Saturday

Filologi

Pengertian dan Konsep penelitian Filologi 

Secara etimologis, filologi berasal dari kata Yunani philos yang konsep maknanya hampir sama dengan kata “cinta” dalam bahasa Indonesia dan kata logos (Yunani) yang konsep maknanya hampir sama dengan “kata” dalam bahasa Indonesia. Dari dua pengertian kata tersebut filologi bermakna “Cinta kata” atau “senang bertutur”. Perkembangan makna filologi selanjutnya menjadi “senang belajar” “senang ilmu” “senang kesusastraan”atau “senang kebudayaan”. Dari pengertian secara etimologis di atas, setidaknya ada tiga kata kunci yang dapat dijadikan pegangan untuk dikembangkan menjadi definisi, yaitu senang, kesusastraan, dan kebudayaan.
Untuk membangun definisi filologi secara komprehensif maka perlu dilakukan penelusuran terhadap unsur-unsur penelitian filologi yang secara paradigmatis selalu muncul dalam sepanjang sejarah penggunaan ilmu tersebut dari waktu ke waktu. Unsur-unsur penelitian filologi tersebut meliputi fokus, subjek, dan objek penelitian. Jika memungkinkan juga melihat metode penelitian yang digunakan. Penelusuran secara historis dimaksudkan untuk memehami dan menjelaskan setiap transformasi yang terjadi pada unsur-unsur tersebut.     
            Filologi sebagai ilmu sebetulnya mempunyi sejarah yang panjang. Ilmu ini untuk pertama kalinya muncul sejak abad ke-3 Sebelum Masehi di Eropa baik itu di Romawi Barat, Romawi Timur maupun Iskandariyah. Kemudian berkembang pada Abad ke-13 Masehi sampai abad ke 17 Masehi dan mengalami transformasi yang cukup signifikan pada abad ke-20 Masehi terutama yang terjadi di Eropa atau tepatnya di Wilayah Anglo-sakson. Di samping itu, ilmu ini juga menyebar ke Timur Tengah pada abad ke-4 Masehi dan berkembang sampai pada abad ke sembilan Masehi, yaitu pada waktu pemerintahan Islam Daulah Abasiyah yang berpusat di Bagdad.   Pada Abad ke-15 sampai dengan abad ke 20 Masehi sejalan dengan munculnya bangsa Eropa ke Wilayah Timur, ilmu ini juga masuk ke India dan beberapa daerah di wilayah Nusantara.
            Meskipun telah mengalami perubahan atau perkembangan yang cukup lama namun ilmu tersebut tatap memiliki karakteristik yang tidak berubah. Karakteristik tersebut terlihat pada objek, subjek, dan fokus kajian yang dilakukan oleh para filolog sejak ilmu ini pertama kali dikenal orang sampai sekarang.
            Pada waktu pertamakali penelitian filologi ini dilakukan, yaitu pada abad ke 3 SM kerja seorang filolog ialah membaca dan menyalin naskah Yunani yang ditulis pada abad ke-8 SM di daun papirus dalam bahasa Funisia. Pada umumnya teks tersebut berisi berbagai ilmu pengetahuan seperti filsafat, kedokteran, perbintangan, ilmu sastra & karya sastra, ilmu hukum, dsb. Mereka melakukan pekerjaan tersebut untuk keperluan  penggalian ilmu pengetahuan Yunani lama & perdagangan naskah. Agar hasil pekerjaannya tersebut layak jual mereka melakukan perbaikan huruf, ejaan, bahasa, tatatulis kemudian menyalinnya dalam keadaan yang mudah dibaca serta bersih dari kesalahan. Demikian yang dilakukan para filolog pada abad ke-3 Masehi di Aleksandria.
            Pada Abad yang sama, di Romawi Barat para filolog membaca dan menyalin naskah berbahasa Latin yang berisi puisi dan prosa yang telah diteliti secara filologis sejak abad ke-3 S M. Perbedaannya dengan para filolog di Aleksandria ialah terletak pada fokus perhatian mereka. Kalau di Aleksandria para filololog hampir memperhatikan berbagai ilmu pengetahuan, di Romawi barat mereka hanya memfokuskan pada naskah keagamaan terutama sejak terjadi kristenisasi di Eropa. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pembacaan dan penyalinan naskah pada kulit binatang domba yang disebut “perkamen” (Belanda) “parchment” (Inggris). Perbedaan lainnya ialah pada cara penulisan yang telah menggunakan nomor halaman dalam bentuk buku (codex).
           Perbedaan yang cukup signifikan dilakukan oleh para filolog Romawi Timur. Jika para filolog di Eropa atau Romawi Barat mereka hanya membaca dan menyalin naskah maka para filolog di Romawi Timur menambah kegiatan mereka dengan menafsirkan isi naskah. Penafsiran mereka dinamakan scholia, yaitu penafsiran yang ditulis pada setiap halaman berupa tulisan lain yang membicarakan masalah yang sama yang ada dalam naskah.
Pada abad ke-5 M di Timur Tengah tepatnya di Jundi Syapur, Pusat Studi ilmu Filsafat dan ilmu kedokteran, para filolog melakukan penerjemahan teks Yunani ke dalam bahasa Syria kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab. Kegiatan serupa juga terjadi di Herra (Hirah), yaitu menerjemahkan teks yang berisi tulisan Plato, Ptolomeus, dan Galen   ke dalam bahasa Syiria dan Arab. Di Bagdad Abad ke-8 s/d ke-9 Masehi para filolog Dinasti Abasiyah di samping melakukan penerjemahan teks Yunani dan Parsi ke dalam bahasa Arab juga melakukan penelaahan dan studi kandungan teks yang berisi ilmu pengetahuan seperti geometri, astronomi, teknik, dan musik. Di samping itu mereka juga mengiventarisir naskah yang ditemukan. Metodologi yang digunakan ialah kritik teks yaitu dengan memberikan kritik terhadap adanya korupsi dan penerjemahan yang kurang tepat. Penerjemahan juga dilakukan oleh para filolog di Cambridge dan Oxford pada abad ke-17 M dengan melakukan penerjemahan terhadap teks  Arab, Parsi, Turki, Ibrani, dan Siria ke dalam bahasa Inggris. Teks-teks yang mereka teliti berisi berbagai ilmu pengetahuan dan kesusastraan. Pada Abad ke-13 M dapat dikatakan sebagai puncak perkembangan filologi. Di Italia para filolog di samping membaca dan menyalin juga merunut sejarah suatu teks. Untuk kegiatan tersebut mereka telah menggunakan metode kritik teks dalam merunut sejarahnya. Isi teks yang dikerjakannya meskipun terfokus pada masalah humaniora namun cukup beragam, yaitu mulai dari masalah keagamaan, filsafat, ilmu hukum, sejarah, ilmu bahasa, kesastraan, sampai masalah kesenian.
      Pada Abad ke-15 di daratan Eropa terjadi revolusi dalam penyalinan naskah, yaitu dengan ditemukannya mesin cetak. Penemuan ini akan memberi warna tersendiri terutama dalam kegiatan penyalinan naskah,  yaitu yang berupa perbanyakan naskah. Naskah yang telah diteliti dan disunting dengan memperkecil kesalahan atau mengusahakan naskah sesuai dengan teks aslinya kemudian diperbanyak dengan menggunakan mesin cetak. Dalam praktiknya, banyak naskah sebuah teks  yang disunting dengan memasukkan semua unsur yang baik yang terdapat dalam berbagai naskah yang dijumpai sehingga terjadilah naskah baru yang berupa naskah hibrid karena tidak diketahui lagi ciri-ciri setiap naskah yang diperbandingkan. Hal ini terjadi karena filolog tidak memberikan kritik teks terhadap setiap perbedaan yang terjadi pada setiap naskah.
      Di samping terjadinya peristiwa seperti di atas pencarian daerah baru yang terjadi di negara-negara Eropa memunculkan daerah koloni baru. Kondisi ini menodorong pemerintah untuk membebani para filolog agar dapat melakukan penelitian teks untuk memahami kebudayaan masyarakat yang berada di daerah-daerah jajahan demi kepentingan penjajahan atau pemerintah kolonial. Para filolog kemudian melakukan penelitian bahasa teks, penerjemahan, penelaahan, dan pemahaman terhadap ilmu pengetahuan yang berasal dari India dan Nusantara.
       Sejarah penelitian filologi di atas menunjukkan bahwa objek penelitian filologi sejak pertamakali hingga sekarang tetap tidak berubah, yaitu teks atau naskah. Berbeda dengan objek penelitiannya,  subjek penelitian filologi secara struktural mengalami transformasi sejalan dengan perkembangan atau tuntutan zaman, yaitu mulai dari berbagai macam ilmu pengetahuan,  masalah keagamaan, sampai pada semua aspek kebudayaan untuk kepentingan penjajahan. Demikian juga yang terjadi pada fokus penelitiannya, yaitu mulai dari pembetulan kesalahan, penyalinan, penafsiran, sampai pada kegiatan penerjemahan.

Definisi Filologi

Berdasarkan tiga kata kunci pengertian filologi secara etimologis serta sejarah penelitian filologi di atas dapat dibangun definisi filologi sebagai berikut. Filologi adalah ilmu yang membahas cara penelitian teks untuk dapat menarik pemahaman nilai-nilai kebudayaan yang ada di dalam teks tersebut baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Tujuan Filologi

             Setiap kegiatan yang terstruktur dan terarah haruslah memiliki tujuan yang jelas. Filologi sebagai ilmu yang yang berkarakteristis praktis, yaitu melakukan kerja penelitian terhadap teks memiliki tujuan yang bermacam-macam sesuai dengan tuntutan pragmatisnya.  Meskipun demikian, filologi juga memiliki tujuan yang secara inheren merupakan tuntutan dari dalam ilmu itu sendiri. Tujuan tersebut berupa tujuan yang bersifat umum dan tujuan yang bersifat khusus.

Demikian Pembahasan kami, semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Salam kami ilmu bahasa
 
❤ Tentang ☎ Hubungi Kami ✿ Daftar Isi ▲ Disclaimer ♛ Kebijakan Privasi
Back To Top