Saturday

Prinsip Kesopanan - Maksim dan Penyimpangannya



Prinsip Kesopanan

1.      Konsep Prinsip Kesopanan
Leech (viaRahardi, 2008: 59-66) membagi prinsip kesopanan menjadi enam maksim, yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan, maksim penerimaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian. Prinsip kesopanan ini melibatkan dua perserta percakapan yaitu diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri adalah penutur, orang lain adalah lawan tutur, dan orang ketiga yang dibicarakan penutur dan lawan tutur.
a.      Maksim Kebijaksanaan
Rahardi (2008: 60) menyatakan bahwa orang bertutur yang berpegang dan melaksanakan maksim kebijaksanaan dapat dikatakan sebagai orang santun. Apabila di dalam bertutur orang berpegang teguh pada maksim ini, maka dapat menghindarkan diri dari sikap dengki, iri hati, dan sikap-sikap lain yang kurang santun terhadap lawan tutur. Demikian pula, perasaan sakit hati sebagai akibat dari perlakuan yang tidak menguntungkan pihak lain akan dapat diminimalkan apabila maksim ini dipegang teguh dan dilaksanakan dalam kegiatan bertutur.
b.      Maksim Kemurahan
Maksim kemurahan mengharuskan seseorang untuk meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. Maksim kemurahan  seperti halnya maksim kebijaksanaan yang diungkapkan dengan tuturan komisif dan imposif. Bedanya, maksim kemurahan berpusat pada orang lain.  Rahardi (2008: 62) menyatakan bahwa gotong royong dan kerja sama untuk membuat bangunan rumah, gorong-gorong, dan semacamnya dapat dianggap sebagai realisasi maksim kemurahan dalam hidup bermasyarakat. Orang yang tidak suka membantu orang lain, apalagi tidak pernah bekerja b.  Maksim Kemurahan Maksim kemurahan mengharuskan seseorang untuk meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. Maksim kemurahan  seperti halnya maksim kebijaksanaan yang diungkapkan dengan tuturan komisif dan imposif. Bedanya, maksim kemurahan berpusat pada orang lain.  Rahardi (2008: 62) menyatakan bahwa gotong royong dan kerja sama untuk membuat bangunan rumah, gorong-gorong, dan semacamnya dapat dianggap sebagai realisasi maksim kemurahan dalam hidup bermasyarakat. Orang yang tidak suka membantu orang lain, apalagi tidak pernah bekerja bersama dengan orang lain, akan dapat dikatakan tidak sopan dan biasanya tidak akan mendapatkan banyak teman di dalam pergaulan keseharian hidupnya.
c.       Maksim Penerimaan
Maksim ini diungkapkan dengan tuturan ekspresif dan asertif. Maksim ini mewajibkan setiap peserta tindak tutur untuk memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri dan meminimalkan keuntungan diri sendiri. Tuturan ekspresif digunakan untuk mengungkapkan sikap psikologis pembicara terhadap sesuatu keadaan (seperti ucapan terima kasih, selamat, permintaan maaf, penghormatan, bela sungkawa, dan sebagainya). Tuturan asertif digunakan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan (seperti menyatakan pendapat, saran, pengaduan, dan sebagainya). Dengan penggunaan tuturan ekspresif dan asertif ini jelas bahwa tidak hanya dalam menyuruh dan menawarkan sesuatu seseorang harus berlaku sopan, tetapi di dalam mengungkapkan perasaan dan menyatakan pendapat tetap diwajibkan berperilaku demikian. Maksim ini juga menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa hormat kepada orang lain dan meminimalkan rasa tidak hormat kepada orang lain.
d.      Maksim Kerendahan Hati
Maksim ini diungkapkan dengan kalimat ekspresif dan asertif. Bila maksim kemurahan berpusat pada orang lain, maksim kerendahan hati berpusat pada diri sendiri. Maksim ini menuntut setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri.Lebih lanjut Rahardi (2008: 64) menyatakan bahwa di dalam maksim kerendahan hati, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Orang akan dikatakan sombong dan congkak hati apabila di dalam kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri. Dalam masyarakat bahasa dan budaya Indonesia, kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan seseorang.
e.       Maksim Kecocokan
Setiap penutur dan lawan tutur dituntut untuk memaksimalkan kecocokan di antara mereka dan meminimalkan ketidakcocokan di antara mereka. Dalam hal ini, tidak berarti orang harus senantiasa setuju dengan pendapat atau pernyataan lawan tuturnya. Bila penutur tidak menyetujui apa yang dinyatakan oleh lawan tuturnya, penutur dapat membuat pernyataan yang mengandung ketidaksetujuan atau ketidakcocokan dengan menyatakan penyesalan atau kecocokan partial. Kecocokan partial adalah kecocokan yang diikuti oleh ketidaksetujuan parsial yang mengimplikasikan tidak cocoknya lawan tutur terhadap pernyataan penutur. Rahardi (2008: 64-65) menyatakan bahwa apabila terdapat kecocokan antara diri penutur dan lawan tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka akan dapat dikatakan bersikap sopan. Kalau mencermati orang bertutur pada sekarang ini, sering kali didapatkan bahwa dalam memperhatikan dan menanggapi penutur, lawan tutur menggunakan anggukan-anggukan tanda setuju, acungan jempol tanda setuju, wajah tanpa kerutan pada dahi tanda setuju, dan beberapa hal lain yang sifatnya paralinguistik kinesik untuk menyatakan maksud tertentu.
f.       Maksim Kesimpatian
Maksim kesimpatian mengharuskan setiap peserta pertuturan untuk memaksimalkan rasa simpati dan meminimalkan rasa antipati  kepada lawan tuturnya. Jika lawan tutur mendapatkan kesuksesan atau kebahagiaan, penutur wajib memberikan ucapan selamat. Bila lawan tutur mendapatkan kesusahan atau musibah, penutur layak turut berduka atau mengutarakan ucapan bela sungkawa sebagai tanda kesimpatian. Rahardi (2008: 65) menyatakan bahwa sikap antipati terhadap salah seorang peserta tutur akan dianggap sebagai tindakan tidak santun. Masyarakat tutur Indonesia, sangat menjunjung tinggi rasa kesimpatian terhadap orang lain ini di dalam komunikasi kesehariannya. Orang yang bersikap antipati terhadap orang lain, apalagi sampai bersikap sinis terhadap pihak lain, akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun di dalam masyarakat. Kesimpatian terhadap pihak lain sering ditunjukkan dengan senyuman, anggukan, gandengan tangan, dan sebagainya.
2.      Penyimpangan Prinsip Kesopanan
Wijana (2004:  96) menyatakan bahwa  selain kepatuhan terhadap prinsip kerja sama, berbicara secara kooperatif juga menuntut dipatuhinya maksim kesopanan.  Maksim kesopanan secara umum mengatur cara-cara penutur berinteraksi dalam upaya menghargai atau menghormati lawan tuturnya.  Ada beberapa maksim yang harus dipatuhi penutur yakni maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan, maksim penerimaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian.  Penjelasan di bawah ini secara berturut- turut akan menguraikan penyimpangan wacana humor terhadap maksim-maksim kesopanan tersebut.
a.      Penyimpangan Maksim Kebijaksanaan
Wijana (2004: 96-97) menyatakan bahwa maksim kebijaksanaan menggariskan agar penutur meminimalkan kerugian orang lain atau memaksimalkan keuntungan orang lain. Di dalam wacana humor sering terlihat tuturan yang bertujuan merugikan orang lain.
b.      Penyimpangan Maksim Kemurahan
Wijana (2004: 98-99) menyatakan bahwa maksim kemurahan menggariskan penutur untuk memaksimalkan kerugian dan meminimalkan keuntungan diri sendiri.  Dalam wacana humor, penyimpangan ini dilakukan dengan cara penutur memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian diri pribadinya.
c.       Penyimpangan Maksim Penerimaan
Wijana (2004: 99-100) menyatakan bahwa maksim penerimaan mengharuskan penutur memaksimalkan penghormatan dan meminimalkan ketidakhormatan pada orang lain. Maksim ini mewajibkan penutur untuk menghindari mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan menganai orang lain, terutama lawan tuturnya.  Dalam usaha menyimpangkan maksim ini, penutur memaksimalkan ketidakhormatan terhadap orang lain.
d.      Penyimpangan Maksim Kerendahan Hati
Wijana (2004: 101-102) menyatakan bahwa untuk menjaga atau mempertahankan hubungan baik  dengan lawan tuturnya,  penutur selayaknya pandai menempatkan diri baik dalam perilaku maupun tutur katanya.  Seorang yang tahu sopan santun biasanya tidak mengagungkan kemampuan yang dimilikinya. Mengagung-agungkan atau menonjolkan kemampuan, prestasi, atau harta milik, dsb., bila tidak dianggap perlu di depan lawan tutur identik dengan kesombongan yang tentu saja bertentangan dengan prinsip kesopanan yang harus ditaati. Wacana humor sering kali menampilkan wacana yang menyimpangkan maksim kerendahan hati ini.
e.       Penyimpangan Maksim Kecocokan
Wijana (2004: 104-105) menyatakan bahwa selain kebijaksanaan, ketinggian hati, ketidakhormatan, dsb., yang dapat menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antara penutur dan lawan tutur, ketidakcocokan yang dikemukakan secara tidak bijak dapat pula mengakibatkan hal yang serupa.imbas
   
Comments
0 Comments

Terimakasih sudah berkunjung, jangan lupa bagikan artikel diatas kepada orang-orang disekitar. Jangan ragu-ragu tinggalkan komentar dibawah. Kesan & pesan dari teman-teman adalah motivasi kami untuk selalu berkarya :)

 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top