cina. Mungkin Darsa ingin berkata sesuatu. Tetapi lasi yang merasa dingin masuk kebilik tidur hendak me ngambil kebaya. Dan Darsa mengikutinya, lalu mengunci pindu dari dalam. Keduanya tak keluar lagi. Ada seekor katak jantan menyusup kesela dinding bambu, keluar melompat-lompat menempuh hujan dan bergabung dengan betina dikubangan mengenang. Pasangan kodok bertunggangan dan kawin dalam air sambil terus mengeluarkan suaranya yang serat dan berat. (Hal. 11).
  
     Dari kutipan tersebut pembaca akan merasakan suatu sentuhan  keindahan terhadap bentuk biologis seorang Lasi. Penceriteraan yang begitu mempesona tentang kecantiakan Lasi memberikan interpretasi sendiri kepada pembaca untuk mendeskripsikan sosok Lasi itu seperti apa. Bayangkan saja, suaminya sendiri (Darsa) begitu terpukau akan keindahan mata dan bentuk fisik lainnya yang dimiliki Lasi, apalagi kita (pembaca). Kodok yang diceriterakan Tohari  digambarkan melihat apa yang dilakukan Darsa dan Lasi di dalam bilik tersebut, seakan-akan ikutan berhasrat membayangkan keindahan tubuh Lasiyah yang akhirnya dia juga ikut-ikutan melakukan dengan lawan jenisnya.

     Mukarovsky, seorang ahli dalam bidang ini mengemukakan bahwa  pengalaman estetik yang diinterpretasiakan pembaca justru ditentukan oleh tegangan antara struktur karya sastra sebagai tanda dan subjetivitas pembaca, yang bukan subjectivitas mutlak, tetapi subjetivitas yang tergantung pada lingkungan sosial dan kedudukan sejarah penangkap. Lebih lanjut dikatakan, dasar estetika sastra dalam model semiotik merupakan hubungan dinamik dan tegangan terus-menerus  antara pencipta, karya, pembaca, dan kenyataan (Sugihastuti, 2009). Oleh karena itu, subjek penerima bukan merupakan suatu yang abstrak dan penerima yang ideal yang akrab sekali dengan suatu latar belakang keadaan sosial (sejarah), melainkan penerima yang lebih merupakan dirinya sendiri sebagai produk hubungan sosial (Sayuti, 2008).

     Kecantikan  gadis jepang itu, yang sering muncul mendampingi Pemimpin Besar dengan kain kebaya Jawa, konon mampu membikin oleng hati orang banyak. Dan karena Pemimpin Besar adalah patron, dari kalangan yang sangat terbatas pula muncul beberapa pemimpin kecil mengikuti langkanya, mencari istri baru dari Jepang atau yang mirip dengan itu, Cina. Apabila mereka tidak berhasil menjadikan gadis-gadis Jepang itu istri yang sah, apa salahnya sekadar gundik. Yang penting meniru langkah Pemimpin Besar dijamin tidak mungkin keluar dari rel revolusi, suatu ungkapan dan slogan politis yang sangat dipopulerkan oleh Pimpinan Besar sendiri. (Hal. 138).

   Kutipan tersebut memberikan suatu pemahaman (walau bersifat tanda) kepada pembaca tentang pandangan politik yang dilakukan Presiden kita terdahulu, Sukarno untuk memperkuat wibawa atau kekuasaanya. Orang nomor satu di Indonesia (Presiden) pada waktu itu selalu dijadikan patron atau panutan para bawahanya yang pada waktu itu memang banyak yang ingin mengikuti jejaknya dengan memiliki banyak istri terutama keinginanya untuk memiliki istri kesekian yang berdarah Jepang. Hal ini merupakan suatu nilai yang dibutuhkan pemahaman pembaca dalam mengetahui suatu sejarah dalam karya sastra melalui kata-kata yang tersembunyi atau yang tidak berlangsung dengan cerita (tidak mempengarui cerita). Pemahaman dalam hal ini merupakan suatu penjelasan teks yang konkret berdasarkan era-era tertentu yang melatarbelakangi teks ini, sehingga wajar jika keinginanan pemimpin-pemimpin kecil (termasuk Pak Handerbeni) untuk memperistri orang Jepang (walau hanya mendapat keturunan) sangat dipengarui oleh objek figuran di zamannya.

   Pemahaman terhadap norma artistik antara dimensi sosiologis menurut pandangan Mukarovsky dapat kita cermati pada kutipan berikut:

  Lasi dapat mengira-ngira siapa si Anting Besar, si Betis Kecil, serta ketiga temannya; tentu perempuan jajanan semacam pacar Pardi yang ada pada setiap warung yang disinggahinya. Sepanjang pengetahuannya perempuan seperti itu tidak ada di Karangsoga. Tetapi Lasi sering mendengar ceritanya dan kini Lasi melihat sendiri sosok mereka, bahkan berada di antara mereka. “Dan, apakah Bu Koneng seperti dibilang banyak orang, adalah mucikari dan menyamar sebagai pengusaha warung makanan?” (Hal. 94).

     Dalam kutipan ini dijelaskan bahwa isi suatu karya sastra dalam hubungannya dengan aspek sosialis merupakan suatu dialektika dalam memahami dua hal yang bertentangan. Lasi yang belum terbiasa dengan kehidupan barunya ini seakan-akan tidak begitu kaget dengan kehidupan orang orang didekatnya. Dalam pandangan Mukarovsky kesadaran kolektif terhadap perbedaan dan pertentangan norma merupakan hal yang biasa. Posisi pembaca disini berperan sebagai penerima dan penerjemah akan hal-hal yang terdapat dalam teks, karena pembaca dalam konteks ini diposisikan sebagai suatu yang otonom, sautu yang tidak dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan dalam mempersepsikan suatu masalah. Oleh karena itu, hubungan pembaca terhadap teks sastra (Bekisar Merah) dalam hal ini bukan hanya sekedar memahami teks secara kesat mata, tetapi pembaca disini juga harus memahami teks tersebut dalam konteks sosial yang melatar belakanginya.

      Perubahan  antara norma sosial dengan masalah dan keadaan yang dialami Lasi sebelum menjadi istri Pak Han, kemudian dipertemukan kembali dengan keadaan baru yang mempengarui norma dalam konteks kelas sosial dan perubahan sosial ekstra estetis setelah lasi menjadi istri Pak Han. Keterkaitan antara teks yang di atas dengan pengalamnnya barunya yang telah menjadi istri Pak Han dapat dihubungan dengan kutipan berikut:

      “Hari ini pertama menjadi Nyonya Handerbeni adalah pembelajaran ayng harus diikuti oleh Lasi, terutama tentang hubungan suami-istri atau bahkan hubungan lelaki-perempuan dengan cara yang baru.... “Diwarung Bu Koneng Lasi mendapat pelajaran lebih banyak. Di sana Lasi mendapat pengetahuan baru bahwa perintiman antara lelaki dan perempuan tak dibungkus dengan berbagai aturan. Gampang, murah....”.

“Las, ini bukan Karangsoga,” demikian Bu Lanting perna bilang.

       Dari kutipan tersebut akan ditemukan titik temu hubungan timbal-balik antara bagian teks sastra satu dengan bagian teks sastra dua yang mempunyai hubungan kausatif terhadap perubahan-perubahan sosial. Dalam konteks ini, pembaca akan menangkap suatu orientasi baru tentang kehidupan yang telah terjadi mungkin saja akan mempengarui kehidupan berikutnya, seperti apa yang telah dialami Lasi. Dengan demikian, apa yang memberikan peluang bagi pembaca dalam mendefinisikan sesuatu teks sastra, merupakan suatu pemahaman baru dalam mendukung fungsi estetika terhadap teks verbal. 

Daftar Pustaka

Pradopo, R. D. 2010. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Sayuti, S. A. 2008. Teks Sastra: Komunikasi dan Resepsi. Fakultas Bahas dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.

Sugihastuti. 2009. Rona Bahasa dan Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.Tohari, Ahmad. Bekisar Merah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
   
Comments
0 Comments
 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top